Sebenarnya Saya Bisa Saja Memilih Prospek...

Sering sekali saya bertemu dengan orang baru namun ia sudah curhat panjang lebar tentang pengalaman hidupnya kepada saya. Kalau saya sih justru sebaliknya. Saya tidak terbiasa curhat dengan orang baru, kecuali hanya sekadar basa-basi. Kalaupun sudah kenal cukup lama juga saya juga tidak sembarangan bercerita. Saya akan pilih-pilih orang. Kira-kira apakah orang tersebut bisa menjadi pendengar yang baik atau tidak. 

Padahal bisa saja saya merupakan pendengar yang buruk bagi teman saya yang baru ini. Namun entah mengapa ia sudah bercerita tentang beberapa hal yang terjadi dalam hidupnya.

Ya, seperti yang saya alami kemarin.

Ketika istirahat dalam pelatihan jurnalistik mahasiswa yang dilaksanakan di SC, saya berkenalan dengan Aden, salah seorang mahasiswa jurusan PA alias perbandingan agama. Jurusan ini ada di fakultas ushuluddin dan filsafat. Dari jauh, sekilas Aden tampak seperti orang bule. Namun ternyata ia berdarah Pasundan.

Perkenalan kami dimulai ketika saya hendak makan siang namun saya bingung ingin makan di mana. Sedangkan saya seorang diri dan tidak ada satu pun orang yang saya sudah kenal sebelumnya. Berhubung kala itu saya melihat Aden juga bingung mau makan dimana, saya pun mengajaknya berkenalan lalu makan bersama dengan yang lain di basement fakultas adab. Siapa tahu kami bisa menjadi sahabat karib.

Semula ia memanggil saya 'abang'. Mungkin saya dikira senior kali ya. Padahal sebenarnya kami seumuran. Tidak ada pembicaraan kala itu, hanya sebatas basa-basi perkenalan saja. Tak lama setelah kami makan secara bersama-sama dengan beberapa peserta PJM lainnya, kami bergegas sholat.

Usai sholat dzuhur, saya mencoba untuk membuka pembicaraan. Saya memang senang mendapatkan teman baru. Sekadar basa-basi aja sih awalnya. Saya tanya apa itu jurusan PA dan ia berasal dari mana. 

Tak lama kemudian ia bercerita bahwa jurusan PA tidak seperti apa yang dibayangkan oleh orang-orang kebanyakan. Katanya, mentang-mentang ada kata 'perbandingan agama' banyak orang beranggapan bahwa di jurusan PA kerjaannya cuma banding-bandingin agama doang. Termasuk saya, awalnya saya juga mikir kayak gitu. 

Akhirnya kerancuan saya terjawab. Teman baru saya ini, Aden menjelaskan bahwa maksud dari kata 'perbandingan' di sini bukan berarti satu agama dengan agama lain dibanding-bandingin. Lagipula buat apa juga dibanding-bandingin? Ia menjelaskan bahwa di jurusan perbandingan agama para mahasiswanya diajarkan tentang mengenal agama lain selain Islam, bukan membanding-bandingkan. Just study, not learn. 

Loh? Emang apa bedanya? Katanya, study tidak berarti diaplikasikan dalam kehidupan sedangkan learn sudah pasti diaplikasikan. Jadi meskipun mahasiswa PA belajar tentang agama Kristen, Budha bahkan hingga Hindu sekalipun, karena sistemnya 'study' dan bukan 'learning', maka insyaallah tidak ada yang melenceng dari agama Islam.

Ia juga sempat bercerita kepada saya bahwa pada mulanya orang tua dan sebagian besar keluarganya tidak setuju bahwa ia masuk PA. Katanya, "Ngapain sih masuk PA? Emang mau jadi apa?"


Keinginannya ditentang. Pilihannya seakan salah. Pesan tersirat seakan mengatakan bahwa, "PA jurusan yang kurang menjanjikan!"

Jujur saja, ia sendiri memang mengakui bahwa jurusan PA kurang menjanjikan. PA? Mau kerja jadi apa dan dimana? Memang ada?

Kalaupun ada, katanya mungkin peluang paling besar ada di kementerian kebudayaan.


Namun ia menjawab kepada kedua orang tuanya bahwa, "Saya ingin jadi intelek!"

"Sebenarnya saya bisa saja memilih prospek. Apalagi saya sudah memilih jurusan ilmu politik di UIN Bandung.

Komentar