26 Tahun Tragedi Khojali, Dari Khojali untuk Perdamaian Dunia

Hari ini, 26 Februari, 26 tahun yang lalu. Mungkin itulah kali terakhir para penduduk Khojali, salah satu daerah di Nagarno-Karabakh, Azerbaijan dapat tidur dengan nyenyak. Mereka berharap salju yang turun dapat menjadi pengantar dongeng yang indah bagi mereka sebelum berpetualang ke dunia mimpi. Namun nyatanya justru kelam yang didapat. Musim dingin saat itu seketika menjadi musim dingin paling menyeramkan sepanjang sejarah Azerbaijan. Jeritan, air mata, tangisan, kesedihan bahkan darah menyeruak dimana-mana. Satu fakta buruk telah terjadi: Khojali sedang dihabisi secara buas!
613 warga Khojali tewas dalam tragedi ini (dok. azernews.az)
Keserakahan dan keegoisan manusia menjadi aktor utama di balik tragedi ini. Mereka merasuki pihak Armenia dan membuatnya kehilangan jiwa kemanusiaan. Banyaknya penduduk etnik Armenia yang mendiami Khojali membuat Armenia membuat pengakuan sepihak. Pada 10 Desember 1991 mereka memproklamasikan kemerdekaan Nagorno-Karabakh dari Azerbaijan karena merasa daerah itu adalah milik mereka. Namun dunia tak mengiyakannya. Khojali tetap milik Azerbaijan. Sejak itu bara api mulai terbakar. Puncaknya, militer Armenia dibantu oleh Regimen Rusia ke-366 meluluhlantahkan Khojali, Azerbaijan pada 26 Februari 1992. Khojali yang didiami oleh tiga ribu muslim etnik Azeri pun bermandikan darah. Berbagai bangunan mulai dari rumah, rumah sakit, sekolah bahkan masjid  hancur dan hanya menjadi puing-puing. Lebih dari 600 warga, mulai dari lansia, wanita dan bahkan anak-anak meregang nyawa.

Melihat hal ini membuat saya sedih. Saya tak habis pikir dengan militer Armenia yang saat itu dengan tega menyerang Khojali secara brutal. Dimana hati nurani mereka? Apa mereka tidak punya setitik cinta? Jangankan melihat manusia diserang oleh berbagai senjata, melihat hewan disembelih pun saya kasar pun saya tidak sanggup. Sebuah kenyataan pahit yang harus kita hadapi secara bersama bahwa luka itu menyeruak dimana-mana. Di Myanmar, Palestina, Indonesia dan Suriah. Pun di Azerbaijan. 

 (dok. aeromars.deviantart.com)
Keadilan masih menjadi PR besar dari tragedi kemanusiaan Khojali. Untuk itulah berbagai upaya dilakukan. Pada 8 Mei 2008, Leyla Aliyeva, Koordinator Pusat Forum Pemuda Islam untuk Dialog dan Kerjasama mengadakan kampanye lewat sebuah forum dengan motto "Keadilan untuk Khojali, Kemerdekaan untuk Karabakh." Tujuannya adalah agar masyarakat dunia turut peduli dalam tragedi kemanusiaan Khojali dan terputuskannya agresi militer Armenia di Nagorno Karabakh. Aksi ini juga dilakukan dalam rangka menyuarakan suara para korban. Sebagai tindak lanjut dari kampanye yang dilakukannya, Leyla meluncurkan situs resmi bernama www.justiceforkhojaliorg. Situs ini berisikan tentang deklarasi perdamaian untuk mewujudkan Nagorno Karabakh yang damai di bawah para pemimpin dunia.

Tampilan website Justice for Khojali (dok. www.justiceforkhojaly.org)
Leyla tak seorang diri. Solidaritas untuk menegakkan keadilan pada Khojali juga dilakukan oleh WAMY (World Assembly of Muslim Youth). Pada 21 Februari 2018 mereka menggelar  misi internasional bertajuk "al-Adalah li Khujali" (Keadilan untuk Muslim Khujali) di Istanbul, Turki. Salah satu rangkaian kegiatan tersebut adalah pameran fotografi bertemakan "Khujali dalam Optik Pemuda Muslim" (21-26 Februari 2018). Pameran ini bukan kali pertama diadakan, melainkan merupakan kelanjutan dari pameran fotografi serupa yang pernah diselenggarakan di Baku, Azerbaijan pada Mei 2017.


Tragedi Khojali memang telah berlalu 26 tahun lalu namun rasa sakitnya tetap membekas sampai sekarang. Bahkan 26 tahun sejak insiden itu terjadi, konflik antardua negara masih belum mencapai garis finish. Armenia masih menduduki sebagian wilayah Azerbaijan. Kendati dewan HAM internasional telah memutuskan bahwa Armenia bersalah, pembantaian itu seakan terlupakan. Masih banyak orang yang belum mengetahui genosida yang terjadi seperempat abad silam.

Peringatan 26 Tahun
Prinsip "Jasmerah" alias Jangan Melupakan Sejarah tak hanya dilakukan oleh Soekarno saja namun juga oleh pihak Kedutaan Besar Azerbaijan untuk Indonesia. Dalam rangka memperingati 26 tahun tragedi Khojaly, Kedubes Azerbaijan yang diwakili oleh Ruslan Nasibov mengadakan kegiatan doa bersama. Kegiatan ini dilaksanakan di sela-sela Kajian Islam Bulanan yang dilakukan oleh Ustad Yusuf Mansur pada Minggu, 25 Februari 2018 di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Ruslan Nasibov, perwakilan Kedubes Azerbaijan dan Yusuf Mansur dalam peringatan 26 tahun tragedi Khojali (dokpri)
Mula-mula sebuah video tentang tragedi khojali ditampilkan. Dalam video itu tampak narasi tentang bagaimana terjadinya tragedi Khojali. Pikiran saya seketika melanglangbuana menembus dimensi waktu 26 tahun lalu di Khojali, Azerbaijan. Ngeri rasanya membayangkan suasana mencekam kala itu. Tak lama setelah pemutaran video dan penjelasan singkat tentang tragedi Khojali, Ustad Yusuf Mansur mengajak para hadirin untuk berdoa demi Khojali. Para hadirin pun memanjatkan doa secara khidmat.

Sebenarnya peringatan itu bukanlah semata untuk menyingkap apa yang terjadi di Khojali pada 26 Februari 1992 apalagi sekadar membuka luka lama. Akan tetapi, ada makna yang lebih dalam daripada itu. Peringatan 26 tahun tragedi Khojali sejatinya adalah momen bagi seluruh warga dunia untuk menyadari bahwa tidak ada keuntungan sama sekali dari sebuah pembantaian dan mengutuk keras tindakan tersebut. Genosida, atas dasar apapun selalu menimbulkan korban. Tak semata korban secara fisik namun juga mental.
Ruslan Nasibov saat bersalaman dengan Yusuf Mansur (dok. Agung Han)
Bagi saya tragedi Khojali adalah pembelajaran bagi siapapun untuk bersikap lebih menghargai orang lain. Jangan mau dirasuki oleh setan hanya karena keserakahan dan ego semata. Setiap manusia berhak menjalani kehidupannya masing-masing dengan baik. Jika semua orang di seluruh dunia meyakini bahwa nyawa itu berharga, saya percaya bahwa tragedi kemanusiaan seperti Khojali, Palestina, Suriah, Myanmar dan sebagainya tidak lagi terjadi. Sebab setiap manusia akan sadar bahwa jika dicubit itu sakit, maka mereka tidak akan mencubit orang lain karena tahu bagaimana rasanya. Semoga seiring berjalannya waktu masalah antara Azerbaijan dan Armenia segera selesai dan damai, keadilan dapat ditegakkan dan yang terpenting damai senantiasa menyelimuti dunia.(*)

Khojali tak sendiri. Orang Indonesia juga turut mendukung keadilan di Khojali (dok. Agung Han)

Komentar

  1. Semoga dengan memperingatinya, penduduk dunia bisa belajar dr masa lalu dan menjadikan bumi sbg tempat yg damai tak berkesudahan. amiieen!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Semoga manusia gak lagi egois dan serakah ya dan sadar bahwa tujuan hidup adalah saling menyayangi dan mengasihi, bukan memusuhi.

      Hapus
  2. Sedih banget Kalau denger berita peperangan...pasti korbannya masyarakat sipil terutama ibu dan anak anak..Semoga cukup sekali aja ya dan Semoga lekas berdamai antara Armenia dan Azerbaijan...amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg Khojali bukan peperangan kok ka tapi lebih ke genosida/pembantaiam karena tidak ada aksi balasan serangan dr Azerbaijan ke Armenia. Semoga dunia senantiasa damai ya. Damai itu indah.

      Hapus
  3. Jasmerah, kata kunci yang menarik dan selalu aktual..makasih bro udah berbagi kisah ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget Mas Charles. Seburuk apapun sejarah ttp hrs diingat.

      Hapus
  4. Suka sedih kalau mengingat tentang tragedi ini.... suriah, myanmar, palestina ah semuanya... semoga saja keadilan bisa segera ditegakkan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Cepat atau lambat kebenaran akan selalu menang mbak :)

      Hapus
  5. Kejahatan kemanusiaan itu meninggalkan luka selamanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget mbak. Apapun alasannya, kejahatan itu enggak pernah dibenarkan.

      Hapus
  6. Ternyata begini ceritanya ya, baru tahu :(

    BalasHapus
  7. nice post. Sejarah yg belum saya ketahui sebelumnya :)👌 thks ya

    BalasHapus
  8. Duh sedih ya kak, di dunia ini masih banyak konflik perebutan wilayah, yang ini aku baru tahu. Aamiin semoga ada jalan keluar yang baik antara kedua belah pihak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sedih banget. Suka heran deh sama mereka. Enggak punya hati apa ya sampai mengabaikan sisi-sisi kemanusiaan :(

      Hapus
  9. Kekejaman genosida selalu menyedihkan dan membuat hati geram. Baru pertama kali tau tentang tragedi Khojali. Makasi sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kekejaman gak hanya terjadi di Palestina dan Myanmar saja, tapi juga di Khojali, Azerbaijan. Semoga enggak terulang lagi ya mbak.

      Hapus
  10. Duh aku sedih kalau ada kyk gtu2, perang, genocida dll
    Btw Azerbaijan apa penduduknya mayoritas muslim juga mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Azerbaijan mayoritasnya muslim.

      Hapus
  11. Semoga semua orang bisa belajar dari peristiwa masa lalu untuk memperoleh kedamaian hidup di dunia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Semoga tidak terulang lagi ya mbak hal-hal seperti ini di kemudian hari.

      Hapus

Posting Komentar