Bersama Kafe BCA, Optimis Sambut Ekonomi Indonesia 2020 di Pemerintahan yang Baru

Enggak terasa sebentar lagi 2019 berakhir. Memasuki tahun baru 2020 yang akan berlangsung sekitar 3 bulan lagi, tentu ada berbagai tantangan yang menghadang. Sebagai sektor fundamental yang menentukan kehidupan bangsa ke depannya, ekonomi menjadi sektor yang harus diperhatikan.

Lantas seperti apakah kondisi ekonomi global saat ini dan apa yang mesti Indonesia lakukan untuk menghadapi tantangan di tahun depan? Nah, inilah yang dibahas dalam Kafe BCA pada Jumat, 18 Oktober 2019 lalu. Kafe BCA sendiri adalah sebuah forum diskusi yang diadakan oleh BCA dengan mengangkat isu ekonomi sebagai topik bahasannya.

Sebenarnya Kafe BCA diadakan setiap 3 bulan sekali di Menara BCA lantai 22. Namun pada edisi ke-11 kemarin, saya baru mengikutinya untuk pertama kali. Seketika saya merasa senang karena saya bisa mendapatkan berbagai wawasan dan pengetahuan baru dalam bidang ekonomi. Sebagai generasi milenial, sudah seharusnya kita melek akan keadaan ekonomi di negeri sendiri.

Dengan mengangkat tema "Economy Outlook 2020", kali ini BCA mengajak berbagai kalangan untuk melihat prediksi ekonomi sekaligus gambaran tentang apa yang mesti kita lakukan dalam menghadapi tahun 2020. Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Bayu Sutiono, seorang pembawa berita kawakan dan menghadirkan berbagai narasumber kompeten dalam bidang keuangan, di antaranya adalah David Sumual (Kepala Ekonom BCA), Pieter Abdullah (Direktur Riset CORE Indonesia) dan Febrio Nathan Kacaribu (Kepala Kajian Makro LPEM UI).
"Economy Outlook 2020", jadi tema utama di diskusi santai di Kafe BCA ke-11 (dokpri)

Ekonomi Indonesia 2020 Capai 5,3%, Realistis?

Dalam diskusi "Economy Outlook 2020" yang dilakukan di Kafe BCA dijelaskan bahwa saat ini  Indonesia memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi pada 2020 mencapai 5,3%. Padahal Bank Dunia memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 hanya sebesar 5% dan beberapa pihak bahkan menyatakan di bawah 5%. Wah,wah...

Menurut kalian gimana? Saya sendiri sih merasa kok kurang realistis ya? Soalnya Bank Dunia aja memprediksi 5%. Kok Indonesia berani-beraninya masang target 5,3%?

Itu sih kata saya. Namun menurut Direktur Riset CORE Indonesia Pieter Abdullah, realistis atau tidak itu tidak dilihat dari angkanya, melainkan tergantung dari  upayanya. Semakin besar upaya yang dilakukan, maka semakin mudah bagi Indonesia untuk mencapai angka tersebut. Untuk melihat pertumbuhan ekonomi di masa depan, Pieter kemudian membuat dua skenario, yakni baseline dan optimis. 
 
"Baseline adalah kondisi dimana most likely seperti apa kebijakan dan target yang diambil oleh pemerintah, baru kita bandingkan ini realistis atau tidak. Dalam hal ini pemerintah harus mengambil kebijakan yang ideal untuk diambil. Untuk baseline, perkiraan saya untuk pertumbuhan ekonomi tahun depan relatif agak suran. Tapi untuk optimis, kalau pemerintah melakukan kebijakan yang tepat, bukan tidak mungkin pertumbuhan kita akan melebihi target. Balik lagi, itu tergantung pada upaya yang dilakukan." papar Pieter.

Di acara diskusi tersebut saya baru tahu bahwa ternyata ada 2 faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Pertama adalah faktor global dan kedua adalah faktor domestik. Baik global dan domestik, kedua-duanya memiliki tantangan dan peluang. Kalau kata Pak Pieter sih, kuncinya adalah bagaimana kita melakukan antisipasi kondisi global dan memanfaatkan peluang di domestik.

Masih bergantungnya Indonesia pada produk-produk komoditi serta menurunnya harga dan permintaan di sektor komoditi membuat kita enggak bisa lagi berharap terhadap ekspor pada 2020. Terjadinya berbagai kondisi global seperti perang dagang antara Amerika Serikat, Brexit (keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa) dan ketegangan politik di Timur Tengah sebenarnya adalah tantangan, namun di sisi lain adalah peluang bagi Indonesia.

Perang dagang antara AS vs Tiongkok, salah satu masalah global yang sedang terjadi (dok. SHUTTERSTOCK)
Dengan tindakan bank-bank sentral global dalam mengambil kebijakan yang lebih longgar dengan cara menurunkan suku bunga, Indonesia memiliki peluang besar pada tahun depan. Pada 2020 diprediksi aliran modal bertambah sehingga tekanan untuk tahun depan menjadi berkurang. Yeay!

Lalu gimana dengan kancah domestik? Untuk kancah domestik sebenarnya sih bukan hal yang menggembirakan juga. Saat ini kita sedang mengalami defisit neraca perdagangan akibat komoditas global turun dan berdampak pada rupiah itu yang terjadi pada 2018 dan awal 2019. Namun ternyata kita enggak perlu khawatir. Adanya peluang global membuat aliran modal masuk sehingga rupiah menjadi lebih kuat, inflasi relatif rendah dan nilai tukar relatif terjaga. Mantap!

David Sumual selaku Kepala Ekonom BCA menjelaskan bahwa Indonesia sangat kuat di sisi konsumsi domestik.  Ia kemudian membandingkan keadaan ekonomi antara Indonesia dan Vietnam.  "Dibandingkan dengan Vietnam, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar. Vietnam mengalami kerepotan ketika investasi masuk karena infrastrukturnya belum siap, namun Indonesia sudah siap karena sudah membangun infrastruktur yang memadai."

Dari 17 sektor yang dimiliki Indonesia, sektor pergudangan (storage) dan transportasi menjadi sektor yang paling strategis dalam PDB kita. Hal itu disampaikan oleh Febrio Nathan Kacaribu sebagai Kepala Kajian Makro LPEM UI. "Sektor pergudangan dan transportasi luar biasa karena sejak 2015 banyak mal tutup sehingga banyak pelaku usaha yang beralih ke tempat penyimpanan dan ekspedisi." kata Febrio.

Ini Dia 3 Kebijakan yang Harus Pemerintah Lakukan!

Dari berbagai pemaparan narasumber, saya akhirnya tahu bahwa Indonesia memiliki peluang yang sangat besar dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada. Namun menurut saya kita enggak boleh lengah sedikit pun agar karena keadaan ekonomi itu bersifat dinamis. Kita harus melakukan beragam terobosan agar pertumbuhan ekonomi tanah air pada 2020 bisa didapatkan dengan hasil maksimal.

Menurut Pieter, setidaknya ada 3 kebijakan yang mesti dilakukan oleh Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi dunia, yakni kebijakan fiskal, kebijakan moneter dan kebijakan sektor riil. Untuk kebijakan moneter telah dilakukan, sehingga tersisa dua kebijakan lagi yang masih menjadi PR pemerintah.

Pada kebijakan fiskal, Pieter berharap pemerintah melakukan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif melalui kegiatan belanja yang lebih besar agar terjadi stimulus fiskal. Selain itu diharapkan pemerintah juga melakukan counter cylical policy dengan memberikan intensif pajak yang lebih besar. Memang akan terjadi konsekuensi berupa penerimaan akan turun dan belanja akan naik, namun inilah salah satu terobosan yang bisa dilakukan.
Moderator dan para narasumber Kafe BCA: Economy Outlook 2020 (dokpri)
Sementara pada kebijakan sektor riil, pemerintah diharapkan dapat membuat kebijakan yang memudahkan investasi. Pada pemerintahan Jokowi periode pertama, sebenarnya sudah ada upaya, namun sayangnya belum nendang.

Beruntung pemerintah menyadari itu lewat pecanangan omnibus law. Omnibus law sendiri adalah rangkuman dari kebijakan-kebijakan yang menghambat yang digabung menjadi satu UU dan ketentuan perundang-undangan yang mencakup proses perizinan, ketenagakerjaan dan perpajakan.

Tak terasa diskusi santai di Kafe BCA selesai diadakan. Wah, saya baru tahu bahwa ternyata peluang akan selalu ada dan tugas kita adalah memanfaatkannya sebaik-baiknya.

Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin dan Kabinet Maju telah dimulai. Indonesia telah memasuki lembaran baru dalam menjadi bagian sejarah di dunia. Sebagai masyarakat Indonesia, saya mendukung program-program yang dilakukan pemerintah dan optimis bahwa pemerintahan yang baru ini dapat menjawab tantangan ekonomi bangsa di tahun 2020 dan tahun-tahun mendatang.
Kabinet Indonesia Maju (dok. Kompas.com)

Komentar

  1. Semoga tahun 2020 tercapai ya targetnya, aku jugaa optimis kok kalau pertumbuhan ekonomi bangsa Kita akan meningkat tahun depan..

    BalasHapus

Posting Komentar