Sang Pemenang

SANG PEMENANG
oleh : Noval Kurniadi



    Green Park London tampak ramai seperti biasanya. Orang-orang dari berbagai latar belakang berkumpul di taman yang terletak di kota Westminster, pusat London seluas 16 Km itu untuk melakukan kegiatannya masing-masing. Ada yang membawa anjingnya berjalan-jalan, ada yang berolahraga bahkan ada pula yang berpacaran.

            Dari sekian banyaknya pengunjung, seorang pria berambut pirang, bermata biru, tinggi, berkulit putih dan mancung khas orang-orang Inggris  berdiri di dekat Canada Memorial. Ia berkemeja abu-abu.

Canada Memorial merupakan tempat peringatan yang dibangun guna mengenang orang-orang Kanada yang terbunuh selama Perang Dunia pertama dan kedua. Bentuk Canada Memorial hampir mirip seperti piramida mini yang terbelah karena dipisahkan oleh celah jalan kecil.   Didominasi dengan warna perak, tempat itu diukir oleh Pierre Granche pada 1992 dan diresmikan oleh Ratu Elizabeth II pada 1994. Uniknya, terdapat banyak ukiran daun mapel di atas permukaannya.



            Belum lima menit pria itu berada di sana, tiba-tiba seseorang memanggilnya dengan kencang.

            “Adcock!”

            Pria yang dipanggil Adcock itu menoleh. Akhirnya wanita dengan rambut kuncir kuda dan bermata indah itu datang. Dengan baju putih bertuliskan “Creativity is GREAT”, teman Adcock itu melambaikan tangannya.       

“Hai Heather! Apa kabar?”

Mereka berjabat tangan.

            “Tentu saja baik. Bagaimana denganmu?”

            “Baik juga.”

            “Kamu sudah lama berada di sini?”

            “Tidak. Baru beberapa menit yang lalu.”

            “Kita mau pergi ke sana sekarang?”

            Adcock fokus menatap Heather.

            “Adcock?”

            Masih diam.

            “Adcock?”

            “Oke, ayo kita bergegas ke sana!”  

            Mereka beranjak pergi.

***

            “Ini tempat yang kamu maksud?” Tanya Adcock.

            “Ya, tentu saja.”

            “Sebuah halaman parkir swalayan?”

            “Ya. Ada yang salah?”

            “Tidak. Aku hanya bingung saja dengan apa maksudmu membawaku kemari.”

            Heather tersenyum. “Nanti kamu juga tahu apa maksudku.”

            Pukul 1 waktu London. Siang itu Heather dan Adcock tak ubahnya mata-mata Inggris. Mereka mendatangi sebuah swalayan. Mereka tak masuk ke dalamnya, melainkan hanya berdiri di salah satu sudut halaman parkir yang terdapat di sana sembari memperhatikan keadaan sekitar. Berada di kawasan Nothing Hil, lokasi swalayan yang mereka kunjungi tak begitu jauh dari Portobello Market. Portobello merupakan sebuah pasar barang antik seluas 2 Km, tempat para pengunjung bisa merasakan sensasi London tempo dulu lewat bangunan-bangunannya.

            Selagi Adcock dipenuhi dengan tanda tanya, tak lama kemudian sebuah mobil datang. Ketika seorang pria memarkirkan mobilnya di salah satu sudut halaman parkir kemudian masuk ke dalam swalayan, Heather mengutarakan maksudnya.

            “Kamu lihat mobil biru yang parkir di sana?” Tanya Heather.

            “Ya, aku melihatnya. Kenapa?”

            “Kamu lihat tanda itu?” Ujar Heather seraya menunjuk papan dan aspal bertuliskan “Difable only”.

            Adcock mengangguk. “Oh ya, aku mengerti apa maksudmu sekarang! Pria itu berfisik normal tetapi ia malah memarkirkan kendaraannya di tempat parkir khusus kaum difable! Memalukan!”

            “Tepat sekali! Sayangnya, ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, melainkan berulang kali. Padahal apa susahnya memarkir ke tempat yang lebih jauh dan berjalan sejenak untuk sampai ke dalam swalayan? Akibatnya, kaum difable yang hendak berbelanja mengalami kesulitan setelah memarkirkan mobilnya. Tempat parkir khusus kaum difable disediakan persis di depan swalayan. Namun lantaran banyak orang dengan fisik normal mengambil hak-haknya, kaum difable yang menggunakan kursi roda harus berjalan lebih jauh lagi. Menurutku ini amat menyedihkan dan kita tak bisa tinggal diam. Kita harus berbuat sesuatu untuk mereka.”

            “Adcock?” Tak lama kemudian Heather membuyarkan lamunan Adcock.

***

Masalah lahan parkir mungkin sepele. Namun mengambil hak orang lain tetaplah bukan hal baik. Sebenarnya Heather sudah beraksi dalam mengatasi masalah ini. Ia sudah menegur beberapa pemarkir yang ketahuan melanggar aturan lahan parkir. Namun lantaran cara tersebut tidak efektif dan mustahil jika dilakukan secara terus-menerus, ia berhenti melakukannya dan mencari solusi yang lebih kreatif. "Musuh masalah adalah kreativitas. Tugas kita dalam menyelesaikannya adalah dengan menjadi kreatif." jelas Heather.

Ia merasa bahwa orang menjadi tidak peduli dengan sekitarnya karena belum berkenalan dan tidak ada yang memperhatikan. Ia lantas beranggapan bahwa solusi dari masalah ini adalah bagaimana membuat orang-orang dengan fisik normal merasa telah ‘kenal’ dan diperhatikan oleh kaum difable tapi caranya harus kreatif. Ia pun mengutarakan usulnya pada Adcock, “Bagaimana jika pada setiap lahan parkir khusus kaum difable dipasang papan berfotokan beberapa orang difable berkursi roda dengan tulisan di bawahnya, “Terima kasih untuk tidak mengambil hak kami.”?

Adcock setuju. Ia pun membantunya. Mulanya mereka mendatangi sebuah komunitas peduli difable di London. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan, mereka meminta beberapa orang difable yang duduk di kursi roda untuk menjadi model foto secara sukarela agar nanti fotonya dipasang pada papan. Syukurlah. Komunitas yang mereka datangi menanggapi dengan positif.

***

Seorang pria hendak memarkirkan mobilnya di lahan parkir khusus kaum difable di sebuah swalayan. Mulanya ia ingin melakukannya. Namun begitu ia melihat papan dengan foto seorang pria paruh baya duduk di atas kursi roda dan membaca tulisan di bawahnya, ia merasa bersalah sehingga ia mengurungkan niatnya. Ini bukan kali pertama, melainkan sudah kelimapuluhdua kalinya seorang pengunjung swalayan batal memarkirkan mobil di lahan khusus orang difable.

***



            Dua minggu kemudian.

Pukul 14.00 Waktu London. Adcock berdiri di depan Istana Buckingham, tak jauh dari Green Park dengan pakaian ala preppy look. Kediaman Ratu Inggris yang didesain oleh Edward Blore itu makin cantik terpancar aura Victoria Memorial, sebuah monumen yang didedikasikan untuk Ratu Victoria yang diletakkan di depannya. Yang unik dari monumen itu adalah, di bagian paling atasnya terdapat Winged Victory, patung perunggu berupa sesosok ratu yang memiliki sayap sedang berdiri di atas bumi dengan tangan kanan diarahkan ke atas.

Heather datang. Adcock hampir tak mengenalinya karena Heather tampak cantik dengan balutan dress & sepatu hak merah muda. Namun begitu Heather meyakinkan bahwa ia adalah Heather, Adcock menyadarinya.

            “Ada apa kamu memintaku kemari?”

            “Aku ingin memberikan ini.” Adcock memberikan sebuah gulungan kertas.

            “Apa ini?”

            “Buka saja.”

            Heather bingung.

            “Aku tak mengerti.”

            “Maka dari itu bukalah. Kelak kamu akan mengerti.”

            Heather penasaran. Tanpa punya firasat apapun, dengan pelan ia membuka gulungan kertas tersebut. Kemudian ia membaca isinya.
            “Revisi hukum rimba: siapa yang kreatif, dia yang menang. Kamu memenangkan hatiku karena kreatif berarti memenangkan hati banyak orang.”

            Heather tertawa kecil. Di saat ia merasa terhibur dengan kertas Adcock, tiba-tiba kejutan yang tidak ia duga datang. Tak lama kemudian Adcock berlutut di hadapannya sembari menunjukkan sebuah kotak cincin lalu berkata, “Will you marry my creativity?”*

(jumlah kata: 993)

Komentar