Sehari di Banda Aceh: Dari Menelusuri Baiturrahman hingga Menikmati Sate Matang

Berkunjung ke Banda Aceh? Wah, enggak lengkap kayaknya kalau enggak menelusuri tempat wisatanya. Kalau kata peribahasa "Sambil menyelam minum air". Mumpung Kurbanesia Social Trip (30 Agu-3 Sep 2017) Dompet Dhuafa-nya diadakan di Aceh, kenapa enggak sambil menelusuri Banda Aceh aja?

Akhirnya selepas puas mengisi perut dengan hidangan ayam pramugari yang berlokasi tak jauh dari bandara pada 30 Agustus 2017, kami pun menuju sejumlah tempat wisata di Banda Aceh dengan diantar dan ditemani oleh Dokter Ilham dan Pak Andi. 

1. Masjid Baiturrahman

Masjid Baiturrahman menjadi destinasi pertama kami. Kebetulan saat itu azan Zuhur telah berkumandang. Jadi pas banget deh karena selain jalan-jalan, kami juga bisa menunaikan ibadah di sana.

Setibanya di sana, tak ada kata lain selain takjub. Masjidnya indah sekali. Puluhan orang tampak memadati kawasan masjid hendak berwisata rohani. Dalam hati saya membatin, "Wah, ternyata ini masjid kebanggaan Aceh itu! Bagus banget!" Selama ini saya hanya pernah mengunjungi Baiturrahman lewat permainan Modoo Marble (permainan monopoli online, sejenis get rich). Namun alhamdulillah berkat izin-Nya, saya dapat mampir ke Masjid Baiturrahman secara langsung.
Cantiknya Masjid Baiturrahman (dokpri)
Salah satu sudut bagian luar Masjid Baiturrahman (dokpri)
Baiturrahman memiliki lima kubah yang semuanya berwarna hitam. Satu kubah utama berada di tengah sedangkan empat buah berada di sisi kanan dan kiri kubah utama. Pada empat kubah tersebut, dua kubah terletak di samping kanan dan kiri persis kubah utama, dua lainnya ada di belakangnya. Di sana terdapat pula payung-payung raksasa berwarna putih dengan sentuhan warna kuning serupa di Mekkah yang tak hanya berfungsi melindungi dari panas tetapi juga menambah estetika eksterior masjid.
Payung-payung di Baiturrahman (dokpri)
Langit di Masjid Baiturrahman (dokpri)
Baiturrahman kian cantik dengan halaman luas terbuka di hadapannya semacam alun-alun di Bandung. Sayang, sinar matahari saat itu begitu terik jadi saat berada di halaman, kita akan merasa kesilauan. Mendadak mata kita pun menyipit dan telapak kaki terasa panas karena bertelanjang kaki.

Melihat masjid yang begitu gagah dan megah di hadapan saya membuat saya berdecak kagum. Kenapa? Faktanya, selain selamat dari terjangan air tsunami 2004 silam, masjid ini juga kaya akan nilai-nilai sejarah lho! Sepanjang penelusuran, Dokter Ilham dan Pak Andi bercerita tentang perjalanan masjid ini. "Masjid ini dulunya hanya punya satu kubah. Namun saat Gubernur Belanda memimpin, akhirnya masjid ini bertambah dua kubah lagi di sisi kanan dan sisi kiri," Jelas Pak Andi. "Masjid ini dulunya pernah dibakar dan kemudian dibangun kembali." Jelas Dokter Ilham.  Waaah!

Namanya juga blogger. Jadi maklumin aja, enggak bisa tuh lihat tempat bagus sedikit karena bakalan narsis dan foto-foto. Haha. Memasuki kawasan masjid, segeralah saya keluarkan ponsel kemudian memotret masjid dari berbagai sudut pandang.  Saya juga tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto dengan latar belakang Baiturrahman. Sebenarnya saya pengen banget foto banyak. Namun karena baterai ponsel lemah dan habis akhirnya enggak jadi deh. Beruntung saya membawa charger yang telah saya masukkan ke dalam kantung celana. Siapa tahu di dalam masjid ada colokan nganggur dan saya bisa memanfaatkannya untuk mengisi daya gawai saya.  Cara lainnya, saya meminta tolong Mas Salman atau Mas Fuji untuk "numpang" foto. Hoho.

Usai berkeliling di halaman masjid sebentar, kami bergegas melakukan wudhu. Tempat wudhu berada di luar dekat dengan gerbang masuk dan sangat strategis dicapai. Mungkin ada juga tempat wudhu yang terdapat di dalam masjid. Hanya saja saya belum pernah mencobanya. Tak lama kemudian kami masuk ke dalam Baiturrahman.

Ketenangan mendadak memasuki relung hati tatkala saya melangkahkan kaki ke dalam masjid. Rasanya adem gimana gitu saat melihat orang-orang beribadah memuja Sang Pencipta. Saya pun ternganga melihat sekeliling masjid bagaikan anak kecil yang baru dikasih es krim. Ternyata keindahan Baiturrahman tak hanya tampak dari luarnya saja namun juga dari dalamnya!
Baiturrahman tampak atas (dokpri)
Sudut lain Baiturrahman (dokpri)
Arsitektur Baiturrahman begitu memukau. Kombinasi warna  putih, kuning, cokelat dan hitam tampak padu. Ruangannya yang cukup besar dengan jarak antara lantai dan langit-langit yang begitu luas membuat saya serasa berada di istana. Sebagian pengunjung tampak mengabadikan momen selama di sana. Di beberapa sudut masjid terdapat kaligrafi Arab yang begitu indah. Sementara di bagian imam terdapat hiasan serupa pintu berwarna emas. Konon, hiasan tersebut dibuat dari emas asli namun masih mengalami perdebatan.
Hiasan seperti emas di bagian imam (dokpri)
Menghadap kepada-Nya di Baiturrahman (dokpri)
Tak menunggu waktu lama, kami pun melaksanakan sholat Zuhur berjamaah. Setelah selesai, saya langsung  mencari colokan. Aha! Dapat! Ternyata ada di bagian paling depan dekat dengan bagian imam. Langsunglah saya menuju ke sana dan mencolokkan charger beserta gawai saya. Entah berapa persen yang akan terisi, yang penting dicolok.  Lumayan lah daripada enggak sama sekali. Selagi saya menunggu ponsel terisi di saf paling depan, teman-teman dari Dompet Dhuafa dan Republika masih dalam posisi semula. Tampaknya mereka sedang berdiskusi. Beberapa menit kemudian saya menghampiri mereka dengan pandangan tetap mengarah ke ponsel yang sedang diisikan dayanya.

Setelah sempat berdiskusi sejenak tentang masjid ini, kami beranjak keluar. Tak lupa saya ambil gawai dan charger saya yang masih terpasang di depan kemudian saya nyalakan ponsel tersebut. Dengan presentase baterai yang apa adanya, saya manfaatkan ponsel saya sebaik mungkin sebelum mati untuk memotret keindahan masjid baik dari tampak dalam ataupun tampak luar. Pokoknya saya bakalan nyesel kalau enggak memotret. Tak lama setelah itu kami beranjak pergi ke tempat lain.
Selfie di dalam masjid Baiturrahman (dokpri)
Narsis dulu dong di depan Baiturrahman (dok. Fuji)
Dari kiri ke kanan: saya - Mas Salman - Mas Fuji - Dokter Ilham (dok. Fuji)
2. Museum Aceh

Museum Aceh menjadi destinasi wisata berikutnya. Begitu memasuki kawasan ini, saya langsung berdecak kagum. Tampak sebuah rumah tradisional khas Aceh berdiri gagah di sana. Dengan model rumah panggung dan ukiran di sekitarnya, rumah Aceh tampak begitu menawan. Saya memang penasaran seperti apa sih rumah khas Aceh. Akhirnya rasa penasaran saya terjawab setelah melihatnya secara langsung.

Rumoh Aceh di Museum Aceh (dokpri)
Btw, enggak usah khawatir kalau kamu awam soal hal-hal tentang Aceh. Setelah keluar dari museum ini, dijamin kamu akan lebih pintar! Setelah sebelumnya saya hanya tahu sekilas tentang Masjid Baiturrahman lewat penjelasan Dokter Ilham dan Pak Andi, di Museum Aceh saya mengetahuinya secara lebih detail lewat maket-maket Masjid Baiturrahman yang terpajang di sana.

Maket masjid yang terpampang di Museum Aceh (dokpri)

Saya baru tahu bahwa ternyata Masjid Baiturrahman telah berdiri sejak lama, tepatnya sejak masa pemerintahan Sultanah Nurul Alam pada abad ke-16. Pada awalnya, masjid ini memiliki ornamen tradisional dengan sentuhan Islam sehingga tampak indah. Sayang, antara 1675-1678, masjid ini sempat terbakar sehingga harus didirikan lagi. Puluhan tahun dalam keadaan baik-baik saja, masjid ini seolah mengalami dejavu. Pada 1873, Masjid Baiturrahman kembali terbakar karena adanya pertempuran antara rakyat Aceh dengan Belanda.

Pada 1879, Baiturrahman dibangun kembali oleh Pemerintah Hindia-Belanda dengan satu kubah. Seiring berjalannya waktu, terjadi berbagai perubahan pada masjid. Pada 1936 Baiturrahman diperluas dengan penambahan dua kubah (total tiga kubah) atas usaha Gubernur A. PH. Van Aken. Awalnya masjid ini bernama Masjid Raya Banda Aceh. Namun sejak Indonesia merdeka tepatnya pada 1957, pemerintah mengubah namanya menjadi Masjid Baiturrahman dan melakukan penambahan dua kubah lagi sehingga total kubahnya menjadi lima buah. Lima buah kubah pada masjid ini bermakna pancasila di bumi serambi Mekkah. Inilah Masjid Baiturrahman yang kita kenal hingga sekarang.

Selain maket tentang maket Baiturrahman, di sana juga terdapat sejumlah benda-benda yang biasa digunakan oleh orang Aceh tempo dulu. Kebanyakan benda tersebut sudah tidak digunakan lagi di era sekarang. Saya pun tak ketinggalan memotretnya satu per satu.

Geureubak, alat angkut tradisional ala Aceh (dokpri)
Selagi asyik berfoto ria, dua wanita berjilbab mengingatkan kami untuk membeli tiket terutama jika hendak naik ke atas rumah Aceh. Berhubung kami hanya sebentar berada di sini, kami tidak membeli tiket. Mengetahui bahwa ternyata mereka adalah PNS yang bekerja di museum dan kami penasaran akan rumah Aceh, kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Segeralah kami, saya dan Mas Fuji, melakukan wawancara. Beruntung mereka terbuka.

Mereka bercerita bahwa rumah Aceh adalah rumah tradisional yang sudah ada sejak lama. Ukuran rumah Aceh pada tiap orang berbeda tergantung ekonomi masing-masing. Semakin tinggi tingkat ekonominya, maka akan semakin besar pula ukuran rumah Aceh.

Yang menarik, dalam pembangunan rumah Aceh tidak ada pemakaian paku atau bahan baku buatan sama sekali. Semuanya murni dari alam. Terbuat dari Kayu Seumantu dan beratapkan daun Rumbia, rumah Aceh justru tahan gempa. Dengan model rumah panggung, rumah Aceh juga merupakan rumah yang multifungsi. Selain dapat digunakan untuk menghindari banjir, bagian bawah dari rumah juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat memelihara hewan ternak atau agar pemilik rumah terlindung dari hewan buas. Maklum, zaman dahulu orang tinggal di dekat hutan.

Udah kekinian belum foto di Museum Aceh? (dokpri)
Ada banyak cerita yang disampaikan oleh ibu tersebut. Namun waktu yang terbatas membuat kami tidak bisa berlama-lama di sana. Saya sendiri juga sebenarnya ingin mengeksplor museum lebih lanjut karena belum semua bagian museum telah saya jelajahi. Namun sayangnya tidak bisa karena keterbatasan waktu.  Akhirnya usai menggali pengetahuan di sana, kami pun masuk ke mobil. Saatnya beristirahat di LKC (Layanan Kesehatan Cuma-cuma) $i Banda Aceh.

3. Pantai Tebing 

Setelah sempat beristirahat di LKC Banda Aceh, Dokter Ilham kembali mengantarkan geng anak Jakarta dan Depok (saya, Mas Salman dan Mas Fuji) ke tempat wisata lainnya. Kali ini Pak Andi tidak ikut, hanya Dokter Ilham saja. Lokasi Banda Aceh terletak di pesisir membuat Dokter Ilham mengantarkan kami ke salah satu pantai terkenal di sana. Nama pantai itu adalah Pantai Tebing.

Dinamakan Pantai Tebing karena di sana terdapat tebing yang cukup tinggi dengan sejumlah rumah kayu berdiri di sekitarnya. Katanya sih rumah tersebut disewakan bagi turis untuk menginap. "Wah, kreatif banget! Leh ugha idenya", komentar saya.
Foto di pantai serasa Miss Universe, "Healthy inside, fresh outside" (dok. Fuji)
Semilir angin seketika menyerbu kami ketika kami memasuki kawasan pantai. Dari kejauhan tampak air laut yang seolah menyatu dengan langit yang kian lama kian gelap. Tak mau ketinggalan momen, saya pun memotret dan membuat mini vlog selama berada di sana. Kami bertiga juga membuat foto ala-ala model Hilo dengan gaya melompat seolah-olah mau bilang, "Tinggi tuh ke atas, gak ke samping!" *bukan pesan sponsor* Beberapa hasil foto ngeblur sih tapi lumayan lah ya yang penting ekziz. B-)
Ala-ala model iklan susu, "Tinggi tuh ke atas, gak ke samping!" XD (dok. Fuji)
Pantai Tebing memiliki air yang jernih. Dengan latar belakang tebing yang indah dan beberapa saung, pantai ini instagrammable abis. Di sana juga terdapat saung dan tulisan kekinian yang bisa difoto. Namun karena letaknya agak jauh dari posisi kami maka kami tidak menyempatkan diri ke sana.

Kunjungan kami ke Pantai Tebing hanya berlangsug sebentar. Senja tiba dan sebentar lagi Azan Maghrib berkumandang. Saatnya kami melanjutkan perjalanan ke tempat lain.


4. Masjid Rahmatullah

Melewati desa dengan rumah-rumah penduduk di kanan dan kiri jalan, Dokter Ilham mengemudikan mobilnya ke suatu tempat yang masih terletak di wilayah pantai. Sayang, walau berada tak jauh dari ibukota, fasilitas penerangan sangat minim. Tak lama kemudian kami sampai. Inilah Masjid Rahmatullah, masjid yang menjadi saksi dari keganasan tsunami Aceh 2004. Dengan dominasi warna putih, masjid tersebut tampak gagah.
Masjid Rahmatullah tampak malam. Maapkeun fasilitas kamera yang apa adanya (dokpri)
Masjid Rahmatullah dua bulan pasca tsunami 2004 (dokpri)
Salah satu sudut masjid yang sengaja dipertahankan (dokpri)
Azan Maghrib telah berkumandang. Kami pun menunaikan ibadah di sana. Saat memasuki masjid, seketika saya bergidik. Di salah satu sudut masjid tampak langit-langit masjid hendak runtuh, menjadi pertanda bahwa masjid itu pernah menjadi saksi bisu akan musibah tsunami. Dokter Ilham berkata bahwa beberapa bagian yang terkena dampak tsunami memang sengaja dibiarkan. Maha Besar Allah dengan segala kekuasannya.

5. Sate Matang

Hari menjelang malam. Perut pun telah bertalu-talu tanda harus diisikan "bensin". Selepas dari masjid, Dokter Ilham kemudian mengantarkan kami ke salah satu tempat makan recommended di Banda Aceh. Sate Matang adalah kuliner yang patut dicoba selama di sana.  Kata dokter Ilham, sate ini adalah sate kambing. Lalu apa bedanya sate kambing yang biasa ditemui di Jakarta dengan sate ini saya belum tahu. Maka dari itu ingin mencobanya. Sayang, saat mengunjungi tempat makan yang dimaksud, tempat tersebut telah tutup. Alhasil Dokter Ilham mengajak kami ke tempat makan lain yang tak kalah enaknya.

Sejenak kemudian tibalah kami di tempat makan yang terletak di pinggir trotoar. Suasana saat itu tak begitu ramai. Namun yang berkunjung ke sana sih ada saja. Segeralah kami duduk di bangku ceper yang tersedia di sana dan Dokter Ilham langsung memesan makanan kepada sang penjual dengan menggunakan Bahasa Aceh. 

Tanpa menunggu waktu lama, hidangan yang dinanti-nanti pun datang. Masing-masing dari kami mendapatkan sepiring nasi, sepiring sate matang, sepiring sambal dan sepiring tetelan lengkap dengan minuman berupa air putih atau teh manis hangat. Disediakan pula sepiring nasi tambahan bagi siapa saja yang ingin menambah porsi makan.

Sate Matang yang wueenak abis! (dokpri)
Tetelan kambing dengan kuah karinya. (dokpri)
Sebenarnya saya tak begitu suka dengan kambing apalagi tetelan. Teksturnya yang cenderung keras dan bau kambing yang menyengat terkadang membuat saya tidak nyaman saat memakannya. Namun karena makanan yang disediakan adalah daging kambing dan mumpung berada di Banda Aceh maka saya pun merasa patut mencobanya.

Bagaimana kesan-kesannya? Ternyata setelah saya coba sate matang saya menjadi suka!  Saya rasa inilah the best satay ever yang pernah saya coba. Tidak seperti daging kambing yang saya coba sebelumnya, tekstur daging pada sate ini begitu lembut. Sangat mudah saat dikunyah. Bau kambing pun hilang sama sekali sehingga tidak menimbulkan eneg bagi para pemakannya. Dengan baluran sambal kacang, sate ini terasa mantap. Lidah seakan menari-nari saat mencobanya. Saking sukanya, saya sampai habis loh makan sate ini! 

Untuk tetelan kambing sih tak jauh berbeda. Meski saya memang kurang suka dengan tetelan kambing yang bertekstur kenyal-kenyal, saya pikir rasanya oke. Saya suka dengan kuah tetelan yang begitu segar. Perpaduan antara kuah tetelan dengan nasi begitu sempurna terasa di lidah. Kalau diminta memberikan nilai, maka saya akan memberikan nilai 4.5 dari skala 5. Pokoknya kalau ke Banda Aceh jangan lupa deh makan sate ini. Enak banget!

Saya pribadi sebenarnya ingin menjelajah Banda Aceh lebih lama. Saya juga ingin menelusuri kisah tsunami di Museum Tsunami di Banda Aceh. Namun apa daya, keterbatasan waktu karena esok hari kami harus pergi ke Takengon untuk Kurbanesia Social Trip membuat kami harus mengakhiri penelusuran dan hanya dapat menjelajah beberapa tempat saja, seperti Ayam Pramugari, Masjid Baiturrahman, Museum Aceh, Pantai Tebing, Masjid Baiturrahim dan penjual sate matang. Terima kasih kepada Dokter Ilham dan Pak Andi yang telah meluangkan waktunya untuk mengantarkan dan menemani kami selama berada di Banda Aceh. Semoga saya bisa ke Banda Aceh lagi ya!

Komentar

  1. Wah...megah banget masjidnya...seru pisan yaa...jadi pengen ke sana deh...hohoho...semua lokasinya keren abis val...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk! Sehari aja gak cukup loh ka mengunjungi Banda Aceh. Kalau ada rejeki kita ke sana yukz!

      Hapus
  2. Wisata Masjid sampai makan sate sudah mampu menggambarkan keindahan tanah Rencong ya. Apalagi saat melihat bagunan Masjid yang tetap dipertahankan untuk mengenang musibah tsunami y

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Kalau dieksplor lebih luas lagi pasti bakal makin terlihat keindahannya. Masjid yang jadi saksi tsunami itu luar biasaa

      Hapus

Posting Komentar