Era Disrupsi Teknologi Tiba, Saatnya Perusahaan Telekomunikasi untuk Beradaptasi

Teman-teman, sadar enggak sih kalau sekarang kita sedang memasuki era disrupsi teknologi? 

Menurut KBBI, disrupsi adalah hal tercabut dari akarnya. Jika diartikan dengan konteks teknologi, maka era disrupsi adalah era dimana lahirnya berbagai inovasi yang menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Intinya, di era ini terjadinya berbagai perubahan dalam teknologi secara cepat, mulai dari bisnis, kompetisi, adopsi, inovasi teknologi dan bahkan hingga perubahan organisasi.
Seminar disrupsi telekomunikasi: beradaptasi atau tenggelam (dokpri)
Era disrupsi dapat terjadi di sektor apapun. Dengan semakin tingginya para pengguna telekomunikasi, sektor telekomunikasi adalah salah satu yang terkena dampaknya.

Misalnya nih, dulu kita pakai SMS kan untuk menghubungi orang lain dari jarak jauh. Mulai dari kasih kabar ke orang tua, nanyain tugas sekolah sama temen atau bahkan buat PDKT sama lawan jenis (saya banget nih dulu waktu SMP), semuanya dilakukan via SMS. 

Telepon juga bisa aja sih. Tapi karena lebih mahal, maka SMS jadi tren yang populer saat itu. Dengan kisaran harga Rp150-Rp350 per sms, bisa dibayangin kan betapa banyaknya keuntungan perusahaan telekomunikasi yang didapatkan dari para pengirim SMS saat itu?
Itu sih dulu. Tapi sejak datangnya aplikasi penyedia chatting seperti whatsapp atau LINE, SMS jadi kurang laku karena orang-orang telah beralih ke WA. Akibatnya, perusahaan telekomunikasi enggak bisa lagi ngandelin SMS karena profitnya telah menurun drastis.

Contoh lainnya, dulu kan kalau mau internetan kita pakai jaringan 3G. Tapi sejak masuknya teknologi 4G yang lebih canggih dan lebih cepat, maka orang-orang pun mulai meninggalkan 3G dan beralih ke 4G. Itu pun mungkin enggak berlangsung lama lagi karena era 5G sudah siap-siap menggantikan era 4G.

Dengan kata lain, disrupsi adalah suatu hal yang pasti dan tak dapat dihindari.

Transformasi dan Kolaborasi, Kunci Utama dalam Hadapi Disrupsi Telekomunikasi

Seperti yang dialami oleh negara-negara lain, era disrupsi dalam bidang telekomunikasi juga menjadi masalah serius di Indonesia. 

Oleh karena itu, Indonesia ICT Institute, lembaga independen yang bergerak dalam perkembangan teknologi dan informasi termasuk bidang telekomunikasi pun menyelenggarakan seminar bertemakan "Disrupsi Telekomunikasi: Beradaptasi atau Tenggelam?" pada Rabu, 5 Februari 2020 di Balai Kartini, Jakarta. Sebagai orang awam, menurut saya acara ini menarik banget karena membuka wawasan saya tentang dunia telekomunikasi.

Seminar tersebut turut dihadiri oleh dua orang narasumber yang berkompeten di dalamnya. Selain Heru Sutadi selaku Direktur Eksekutif ICT Institute, acara juga dihadiri oleh pembicara Nonot Harsono sebagai pakar telekomunikasi.
Heru Sutadi, Direktur Indonesia ICT Institute memaparkan penjelasan dalam seminar (dokpri)
"Disrupsi teknologi mengancam keberlangsungan operator telekomunikasi. Bisnis legacy seperti voice dan SMS tidak lagi bisa diandalkan dan mulai tergantikan oleh layanan teknologi digital baru over-the-top." jelas Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi.

Untuk bisa menghadapi disrupsi, perusahaan telekomunikasi tidak bisa tinggal diam begitu saja. Perusahaan telekomunikasi harus beradaptasi. Sebab jika tidak, mereka bisa tenggelam seperti yang telah terjadi pada blackberry dan Nokia yang memilih untuk acuh pada perkembangan teknologi.

Seperti yang disampaikan oleh pakar telekomunikasi Nonot Harsono, setidaknya ada 2 langkah utama yang bisa diambil oleh perusahaan telekomunikasi agar terus bertahan dari terpaan disruspi teknologi.

1. Transformasi

Pertama adalah transformasi. Untuk menghadapi segala perubahan yang serba cepat terjadi, perusahaan telekomunikasi harus melakukan transformasi yang bertumpu pada tiga aspek, yakni merumuskan kembali visi dan kepemimpinan, inovasi dan adopsi.

"Transformasi operator telekomunikasi harus dimulai dengan perubahan mindset, transformasi dari layanan konvensional menjadi solusi digital serta efisiensi organisasi yang berfokus menjawab kebutuhan pelanggan secara spesifik dan bertindak secara lebih cepat." jelas Nonot Harsono.

Salah satu cara transformasi adalah dengan melakukan modernisasi peralatan atau infrastruktur teknologi yang dimiliki. Dalam hal ini, sebuah perusahaan telekomunikasi mesti rajin mengupgrade peralatan teknologi yang dimilikinya menjadi peralatan yang lebih canggih sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat. 

Intinya, perusahaan tuh harus ngikutin perkembangan jaman. Jangan kudet. 

2. Kolaborasi

Transformasi adalah hal penting untuk dilakukan. Namun itu saja tidak cukup. Agar bisa terus panjang umur, perusahaan telekomunikasi juga mesti melakukan sinergi dan kolaborasi dengan pihak-pihak lain. Melakukan jejaring adalah kuncinya.

Misalnya, sekarang nonton film via streaming sedang jadi tren. Nah, di sinilah kejelian operator telekomunikasi diuji karena ada peluang dalam kesempatan apapun.

Operator telekomunikasi yang cerdas pasti akan memanfaatkan momen tersebut dalam meraup keuntungan tersebut dengan membuat paket internet khusus yang mencakup biaya langganan nonton film secara streaming. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Telkomsel saat bekerja sama dengan HOOQ.

Melakukan jejaring adalah kuncinya. Tak semata dengan aplikasi nonton film streaming, namun juga sinergi dengan pihak lainnya seperti Google, whatsapp atau bahkan Tiktok.


Itulah pembahasan tentang disrupsi teknologi dan tentang bagaimana perusahaan telekomunikasi harus menghadapinya. Dari seminar yang saya ikuti tempo lalu saya jadi belajar bahwa disrupsi adalah suatu keadaan yang tak bisa dihindari.

Poinnya adalah perkembangan teknologi bergerak cepat. Jadi, mau enggak mau dan suka enggak suka, perusahaan telekomunikasi harus melakukan tindakan. Sayangnya, hanya ada dua opsi yang bisa dipilih: beradaptasi atau justru tenggelam?

Komentar

  1. Aku masih inget banget dulu suka sms an sama temen buat nanya tugas sekolah, sekarang kalau nerima sms biasanya auto abaikan gitu...karna udah berubah jamannya ya.

    BalasHapus

Posting Komentar