Teruntuk Keluarga

Sering saya mendengar orang ngomong, "Ikuti aja deh apa kemauan orang tua! Setiaporang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya kok!"

Akhirnya alih-alih ingin mendapatkan yang terbaik untuk dirinya, banyak anak yang terpaksa melakukan apa yang orang tua inginkan. Padahal di lubuk hatinya yang paling dalam, ia berat hati dalam menjalankannya. Ia merasa bahwa seekor anak burung tetaplah seekor anak burung. Ia harus terbang, bukan berjalan dan berkokok layaknya seekor anak ayam. Namun lantaran menurutnya 'terbaik', si anak burung terpaksa harus berpura-pura menjadi ayam.

N Y A T A N Y A... tidak semua orang tua ingin yang TERBAIK untuk anaknya.
Adakalanya mereka ingin yang TERBAGUS, bukan yang TERBAIK.
yang TERBAGUS belum tentu yang TERBAIK, hanya saja kadang-kadang mengaku-ngaku sebagai TERBAIK.
Sedangkan yang TERBAIK sudah pasti yang TERBAGUS.
Yang TERBAIK berujung pada kebahagiaan sedangkan yang TERBAGUS berpeluang menyengsarakan.
Realita berbicara.
Tidak sedikit anak dipaksakan untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Mereka beranggapan bahwa apa yang mereka pilih untuk anaknya adalah yang terbaik, tapi tidak, sejatinya itu yang terbagus bagi mereka.

Inilah kasus yang dialami oleh anggota keluarga kami. Salah satu anggota keluarga kami telah digunting 'sayap'nya oleh orang tuanya. Ia berpotensi untuk tidak dapat bermain musik lagi (mungkin selamanya) lantaran berpendapat bahwa musik itu haram. Padahal, ia termasuk anak yang berprestasi dan multitalented. Main musik pun juga sudah sedari lama. Anaknya juga baik. Ia juga tidak melakukan hal-hal di luar ajaran agama. Entah dari sisi mana penilaiannya, saya tidak mengerti. Antara penafsiran bahasa Tuhan dan apa yang seharusnya manusia lakukan. Tapi tunggu, jangankan menafsirkan bahasa Tuhan tentang halal-haram, bukankah menafsirkan bahasa sesama manusia juga berpeluang memicu kesalahpahaman? Dilematis. Tapi kami bisa apa?

Akankah hanya waktu dan Tuhan yang dapat mengembalikan sayap-sayapnya yang telah rapuh?

Teruntuk anggota keluarga kami,
Sahabat sekaligus adik kami,
Mungkin inilah selemah-lemahnya tindakan yang bisa kami lakukan untukmu
Buka telingamu lebar-lebar dan biarkan kami membisikkan sepatah dua patah kepadamu bahwa...
“Kamu tidak sendiri”
“Kamu tidak sendiri.”
“Sekali lagi, kamu tidak sendiri.
Kami senantiasa B E R S A M A M U.”
Lagipula bukankah kita adalah 'keluarga’?

Teruntuk anggota keluarga kami,
Sahabat sekaligus adik kami,
Kami tahu ini tidak mudah.
Kami hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja.
Tetaplah jadi burung yang berambisi menaklukkan puncak Himalaya.
Tetaplah jadi sang pelaut yang berusaha mengarungi 5 benua.
Tetaplah jadi Sir Edmund Hillary yang gigih menaklukkan puncak Everest.
Kami yakin kamu bisa melakukannya.
Lanjutkan penerbangan.
Lanjutkan pelayaran.
Lanjutkan pendakian.
Simpan petamu baik-baik untuk dapat melakukannya.
Ketiadaan sayap bukan menjadi penghalang untuk dapat terbang.
Ketiadaan layar bukan menjadi hambatan untuk senantiasa mengarungi samudera,
Kami tahu kau dapat terbang setinggi-tingginya atas masalah yang berat ini.
Menggapai bintang. Bulan. Komet mungkin. Siapa tahu?
Mengalahkan ombak. Merangkul samudera. Menguasai lautan, akankah?
Tidak ada yang bisa menyangkanya, bukan?

Maka biarkan kami membeberkan sebuah rahasia :
Sekeras-kerasnya batu pasti akan hancur dengan tetesan air hujan secara terus menerus.
Begitu pula dengan pendirian orang tuamu yang kekeh terhadap keberlangsungan segala bintangmu.
Insyaallah, dengan segala keteguhan hati yang luar biasa, pendiriannya akan berubah suatu waktu lalu mengizinkan untuk mengepakkan sayapmu kembali.
Yang penting...
Jangan pernah menyerah!
Jangan terus-terusan bersedih!
Kami tahu kau lebih kuat dari apa yang kami kira.
Kami tahu kebesaran hatimu lebih besar apa yang kami kira.
Ini hanya soal Tuhan dan waktu.
Maka jadilah teguh di saat yang lain runtuh.
Biarkan egonya luluh atas segala kegigihanmu.
Biarkan pikirannya berubah atas segala daya juangmu.
Biarkan hatinya cair atas segala keyakinanmu.
Biarkan semuanya terjadi!
Berproseslah dan biarkan waktu yang memprogress. Kami senantiasa mendoakanmu.
Setelah semua itu,
Percayalah…
akan ada hari dimana Tuhan dan Sang Waktu membuatmu menengok ke belakang lalu tersenyum.
Kami tunggu karya-karyamu lagi.

NB: Ditulis saat mendengarkan alunan musik. Kemudian gelap.

Komentar

Posting Komentar