Yang Asyik, Yang Tradisional

Klung! Klung! Klung!

Itulah bunyi alat musik yang kami mainkan di salah satu sudut lantai 3 Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan. Bukan hanya sekali ataupun dua kali, melainkan hingga berulang kali. Meskipun bunyinya hanya klung! klung! klung!, tapi cobalah untuk mendengarkannya dengan saksama.
Nadanya yang berbeda-beda namun tetap padu menjadikan nada-nada ini terdengar begitu indah. Asyik. Kadang-kadang menyanyikan lagu "Air On G String"nya karya Bach, kadang pula "Minuetto"nya karya Paul Mauriat. Dengarkanlah.... Melodi-melodinya terdengar begitu lembut. Mengalun. Damai. Tenteram. Seakan-akan mengajak kepada siapapun pendengarnya untuk larut di dalamnya.

Inilah kegiatan yang kami lakukan setiap Sabtu siang tiba. Kami yang terdiri dari berbagai latar belakang -entah itu mahasiswa, pelajar bahkan hingga guru sekalipun- berkumpul di salah satu sudut lantai 3 Pasaraya Blok M. Tidak sekadar bercengkerama dan bertukar pikiran satu sama lain, namun berkumpulnya kami di sana juga untuk menjalankan suatu misi mulia, yakni melestarikan angklung. Meski yang kami mainkan angklung, namun jangan salah, kami juga belajar teori modern dan meremix lagu barat dengan instrumen angklung. Komunitas Rumah Angklung menjadi wadah saya dalam berekspresi di bidang seni musik sejak Maret 2013 lalu.

BEDA ORANG, BEDA SELERA
Bicara tentang musik, sejujurnya saya tidak punya 'basic' atau latar belakang sama sekali tentang musik. Saya tidak terlahir dari keluarga pemusik. Jangankan latar belakang, alat musik pun juga tiada. Namun lantaran saya sangat suka dengan seni atau apapun itu yang berbau keindahan, entah itu seni bahasa, seni menggambar dan tak terkecuali dengan seni musik, saya suka mendengarkan musik. Bisa dikatakan tiada hari tanpa mendengarkan musik.

Masih soal musik, bagi saya setiap jenis musik ada penikmatnya tersendiri. Bisa jadi ada orang yang suka sekali dengan genre pop namun tidak suka dengan jazz. Atau justru sebaliknya. Tidak ada yang salah. Toh, kita tidak bisa memaksa seseorang untuk suka atau tidak suka terhadap suatu jenis musik tertentu. Sebab seperti yang saya katakan di awal, setiap jenis musik ada penikmatnya masing-masing. Masalahnya hanya terletak bagaimana seseorang mendefinisikan "asyik" pada musik yang mereka dengar. Kira-kira apakah musik A lebih asyik daripada musik B, musik B tidak lebih asyik dari musik C atau justru semua musik itu asyik? Setiap individu punya definisi yang beragam.

Tak berbeda dengan penikmat musik lainnya, saya juga demikian. Tidak semua musik saya anggap 'asyik'. Ada beberapa jenis musik yang saya suka dan saya anggap 'asyik' dan sebaliknya, ada pula beberapa jenis musik yang tidak saya suka serta tidak saya anggap 'asyik'. Bukan berarti musik yang tidak saya suka itu jelek. Ini hanya persoalan selera saja.

Nah, dari sekian banyaknya jenis musik yang ada, musik yang dibaluti alat musik tradisional adalah salah satu jenis musik yang saya anggap 'asyik'. Terlebih ketika musik tersebut dibalut dengan alunan angklung, saya pasti akan menyukainya. 

Penampakan para Awak RuAng usai latihan angklung
Saya akui, mulanya saya memang kurang suka terhadap musik yang ada unsur tradisionalnya. Jangankan suka, peduli ingin melestarikannya pun juga tidak. Tetapi seiring berjalannya waktu, pola pikir saya pun berubah. Sekarang saya jadi cinta dengan musik yang ada unsur tradisionalnya dan bahkan sekarang mempelajarinya.

Adalah Kongres Anak Indonesia (KAI) 2011 cikal bakal tumbuhnya cinta saya terhadap musik tradisional untuk pertama kalinya. Kala itu saya berkesempatan untuk mewakili provinsi DKI Jakarta dalam acara yang diikuti oleh ratusan anak dari seluruh Indonesia tersebut. Berhubung tuan rumah KAI kala itu adalah Bandung, Jawa Barat, maka pihak penyelenggara mengadakan sebuah inovasi berupa peresmian acara yang dilakukan dengan memainkan angklung secara bersama-sama. Yang menariknya lagi, di hari terakhir, setiap anak boleh membawa pulang satu buah angklung (nadanya berbeda-beda)! Nah, pada saat itulah saya beranggapan bahwa musik angklung itu asyik! Saya pun mendadak jatuh cinta terhadapnya. 

Mengapa? Karena tidak seperti alat musik gitar, biola dan bahkan piano yang butuh banyak waktu untuk bisa memainkannya, angklung justru bisa dimainkan oleh siapa saja. Entah itu orang dewasa, remaja bahkan anak kecil sekalipun!

Angklung sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia
Tambahan lainnya, angklung juga menjadi pertanda bahwa musik bisa menyatukan perbedaan untuk mencapai suatu tujuan. Terbukti, meski setiap orang memegang nada yang berbeda-beda, namun karena satu tujuan, yakni menyanyikan sebuah lagu, maka terciptalah alunan nada-nada dan melodi yang indah!

Sejak itulah saya jadi tertarik untuk mempelajari angklung. Akhirnya setelah 2 tahun mencari info ke sana kemari, Komunitas Rumah Angklung menjadi pelabuhan saya untuk mendalaminya. Google-lah yang menjadi penolong saya dalam menemukan komunitas ini. 


Kemudian hanya berbekal niat untuk belajar dan melestarikan angklung sebagai warisan budaya dunia, tanpa punya latar belakang musik sama sekali, saya pun memberanikan diri untuk menjadi bagian di RuAng (singkatan dari Rumah Angklung). Padahal saya tidak kenal siapapun anggota di Rumah Angklung kala itu.

Maka di saat sebagian besar orang lebih memilih mempelajari musik modern ketimbang tradisional, saya justru sebaliknya. Saya malah lebih memilih mendalami musik yang ada unsur tradisionalnya ketimbang musik luar. Tidak ada yang salah jika ada yang mempelajari musik modern. Jika ada yang mau mendalaminya, silakan saja. Hanya saja alangkah baiknya jika minat belajar terhadap musik modern diimbangi dengan minat yang besar pula terhadap musik tradisional. Saya rasa itu lebih baik.

YANG ASYIK, YANG TRADISIONAL
Saya setuju dengan apa yang tertulis di blog emak2blogger.web.id. Di sana dijelaskan bahwa musik adalah bahasa universal. Ia
digunakan sebagai salah satu cara untuk mengungkapkan perasaan yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Musik dapat menyatukan perbedaan.

Tak terkecuali dengan musik tradisional. Meski (mungkin) kata sebagian orang musik tradisional itu kuno dan bahkan dipandang sebelah mata, eits.. jangan salah, mereka juga bisa menjadi 'jubir' sekaligus identitas dan pemersatu atas suatu perasaan yang ingin kita utarakan. Entah itu gamelan, keroncong bahkan hingga arumba, yang salah satunya terdiri dari alat musik angklung lahir di negeri ini.

Sayangnya, masih ada saja orang yang beranggapan bahwa musik tradisional itu 'tidak asyik'. Alih-alih mengikuti arus globalisasi, ternyata malah melupakan musik khas negeri sendiri. Akibatnya presentase orang yang belajar jenis dan alat musik tradisional masih lebih rendah ketimbang musik modern.

Saya mengakui bahwa saya belum berkontribusi banyak dalam melestarikan alat musik tradisional. Bahkan saya pun juga belum mahir dalam mengutarakan perasaan saya lewat alat musik tradisional -dalam hal ini angklung. 

Kendati demikian saya tidak peduli. Yang terpenting saya bertekad untuk terus mempelajari alat musik tradisional ataupun musik yang ada unsur tradisionalnya. Tidak hanya sekadar suka, saya bersama teman-teman saya di RuAng juga akan terus berusaha untuk menyebarkan virus musik tradisional (khususnya angklung) agar semakin banyak orang yang beranggapan bahwa alat musik tradisional ataupun musik yang ada unsur tradisionalnya itu asyik, tidak kalah dengan musik modern.

Akhir kata, sebelum saya menutup postingan ini, izinkan saya mengutip perkataan salah satu tokoh ilmuwan, Albert Einstein. Ia pernah berkata, "If I were not a physicist, I would probably be a musician. I often think in music. I live my daydreams in music. I see my life in terms of music."*

Komentar

  1. Selamat pagi sahabat, trimakasih sudah berpartisipasi di dalam lomba menulis blog “Musik Yang Asyik”, ya. Sukses selalu untukmu dan kita semua. ☺
    Saleum.

    BalasHapus

Posting Komentar