Teater Perpus Dikbud vs Teater Perpusnas, Lebih Unggul Mana?

Saya suka sekali dengan nonton. Saking sukanya, saya sering ikutan acara-acara yang berhubungan dengan film seperti screening, gala premiere dan nobar. Terlebih kalau gratis, beuh, mau banget. Beberapa bioskop telah saya jelajahi hanya demi bisa nonton gratis, mulai dari XXI Blok M Square, CGV Grand Indonesia, Cinemaxx Plaza Semanggi, XXI Epicentrum bahkan hingga CGV AEON Mall yang untuk mencapai ke sana ribetnya naudzubillah. Jauh guys! Enggak sampai di situ saja, saya bahkan sampai pernah bela-belain naik gojek cuman buat mampir ke kediaman rumah duta besar Swedia dan kediaman rumah duta besar Denmark lho hanya demi nonton film Denmark dan Swedia yang enggak populer di Indonesia!

Besarnya kecintaan saya akan kegiatan nonton film akhirnya membuat saya kepikiran untuk enggak sekadar nonton tapi justru yang menyelenggarakan kegiatan nonton. Terpikirlah di benak saya satu hal: "Kenapa enggak ngadain nobar aja?" Pasti menyenangkan deh kumpul bareng sesama penikmat film untuk nonton sebuah film. Akhirnya sejak akhir Desember 2017 saya bersama teman-teman merealisasikan keinginan kita dengan mengadakan kegiatan nobar. Berhubung saya suka Disney, maka film yang ditonton adalah film-film produksi Disney. Sejauh ini sudah ada 3 film Disney yang telah kita tonton bersama.
Salah satu poster Nobar Disneysia (dokpri)
Saya punya prinsip bahwa nonton itu enggak mesti bayar. Gratis pun bisa. Yang penting hepi. Namun masalahnya nobar itu butuh tempat yang mendukung yang dapat digunakan secara gratis. Di Jakarta ada enggak ya? Hmm... Setelah mencari tahu, jawabannya adalah ada! Tentu saja tempat tersebut bukan milik swasta, melainkan pemerintah. Tempat tersebut adalah ruang teater di Perpustakaan. 

Sebenarnya ada beberapa perpustakaan di Jakarta yang bisa digunakan untuk nonton. Namun sejauh ini, berdasarkan hasil penelusuran saya dengan nanya-nanya ke teman yang bekerja di perpustakaan daerah, hanya dua perpustakaan saja yang memiliki ruang teater khusus film, yakni Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan alias Dikbud dan Perpustakaan Nasional alias Pusnas. Sementara perpustakaan lain seperti Perpustakaan TIM dan Perpustakaan Jaksel yang ada di dekat Epicentrum tidak punya ruangan teater khusus film. Mereka punya sih ruangan, tapi ruangan biasa saja yang punya proyektor, tidak dalam kategori ruang teater. Sejak itu Perpustakaan Dikbud dan Perpusnas jadi opsi untuk penyelenggaraan nobar. Tapi ini enggak menutup kemungkinan buat perpustakaan lain ya.

Dari tiga kali nobar, 2 kali nobar diadakan di Perpustakaan Dikbud sementara 1 kali diadakan di Perpustakaan Nasional. Nah, dari 3 kali nobar di 2 tempat berbeda, saya sudah merasakan apa-apa saja hal yang enak dan kurang enak dari nobar di dua tempat tersebut. Lewat tulisan ini saya mencoba memaparkan perbandingan keduanya dari beberapa aspek dengan harapan semoga dapat menjadi perbaikan di antara kedua perpustakaan. Apa sajakah itu? Check this out!

1. Lokasi
Dari segi lokasi, perpustakaan Dikbud tentu lebih dekat dari rumah saya. Tinggal naik gojek atau naik motor dari rumah, dalam waktu 10-15 menit, sampai deh. Bisa juga sih saya ke Dikbud dengan naik busway. Tapi waktunya lebih lama karena saya harus ke Harmoni dulu setelah itu naik ke arah Blok M.

Dari segi lokasi kebanyakan orang, lokasi Perpustakaan Nasional lebih strategis karena berada di tengah-tengah kota dan ikon Jakarta. Hanya selisih dua halte dari Harmoni, kita sudah bisa sampai deh di Pusnas. Asyiknya di Pusnas, kita juga bisa menjelajah tempat wisata lain yang berdekatan, seperti Monas, Balai Kota, Masjid Istiqlal dan Gereja Kathedral. Hal ini berbeda dengan Dikbud yang didekati dengan kawasan pusat perbelanjaan.

Monas, salah satu daerah strategis di dekat Pusnas (dok. wikipedia)
FX Sudirman, salah satu pusat perbelanjaan di dekat Dikbud. (dok. binuscenter.com)
Kalau dari segi lokasi rumah saya ke Dikbud, tentu saya lebih suka Dikbud. Namun karena patokannya adalah lokasi rumah kebanyakan orang, lokasi di Pusnas yang lebih strategis membuatnya lebih unggul daripada Dikbud. So, skor sementara 1-0 untuk keunggulan Pusnas dari Dikbud.

Skor sementara:
Dikbud vs Pusnas
0-1

2. Birokrasi
Untuk dapat menggunakan fasilitas pemerintah, tentu izin adalah cara yang harus kita lakukan. Nah, antara Dikbud dan Pusnas, saya merasa birokrasi untuk pemakaian ruang teater di Pusnas itu lebih cepat dan lebih mudah. Untuk meminta izin pemakaian ruang teater Pusnas untuk nobar "Lady and The Tramp", kita (baca: Disneysia) hanya butuh waktu beberapa jam saja. Jadi, izinnya hari itu, disetujuinya hari itu juga.

Hal ini agak berbeda dengan izin pemakaian ruang teater di Dikbud. Sama-sama mudah sih, tinggal kasih surat dan TOR saja. Bedanya di lama kepastian saja. Jika di Pusnas kita sudah dapat kepastian di hari yang sama, di Dikbud kita butuh waktu hingga 3 hari untuk mendapatkan kepastian apakah disetujui atau tidak dan tunggu ditelepon dulu. Sebenarnya sih untuk penggunaan fasilitas sudah pasti disetujui selama agendanya jelas. Toh, perpustakaan memang untuk digunakan oleh rakyat. Masalahnya apakah di agenda yang kita jadwalkan teaternya sudah digunakan oleh komunitas lain atau belum. Durasi kepastian yang lebih lama membuat Pusnas semakin unggul dengan skor 2-0 daripada Dikbud.

Skor sementara:
Dikbud vs Pusnas
0-2

3. Durasi
Durasi jam layanan di Perpusnas lebih panjang daripada durasi di Dikbud. Pada akhir pekan, Perpusnas buka pada Sabtu-Minggu dari pagi hingga pukul 16.00 WIB sedangkan Dikbud hanya buka pada Sabtu dari pukul 09.00 hingga pukul 14.00 WIB. Kalau mau nonton film lebih dari sekali atau nobar di waktu siang jelas Dikbud bukan tempat  yang tepat. Saya maklum sih karena Dikbud itu perpustakaan sekelas kementerian sedangkan Pusnas memang tempat tersendiri. Di titik ini, Pusnas semakin meninggali Dikbud.
Skor sementara:
Dikbud vs Pusnas
0-3

4. Layar
Kalau tadi bicara soal hal-hal di luar ruang teater, kali ini kita akan bicara soal fasilitasnya. Salah satunya adalah tentang layar. Meski berstatus sebagai perpustakaan tertinggi di dunia, enggak secara otomatis menjadikan layar di Pusnas lebih baik daripada Dikbud. Ternyata layar di Pusnas lebih kecil daripada di Dikbud. Ukuran layar Pusnas yang tidak sebesar Dikbud membuat saya kurang puas saat nobar "Lady and The Tramp" di Pusnas.  Dari aspek ini, Dikbud lebih unggul daripada Pusnas. Skor 3-1 untuk keunggulan Pusnas.
Besarnya layar di Dikbud (dok. Sam Azhar)
Layar Teater Pusnas yang lebih minimalis (dok. Agung Han)

Skor sementara:
Dikbud vs Pusnas
1-3
5. Pemutar DVD
Perbedaan antara Ruang Teater Pusnas dan Dikbud lainnya adalah terletak pada pemutar DVDnya. Pada Pusnas, pemutar DVDnya adalah komputer sedangkan pada Dikbud pemutar DVDnya adalah pemutar DVD alias DVD player. Dari sini sebenarnya sudah kelihatan bahwa siapa yang lebih siap dalam memfasilitasi warganya dalam melakukan pemutaran film.

Dari 2 kali nobar di Dikbud tidak ada masalah. DVD dapat diputar dengan lancar. Namun baru sekali nobar di Pusnas, DVD sempat tersendat di tengah-tengah karena komputernya nge-hang. Kirain DVDnya bermasalah, tapi saat dipindahkan ke laptop saya, DVDnya dapat berputar dengan baik. Keadaan komputernya yang kurang baik (layarnya mengalami keretakan) dan lokasinya yang menyulitkan jika ingin memencet pause atau stop membuat teater di Pusnas mendapatkan nilai minus. Hal ini berbeda dengan Dikbud yang tinggal memencet tombol dari remote jika ingin melakukan pause, stop dan menu lainnya. Kali ini selisih 1 di antara keduanya

Skor sementara: 
Dikbud vs Pusnas
2-3

6. Kuota
Ruang Teater Pusnas mampu dimasuki oleh maksimal 30 orang. Sementara itu Dikbud mampu menampung maksimal 27 orang. Selisihnya tipis sih, cuman 3 orang. Tapi jumlah tersebut lumayan juga jika animo penontonnya banyak. Lebih sedikitnya kuota kursi yang tersedia pada Dikbud menjadikan Pusnas semakin berada di atas.
Teater Dikbud mampu menampung hingga 27 orang dengan formasi jumlah kursi 10-9-8 (dari belakang ke depan) (dokpri)
Suasana nobar di Pusnas yang mampu menampung hingga maksimal 30 orang (dok. Agung Han)

Skor sementara:
Dikbud vs Pusnas
2-4

7.  Luas
Dari segi luas, Pusnas itu lebih luas daripada Dikbud. Namun sayangnya, luasnya Pusnas justru menjadi bumerang karena kurang bisa dimanfaatkan dengan baik. Kecilnya layar dan bertenggernya proyektor membuat penonton bagian belakang merasa sedikit terganggu saat nonton di Pusnas. Sebaliknya, meski luas teater Dikbud lebih kecil, penonton di bagian belakang masih lebih dapat menikmati film di layar dengan jelas dan tanpa ada gangguan proyektor yang bertengger di tengah. Kini Dikbud hampir berhasil menyamakan kedudukan.

Skor sementara:
Dikbud vs Pusnas
3-4

8. Penataan Cahaya
Dalam menonton film penataan cahaya itu penting karena dapat membuat penonton lebih menikmati. Dalam hal ini, penataan cahaya di Dikbud lebih unggul. Di Teater Dikbud, kita selaku orang awam bisa mematikan semua cahaya lampu dengan mudah sehingga suasana teater tercipta seakan-akan seperti di bioskop asli. Tinggal pencet-pencet aja jadi deh. Sementara di Teater Pusnas, penataan cahayanya lebih buruk karena selain sulit diatur, ruangan juga tidak bisa digelapkan semua. Adanya pintu berkaca yang terdapat di sisi kanan dan kiri teater semakin memperburuk pencahayaan karena karena cahaya matahari atau lampu yang masuk ke teater dapat mengganggu penonton dalam menikmati film. Skor seri untuk keduanya.
Keadaan cahaya saat semua lampu dimatikan saat nobar "Frankenweenie" di Dikbud (dokpri)
Keadaan cahaya saat nobar "Lady and The Tramp" dengan keadaan tidak bisa semua lampu dimatikan di Pusnas (dokpri)
Skor sementara:
Dikbud vs Pusnas
4-4

9. Audio
Audio di Pusnas lebih sulit diatur ketimbang audio di Dikbud. Saya sih kurang engeh sama audio di Dikbud dan Pusnas, tapi kata teman saya, Linda, audio di Pusnas lebih pecah dan kurang sejernih Dikbud. Selain itu audio di Pusnas dapat terdengar sampai ke luar adapun audio di Dikbud lebih kedap suara. Di titik ini Dikbud berhasil membalikkan kedudukan.

Skor sementara:
Dikbud vs Pusnas
5-4
10. Pintu
Terdapat perbedaan antara pintu teater di Dikbud dan Pusnas. Di Pusnas terdapat dua buah pintu berkaca yang ada di sisi kanan dan kiri teater. Sementara di Dikbud hanya ada satu buah pintu tanpa kaca di sisi kanan. Adanya dua pintu di teater Pusnas sekilas memudahkan penonton untuk masuk ke ruangan. Namun di sisi lain sebenarnya itu cukup menggangu karena pengunjung bisa berlalu lalang saat masuk dan keluar. Adanya kaca pada pintu juga menggangu karena cahaya dari luar dapat masuk seperti yang dijelaskan di nomor 7. Skor akhir, Dikbud berhasil menjadi pemenang.

Skor akhir:
Dikbud vs Pusnas
6-4

Itulah perbandingan antara teater Perpus Dikbud dan Perpusnas. Kesimpulannya, secara keseluruhan terutama dari segi fasilitas, ruang teater Dikbud lebih unggul banyak ketimbang Pusnas. Selamat untuk Perpusnas! Walau hanya terdiri dari dua lantai, saya merasa Perpustakaan Dikbud lebih siap dan matang dalam menyajikan fasilitas ruang teater kepada rakyatnya ketimbang Perpusnas yang memiliki 24 lantai. Kendati demikian ada sisi positifnya bagi ruang teater Pusnas. Untuk hal-hal di luar fasilitas, Perpusnas lebih unggul ketimbang Dikbud.

Namun sebagai penikmat film, saya pribadi sebenarnya enggak begitu peduli soal lokasi, durasi, birokrasi dan hal-hal semacamnya. Yang terpenting adalah fasilitasnya. Satu pertanyaan saat saya nonton film: apakah saya benar-benar bisa menikmati seperti nonton di bioskop beneran atau tidak? Nyatanya, Ruang Teater Perpus Dikbud lebih dapat menciptakan suasana itu ketimbang Pusnas. Kapok enggak nobar di Pusnas? Enggak sih. Ke depannya Disneysia atau Komik juga akan tetap memanfaatkan teater Pusnas. Namun dari perbandingan tersebut, saya rasa Disneysia dan Komik akan lebih sering memanfaatkan teater Dikbud ketimbang Pusnas.

Semoga tulisan ini membuat Perpus Dikbud tak berhenti berinovasi untuk memberikan yang terbaik kepada rakyatnya dalam meningkatkan literasi dan memotivasi perpustakaan atau tempat-tempat lain untuk menyediakan fasilitas serupa. Untuk Perpusnas, semoga tulisan ini dapat menjadi motivasi dan cambuk agar dapat memperbaiki fasilitas dan memberikan yang terbaik untuk rakyat ke depannya. Baik teater di Pusnas, Dikbud atau lainnya, yuk kita manfaatkan dan jaga dengan baik!

Komentar

  1. Aku udah lama banget ga ke dikbud, semenjak ada aplikasi iPerpusnas jadi jarang ke perpustakaan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku ke perpus jarang baca/minjem buku. Lebih sering minjem/nonton DVD xD

      Hapus
  2. Kalau saya pribadi lebih memilih layar mana yg lbh kompatibel di antara kedua perpustakaan tsb.
    Dan, pilihannya ya perpus Dikbud.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama. Lebih utamain fasilitas. Terutama layar, audio dan pencahayaan.

      Hapus
  3. Sekarang perpustakaan tak hanya tempat baca buku saja ya tapi juga tempat nonton film edukasi

    BalasHapus
  4. elim pernah mampir ke tempat keduanya.. noted and thanks for sharing ya

    BalasHapus
  5. Saya juga suka nonton Mba, tapi nontonnya drama korea atau film india di rumah pake laptop, hehehe

    BalasHapus
  6. Wah, senangnya bisa nobar..pasti seru :)

    BalasHapus
  7. waaahhhh...kedudukannya ternyata kebalik di akhir yaaa..jujur dikbud lebih "berasa" aura nonton "bioskopnya"..mungkin juga karena di perpusnas teater tidak hanya sekedar untuk nonton tapi juga untuk meeting ya...^0^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nonton di Dikbud kayak nonton di bioskop. Dikbud juara deh pokoknya!

      Hapus
  8. Blom pernah ke perpus dikbud. Moga suatu hari bisa kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk mbak kalau sempat mampir ke Dikbud. Tempatnya asik lho!

      Hapus
  9. Suka aku kalau ada tempat yang mengakomodir kebutuhan. Jadi langsung cus

    BalasHapus
  10. Suka aku kalau ada tempat yang mengakomodir kebutuhan. Jadi langsung cus

    BalasHapus
  11. Saya beberapa Kali ke perpustakaan nasional. Keren banget gedungnya., fasilitasnya komplit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya . Bangga deh sebagai orang Indonesia punya perpustakaan sekelas Perpusnas.

      Hapus
  12. Inget dulu sering ke perpustakaan nasional,sekarang jaramg sempat ngebolamg ke sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang perpusnasnya lebih asik loh mbak.

      Hapus
  13. baru tau ada teater di kedua instansi.. makin lengkap ya pilihan aktivitas kita.. engga melulu ke mal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas . Daripada ke mall kurang produktif, mending ke perpustakaan aja jd lebih produktif.

      Hapus
  14. Tadinya aku pikir perpusnas yang menang, ternyata dikbud yang menang hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk kejebak ya mbak. Secara keseluruhan dikbud lebih unggul mbak ketimbang Pusnas hihi

      Hapus
  15. wah keren banget lah bisa nobar terus, pasti seru

    BalasHapus
  16. asyiknya bisa nobar dan seru sekali dapat pengalaman baru ya.

    BalasHapus

Posting Komentar