Thailand Juara ASEAN, Indonesia Juara di Hati

SEA Games 2013 yang dilangsungkan di Nay Pyi Taw, Myanmar sebentar lagi akan usai. Dengan target 120 medali emas, Indonesia ditargetkan meraih juara umum sama seperti dua tahun lalu. Namun sayangnya hingga menjelang penutupan, merah-putih masih saja betah 'nangkring' di posisi keempat dengan jumlah medali sebanyak 259 buah dengan rincian : 65 emas, 84 perak dan 110 perunggu. Akibatnya Indonesia gagal mewujudkan ambisi untuk memenuhi target. Sementara Thailand patut berbangga sebab atlet-atlet mereka sudah lebih dahulu menasbihkan diri sebagai juara umum setelah meraih perolehan medali emas terbanyak.
Tidak bisa dipungkiri bahwa penyelenggaraan SEA Games kali ini penuh dengan kontroversi. Selain karena dihapusnya beberapa cabor olimpiade dimana beberapa di antaranya adalah cabor andalan Indonesia, dimasukkannya cabor dan nomor tradisional yang popularitasnya masih rendah, ditambahkannya nomor-nomor pada cabor yang dianggap sebagai cabor andalan Myanmar, terjadinya beberapa insiden ketidaksportivitasan Myanmar selaku penyelenggara, Myanmar juga memberikan kualitas pelayanan yang minim. Inilah yang menjadi alasan mengapa sebagian orang menyebut bahwa SEA Games kali ini adalah SEA Games terburuk sepanjang sejarah. Terlebih, Myanmar dituding menghalalkan berbagai cara untuk menjadi juara umum SEA Games 2013.

Ya, kita tentu boleh marah atas sikap Myanmar dalam mengumpulkan pundi-pundi medali. Selain Triyaningsih, Awaludin, atlet pencak silat, tim judo Indonesia, tim kata Indonesia, tim berkuda Indonesia, petinju Thailand dan perenang Filipina, tim kata Vietnam juga sempat menjadi 'korban' atas kecurangan Myanmar. Akibatnya, hal ini pun berpengaruh terhadap perolehan jumlah medali dan peringkat akhir SEA Games. Belum lagi dengan hal-hal lainnya yang tidak kita ketahui.

Kecewa? Tentu saja boleh. Kita juga boleh kecewa atas dihapusnya beberapa cabor olimpiade dan malah dimasukkannya cabor dan nomor tradisional serta ditambahkannya nomor-nomor 'buatan' yang sebenarnya tidak pernah dipertandingkan sebelumnya. Selain mengesankan tuan rumah 'ngebet' sekali ingin jadi juara umum, hal ini juga berdampak pada perolehan medali masing-masing negara. Terlebih beberapa cabor yang dihapus seperti tenis dan kompetisi beregu untuk cabor bulu tangkis merupakan cabor andalan Indonesia.

Padahal jika hal ini tidak dilakukan, boleh jadi Indonesia yang 'fix' berada di peringkat 4 bisa masuk ke 3 besar, runner-up atau justru (kemungkinan kecilnya) adalah menjadi juara umum. Bisa jadi pula Myanmar akan terlempar ke 4 besar atau justru lebih jauh lagi. Jika cabor andalan tidak dihapus, entah akan ada berapa emas yang disumbangkan oleh cabor-cabor itu untuk negeri ini.

Tidak. Ini bukan soal jadi juara umum atau tidak. Tetapi soal kejujuran dan perjuangan dari atlet kita yang bertanding. Tak apa jika kita tidak menjadi juara umum. Tapi bisakah kamu membayangkan bagaimana perasaanmu jika kamu menjadi atlet namun ternyata malah dicurangi? Bukankah itu menyakitkan? Kita telah berusaha keras sekuat tenaga dengan keringat dan jerih payah sendiri untuk mempersembahkan yang terbaik untuk negeri kita. Tapi jika ada yang berlaku tidak sportif? Sekali lagi, bukan soal medalinya. Ada yang jauh lebih penting daripada itu. Kemenangan yang dilandaskan oleh kejujuran. Itu yang jauh lebih penting. Faktanya, pengkhianatan atas kerja keras seseorang adalah hal yang amat menyakitkan.

Ah,, biarlah Tuhan yang menilai. Terlepas dari terjadinya berbagai kontroversi yang mewarnai hari-hari SEA Games, kita harus akui bahwa untuk SEA Games kali ini kita perlu introspeksi diri. Bukankah roda itu berputar? Boleh jadi 2 tahun lalu saat SEA Games diadakan di Jakarta dan Palembang kita berada di atas dan negara lain di bawah kita. Tapi dua tahun kemudian? Harus kita akui Thailand, Myanmar dan Vietnam kini berada di atas kita. Mungkin karena kita terlalu terlena atas kemenangan 2 tahun lalu menyebabkan kita gagal mempertahankan gelar sebagai juara bertahan di tahun ini. Oleh karena itu kita harus dapat menerimanya dengan lapang dada.

Kita boleh kecewa, tapi hambatan apapun yang menghadang seharusnya tidak bisa menjadi alasan kenapa kita gagal jadi juara umum dan harus puas di posisi ke-4 hingga hari terakhir penyelenggaraan SEA Games. Juara sejati tidak akan menyalahkan apapun sebagai penyebab kegagalannya. Di sisi lain, kita harus memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya karena setidaknya atlet-atlet kita telah memberikan yang terbaik untuk negeri ini.

Untuk Thailand kami ingin mengucapkan, "Selamat atas keberhasilannya lantaran berhasil menjadi juara umum SEA Games 2013!" Begitu pula untuk Vietnam dan Myanmar, selamat karena berhasil masuk 3 besar dan lebih baik daripada kami. Untuk Myanmar kami juga ingin mengucapkan, "Terima kasih atas pelajaran berharganya!" Berkat engkau, kami jadi tahu apa artinya dari sebuah perjuangan yang dilandaskan oleh kejujuran.
Sekali lagi, kita harus akui bahwa Thailand lebih unggul daripada kita. Ya, kita tahu bahwa Ia adalah juara umum di mata ASEAN. Tapi untuk Indonesia, apapun yang terjadi, jadi juara umum atau tidak di SEA Games, tetaplah juara di hati kami semua sampai kapanpun. Terima kasih untuk semua atlet yang telah berusaha keras dalam mengharumkan negeri ini! Semoga di SEA Games-SEA Games mendatang prestasinya lebih baik. Sampai berjumpa di SEA Games 2015!

Komentar