Genossenschaftsidee, Dari Jerman untuk Koperasi Indonesia di Era Milenial

Kuno. Tidak modern. Orang tua.

Itulah tiga kata-kata yang terbayang di benak saya begitu mendengar kata 'koperasi'. Koperasi sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Ibu dan alm. kakak saya pernah terlibat aktif di koperasi khususnya dalam hal peminjaman uang. 

Kendati demikian, itu tidak secara otomatis menjadikan saya 'akrab' dengannya ketika dewasa. Saya hanya kenal, namun sebatas itu saja. Imej-imej yang telah terbangun di benak saya sejak lama tentang koperasi sebelumnya membuat saya masih segan untuk melibatkan diri lebih dalam. Di mata saya, koperasi bukanlah hal yang milenial. Saya kan generasi milenial, masa sih saya terlibat di koperasi?
Ilustrasi koperasi (dok. Koperasi Indonesia)
Koperasi seharusnya menyumbang angka besar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun sayangnya, angka kontribusi koperasi terhadap ekonomi masih kecil. Dengan jumlah koperasi sebanyak 150.000 unit di seluruh Indonesia, sumbangan koperasi terhadap pembangunan khususnya produk domestik bruto (PDB) baru mencapai 4% (2017). Masih jauh dari harapan.

Padahal, Indonesia memiliki populasi generasi milenial (kelahiran tahun 80-an hingga menjelang tahun 2000) yang potensial dengan jumlah sebanyak 34,45% atau lebih dari sepertiga dari total seluruh penduduk Indonesia. Bayangkan apa jadinya jika 70% generasi milenial saja telah memanfaatkan koperasi. Tentu angka kontribusi koperasi terhadap ekonomi akan meningkat.
Di samping itu Indonesia sedang bersiap memasuki babak bonus demografi, sebuah keadaan dimana jumlah penduduk dengan usia produktif lebih banyak ketimbang usia yang sudah tidak produktif. Jika bonus demografi tercapai, maka 60% penduduk Indonesia adalah generasi milenial. Sayangnya, bonus demografi ini dapat menjadi potensi namun di sisi lain juga dapat menjadi bumerang.
Gambaran generasi milenial (dok. ublik.id)
Jika koperasi dapat merangkul generasi milenial, maka itu akan berarti baik bagi masa depan koperasi Indonesia ke depannya dan bahkan semakin meningkatkan angka kontribusi koperasi pada pertumbuhan ekonomi. Namun jika tidak, maka itu akan menjadi malapetaka. Bukan tak mungkin koperasi akan punah karena ketidakpedulian generasi milenial terhadap keberadaannya.

Dengan keadaan seperti itu, pihak koperasi harus melakukan re-branding di era milenial sekarang. Koperasi yang biasanya identik dengan kids jaman old harus diubah imejnya agar melekat dengan anak-anak jaman now.  Sebab bagaimana pun, cepat atau lambat negeri ini akan dipimpin oleh para pemimpin dari generasi milenial. Maka dari itu koperasi yang tampak 'seksi' dan 'menarik' di mata generasi milenial itu wajib agar banyak yang menggandrunginya.

Belajar dari Jerman 

Sebuah pepatah mengatakan bahwa tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina. Namun khusus koperasi, sepertinya pepatah itu sebaiknya diralat menjadi "Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Jerman!". 

Ya, untuk menarik minat agar semakin banyak kaum milenial yang tertarik untuk bergabung dan melibatkan diri dengan koperasi, tak ada salahnya kita belajar dari negara lain yang lebih 'jago'. Jerman adalah panutan agar koperasi Indonesia lebih baik ke depannya.
Jerman, salah satu contoh negara dengan koperasi unggul di dunia (dok. sputniknews.com)
Di Jerman, istilah koperasi dikenal dengan istilah "Gennossenschaftsidee". Secara definisi istilah itu disebut juga dengan idea and practice of organizing shared interests in cooperatives. Di Jerman, koperasi diartikan sebagai sebuah asosiasi atau perkumpulan dari para relawan yang menyediakan berbagai layanan sosial, ekonomi atau budaya kepada para anggota komunitas. Dengan minimal jumlah anggota sebanyak 3 orang, orang Jerman telah dapat membentuk gennossenschaftsidee alias koperasi.
Kegiatan Marktgenossenschaft der Naturland-Bauern, salah satu koperasi di Jerman (dok. RWGV)
Lahirnya koperasi di Jerman tak terlepas dari kejadian pada 1849. Saat itu ada 57 pembuat sepatu di kota kecil Delitzsch. Lantaran tidak suka dengan sistem kapitalisme yang eksploitatif, akhirnya mereka mengumpulkan sumber daya. Kegiatan itu pun berlangsung secara rutin sehingga akhirnya menjadi cikal bakal dari hadirnya gennossenschaftsidee. Perlahan tapi pasti, koperasi di Jerman pun menjadi unggul dan bahkan turut mewarnai perkoperasian di dunia.

Dibandingkan koperasi di negara lain, genossenschaftsidee ini unik. Hal itu dikarenakan koperasi di Jerman bukanlah sekadar organisasi ekonomi melainkan sudah menjadi budaya yang telah mengakar sejak ratusan tahun lalu. Saking membudayanya, gennossenschaftsidee bahkan telah diakui dunia sebagai warisan budaya Jerman.

UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) telah mencatatkannya dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Kemanusiaan (The Representative List of The Intangible Cultural Heritage of Humanity) milik Jerman pada November 2016 di Addis Adaba, Ethiopia. Pengakuan ini setara dengan batik, angklung dan bahkan noken yang Indonesia dapatkan dari UNESCO beberapa tahun lalu.

Pengakuan UNESCO atas Genossenschaftsidee pada 2016 (dok. UNESCO)
Inilah daya tariknya. Dengan disahkannya gennossenschaftsidee sebagai warisan budaya dunia milik Jerman, menandakan bahwa mereka tidak bisa berleha-leha lagi. Pengakuan tersebut membuat tanggung jawab Negeri Panser itu semakin besar karena artinya mereka harus-wajib-kudu untuk semakin melestarikan dan membudayakan gennossenschaftsidee kepada masyarakat Jerman.
Kenapa? Sebab jika mereka lengah, UNESCO bisa mencabut status gennossenschaftsidee sebagai budaya mereka. Akhirnya, harga diri Jerman pun menjadi taruhannya. Sebagai negara besar, tentu saja Jerman tak ingin main-main. Jerman pun berjuang keras agar gennossenschaftsidee terus lestari dan bahkan terus melakukan inovasi dari waktu ke waktu.

Hasilnya, dapat kita lihat sekarang. Sejak belum dicatat di UNESCO hingga sekarang, tercatat ada sekitar 22 juta anggota atau sekitar seperempat dari total keseluruhan penduduk Jerman dan sekitar 863.000 orang pegawai yang bergabung di koperasi di seluruh Jerman secara aktif. Beberapa perkumpulan koperasi Jerman pun aktif, di antaranya adalah the German Cooperative and Raiffeisen Confederation, The Akademie Deutscher Genossenschaften, the German Hermann-Schulze-Delitzsch Society dan the German Friedrich-Wilhelm-Raiffeisen Society. 

Dari jumlah sebanyak itu, nilai kebermanfaatan yang didapatkan oleh masyarakat Jerman terhadap koperasi luar biasa. Berbagai bank koperasi di Jerman telah mampu melayani lebih dari 30 konsumen di Jerman dengan layanan keuangan sementara koperasi perumahan telah melayani sekitar 3,2 juta anggota.

Penyebaran budaya koperasi di Jerman tak hanya terjadi di dalam, namun juga di luar. Melalui Kementerian Makanan, Pertanian dan Perlindungan Konsumen (The Federal Ministry for Food, Agriculture and Consumer Protection), Jerman turut berkontribusi dalam berdirinya 43.000 koperasi di Ethiopia. Dengan adanya kontribusi ini, tentu ekonomi Ethiopia mengalami peningkatan. 
Ethiopia, salah satu negara yang dibantu dalam hal pendirian koperasi oleh Jerman (dok. factretriever.com)
Sebagaimana yang Jerman lakukan, inilah yang harus kita tiru agar semakin banyak generasi milenial tertarik terlibat di koperasi. Kuncinya adalah kita harus menjadikan koperasi sebagai budaya dan bukan sekadar organisasi ekonomi semata. Dengan begitu generasi milenial akan menjalankannya sebagai suatu hal yang akrab dengan dunia mereka karena merasa koperasi adalah bagian dari budaya mereka.

Kenapa hampir tidak ada generasi milenial yang tidak punya sosial media? Itu karena sosial media telah menjadi budaya. Kenapa pula banyak generasi milenial yang suka 'nongkrong' di kafe? Itu juga karena telah menjadi bagian dari budaya. Budaya menjadi bagian penting. Itu artinya, jika koperasi telah menjadi budaya di Indonesia, maka kita pun telah bisa menebak seperti apa hasilnya.
Nongkrong di kafe, salah satu bagian dari budaya generasi milenial yang tak dapat dipisahkan (dok. nymag.com)
Hal yang perlu patut ditiru pula dari Jerman lainnya adalah strategi mereka dalam melestarikan koperasi. Faktanya, Jerman juga melibatkan anak-anak. Tahukah kamu? Ternyata berbagai koperasi di Jerman dibuat khusus untuk para pelajar. Dengan begitu anak-anak dan remaja Jerman tidak hanya mendapatkan pengetahuan semata, melainkan juga pengalaman berarti karena melibatkan diri dengan praktek secara langsung.

Salah satunya adalah schulergenossenschaft, koperasi pelajar yang terdapat di Coole Schule (Bahasa Indonesia: Sekolah Keren). Langkah sederhana, namun inilah investasi yang cerdas bagi Jerman dalam menumbuhkan kecintaan masyarakat Jerman terhadap koperasi sejak dini.
Kegiatan koperasi di sekolah Coole Schule (dok. Genossenschaftsverband Frankfurt)
Beda halnya dengan Indonesia, koperasi biasanya hanya dikenal para pelajar lewat teori, yakni buku pelajaran semata. Sekalipun ada edukasi dan pelibatan diri lebih lanjut, itu masih terbatas dan biasanya baru terjadi di tingkat mahasiswa. Di sekolah memang ada koperasi, namun biasanya anak-anak tidak dilibatkan di dalamnya. Kalaupun ada, masih terbatas. Orang dewasa yang melakukan, anak-anak hanya sebatas pembeli.
Wawancara dengan seorang anggota koperasi pelajar di Jerman (dok. Genossenschaftsverband Frankfurt)
Bayangkan jika Indonesia meniru Jerman dengan melibatkan anak-anak dan remaja dalam kegiatan koperasi (bukan teori semata). Tentu hasilnya akan sangat berdampak baik bagi masa depan koperasi di era milenial. Hal itu karena anak-anak Indonesia telah belajar mencintai koperasi sejak dini.

Untuk menggaet semakin banyak masyarakat khususnya anak muda untuk semakin mengenal koperasi, Jerman juga melakukan branding dengan mendirikan Museum Koperasi. Dalam Bahasa Jerman, museum koperasi ini memiliki nama lain Deutsches Genossenschaftsmuseum (Museum Koperasi Jerman) dan Schulze-Delitzsch-Haus (Rumah Schulze-Delitzsch).
Museum Koperasi Jerman. Siapapun yang ke sini, pasti tak melewatkan kesempatan untuk berfoto dan upload ke media sosial! (dok. wikipedia)
Selain sebagai sarana edukasi masyarakat akan perkembangan dan seluk-beluk koperasi di Jerman, museum ini juga didirikan sebagai dedikasi untuk Hermann Schulze-Delitzsch (1808-1883) selaku pendiri koperasi Jerman. Di jaman serba digital seperti ini, jelas keberadaan museum ini memiliki peranan penting, karena sekarang apa-apa serba 'upload' di sosmed. Bagi generasi milenial yang akrab sekali dengan sosmed, maka kesadaran untuk terus melestarikan koperasi menjadi lebih besar dengan adanya tempat wisata seperti museum ini.
Salah satu sudut di dalam Museum Koperasi Jerman. (dok. tripadvisor.com)
Salah satu pengunjung berpose di dalam Rumah Schulze-Delitz (dok. Schulze-Delitzsch-Haus 2011)
Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia sebenarnya berencana untuk membangun museum koperasi di daerah. Namun sayangnya ini masih sebatas wacana dan belum terealisasi.

Dengan berbagai rekam jejak yang Jerman miliki hingga akhirnya 'koperasi' mereka diakui dunia, maka tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak belajar dari Jerman.

Sebagai orang yang masih masuk dalam kategori generasi milenial saya merasa bahwa  generasi milenial itu tidak bisa dipaksakan untuk ikut sesuatu. Intinya, kalau mau rebranding koperasi di era milenial, pihak koperasi harus 'main cantik'. Generasi milenial harus diajak dengan cara yang halus. Seolah-olah tidak dilibatkan atau tidak diajak, namun sebenarnya dilibatkan dan diajak.

Beberapa caranya bisa kita tiru dari apa yang Jerman lakukan. Mulai dari menjadikannya sebagai budaya secara pelan-pelan, melibatkan anak-anak di sekolah dan bahkan mendirikan tempat wisata khusus koperasi. Dengan begitu secara perlahan masa depan koperasi Indonesia di era milenial pun akan semakin cerah.

***

Referensi: 
3. Masa Depan Koperasi di Generasi Milenial
4. Idea and Practice of Organizing Shared Interests in Cooperatives 
5. Co-operation Inscribed UNESCO's Intangible Cultural Heritage List
6. Daftar Intangible Cultural Heritage of Humanity
7. Genossenschaftsmuseum

Komentar

  1. Wah...kok keren banget sihh konsepnya koperasi ala Jerman. Bagus yaa koperasi dikenalkan sejak dini ke anak-anak. Semoga koperasi Indonesia juga bisa nih masuk ke sekolah-sekolah supaya generasi jaman now juga cerdas berkoperasi. Makasi yaa ulasannya menarik banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak. Makanya wajar sih kalau koperasi Jerman telah diakui UNESCO. Soalnya Jerman gak main2 dalam melestarikannya. Amin. Semoga koperasi Indonesia semakin baik ya ke depannya.

      Hapus
  2. Semoga Koperasi Indonesia bisa berkembang terus dan maju. Anak anak perlu diperkenalkan manfaat Koperasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin mpok. Iya, kalau mau ada regenerasi, koperasi emang harus diperkenalkan sejak dini.

      Hapus
  3. Syusah bacanya mba ��
    Tp keren bgt programnya.. Semoga dengan program yg keren ini anak2 jd lebih tertarik dgn koperasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Btw, aku cowok kakak --" wkwk iya susah ya baca nama koperasi dalam istilah Jerman wkwk semoga Indonesia bisa belajar dari Jerman ya mbak.

      Hapus
  4. Wihhh keren. Kapan ya Indonesia bisa kaya Jerman dalam memakmurkan koperasi?

    BalasHapus
  5. di jakarta saya belum pernah melihat koperasi, kalau di daerah banyak, bahkan menjamur. menurut saya konsepnya bagus dan lebih "merakyat" sehingga bagus kalau diterapkan semenjak dini. Btw namanya koperasi di bahasa Jerman susah juga ya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Jakarta banyak kok. Kalau saya sih tahunya di dalam institusi seperti koperasi mahasiswa dan koperasi di tempat pemerintahan.Kalau di luar itu, saya kenalnya cuman koperasi simpan pinjam.

      Iya mbak ribet ya diucapinnya wkwk

      Hapus
  6. Moga koperasi di Indonesia makin beekembang dan nyata memberiamfaat bagi masyarakat

    BalasHapus
  7. Urusan Koperasi, Indonesia perlu belajar banyak ke Jerman nih. Semoga Koperasi Indonesia tidak berkesan orang tua, kuno dant tidak modern. Maju terus koperasi indonesia....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, biar makin ketje ya koperasi Indonesia. Amin.

      Hapus
  8. Kalau program yang baik saya dukung, saling membantu manusia dibelahan bumi manapun, kalau perang, saya paling nggak setuju. Sedih lihatnya. Semoga gerakan koperasinya jadi dekat dengan masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya mbak. Program yang baik-baik harus kita dukung. Amin.

      Hapus
  9. Koperasi.memang sudah lama menjadi sistem yang bisa menjawab persoalan ekonomi kerakyatan.
    Semoga koperasi makin berkembang, makin membawa manfaat bagi banyak orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Semoga kontribusi ekonomi yang dihasilkan dari Jerman semakin tinggi ya.

      Hapus
  10. Saya baca teliti per kata sampai menemukan kata ini "gennossenschaftsidee adalah koperasi"

    Panteees kalimat2 sebelumnya bahas soal koperasi.

    Dan dr artikel ini saya baru paham kalau kopersi itu ditemukan oleh para pengusaha sepatu di Jerman yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya ribet banget ya diucapinnya.

      Pengusaha sepatu itu cikal bakal koperasi di Jerman kok mbak. Kl cikal bakal koperasi di dunia setau saya beda lagi.

      Hapus
  11. Aku kalau ngomong koperasi suka inget jaman sekolah yes,,aku jadi anggota koperasi sekaligus pernah jadi pegawainya ( bantu2 aja sih ngitung barang ) ekwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asiiik ada mantan anggota koperasi xD

      Hapus
  12. btw otw baswey.. bapak dan ibuku adalah salah satu fans fanatik koperasi. ketimbang bank. ahahaha.. soalnya koperasi itu ga ada bunga... keuntungan dibagi rata ke semua anggota. hehe

    BalasHapus

  13. Susah ya pengucapan koperasi di Jerman genossenschaftsidee hahaha

    Tapi saya salut bangat nih Jerman sampai bisa dapat pengakuan dari Unisco semoga saja Indonesia bisa mengikuti koperasi Jerman sebagai sebuah budaya sehingga anak-anak zaman now tertarik berkoperasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya ribet diucapinnya. Aku juga salut Jerman begitu memperhatikan koperasi sampai-sampai jadi warisan.budaya dunia. Amin. Semoga makin banyak generasi muda yang gabung ke koperasi y kak.

      Hapus
  14. Wah di Jerman ternyata juga mengenal koperasi ya?
    Aku jd keinget zaman sekolah tu suka beli barang2 di koperasi dan harganya lbh murce :D
    Kalau kaum millenials Indonesia memahami koperasi dengan baik, mungkin bisa jd ada semacam pemerataan buat kesejahteraan ya, bisa dipakai buat belajar ttg keuangan maupun utk tingkat bisnis yg lbh besar lg kalau suatu saat mau menjalankan usaha. Jgn mau kalah sama anak muda Jerman hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengenal dong mbak. Tapi istilahnya ribet wkwk setuju mbak. Makanya penting bnget bagi generasi milenial utk tahu dan sadar akan pentingnya koperasi. Soalnya keuntungannya banyak! Hihi

      Hapus
  15. Koperasi memang sangat bermanfaat untuk masyarakat, optimalisasi pemanfaatannya bisa banyak belajar dari yang sudah sukses termasuk dari Jerman ini ya Mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku cowok, mbak --" amin. Semoga Indonesia bisa belajar dari Jerman ya.

      Hapus
  16. Konsep koperasi ala Jerman, menarik juga ya mbak. Saya pikir yang tahu mengenai koperasi hanya kita Indo aja, ternyata di negara lain pun ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya hampir di setiap negara ada deh mbak. Oya, jangan panggil aku mbak. Aku cowok kok mbak. --"

      Hapus
  17. Sampai saat ini saya masih jadi anggota koperasi juga. Salah satu saat terbaik jelas saat pembagian SHU ya saat tutup buku...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asiik. Ikut koperasi dapat banyak keuntungannya ya mbak

      Hapus
  18. Semoga koperasi kita bisa makin maju ya, karna setau aku koperasi itu sangat baik untuk simpan pinjam yg usaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Semoga seiring modernnya jaman, semakin maju jg ya koperasi.

      Hapus
  19. mudah - mudahan kedepannya koperasi kita semakin maju, aamiin

    BalasHapus
  20. koperasi mah keren... saya suka konsep ini dari dlu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya keren kok makanya harus terus dilestarikan :D

      Hapus

Posting Komentar