Kenali Talasemia, Ayo Putus Mata Rantainya!

Teman-teman ada yang pernah dengar talasemia?

Wah, kedengarannya sih masih asing. Namun sebenarnya istilah ini perlu kita ketahui karena talasemia membahayakan kesehatan manusia. Saya sendiri baru mengenal istilah ini beberapa waktu lalu saat menghadiri peringatan Hari Talasemia Sedunia 2019 yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan RI. Entah ini sudah kali keberapa saya mengikuti kegiatan Kemenkes. Yang jelas udah banyak :D

Hari Talasemia sendiri sebenarnya jatuh pada 8 Mei. Namun Kementerian Kesehatan sendiri baru merayakannya pada Selasa, 20 Mei 2019 di Aula Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi, Kemenkes. Khusus tahun ini Kementerian Kesehatan mengusung tema "Putuskan Mata Rantai Talasemia".
Poster Hari Talasemia Sedunia (dok. Kemenkes RI)
 Nah, sebenarnya apa sih talasemia itu sendiri?

Jadi, talasemia adalah penyakit kelainan darah merah yang diturunkan dari kedua orang tua kepada anak dan keturunannya. Talasemia disebabkan karena berkurangnya atau tidak terbentuknya protein pembentuk hemoglobin utama manusia. Akibatnya, sel darah merah mudah pecah sehingga pasien menjadi pucat karena kekurangan darah alias anemia.

Talasemia sendiri dibagi jadi tiga jenis, yakni talasemia minor/trait/pembawa sifat, talasemia intermedia dan terakhir adalah talasemia mayor. Yang paling parah jelas adalah talasemia mayor. Meski tingkatannya berbeda-beda, setiap pengidap talasemia berpotensi menurunkan talasemia kepada keturunannya.

Hal yang menyedihkan adalah ternyata talasemia dapat ditemui di seluruh dunia atau dikenal dengan istilah thalassaemia belt. Selain Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia, talasemia juga menyebar hingga ke negara-negara Timur Tengah, Afrika sub-sahara dan bahkan negara-negara Mediterania.
Thalassemia belt (dok. slideshare.net)
 Prevalensi penduduk dunia yang memiliki kelainan gen hemoglobin mencapai sekitar 7-8%. Enggak main-main, saya baru tahu bahwa ternyata di Indonesia sendiri seenggaknya ada sekitar 20 juta penduduk Indonesia yang mengalami kelainan gen ini. Hiks.

Meski talasemia adalah penyakit yang harus kita hindari, enggak perlu parno lho kalau kita punya teman atau kenal dengan seorang pengidap talasemia. Soalnya talasemia adalah penyakit keturunan dan bukan penyakit menular sehingga kita akan tetap aman jika melakukan kontak dengan penyintas talasemia.

Terus Gimana Kita Mengenalinya?

Kemudian tibalah kita pada pertanyaan penting. Oke, kita sekarang udah tahu bahwa talasemia adalah penyakit berbahaya. Terus gimana dong cara kita tahu apakah seseorang termasuk kita mengalami talasemia atau tidak?

Eits, enggak perlu khawatir. Melalui acara yang diadakan oleh Kemenkes, saya tahu beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengenali apakah seseorang mengidap talasemia atau tidak.

1. Cek riwayat kesehatan keluarga

Yap! Enggak salah lagi. Hal paling dasar yang dapat kita lakukan pertama kali adalah ketahuilah riwayat keluarga dengan talasemia atau transfusi berulang. Cek riwayat kesehatan keluarga, itu yang terpenting.
(dok. clipart library)
Coba deh telusuri dan perhatikan ke kakak, adik, orang tua atau kakek nenek kita. Di antara mereka, kira-kira ada enggak sih yang divonis mengidap talasemia atau melakukan transfusi berulang? 

Jika ada, kita patut waspada karena ada kemungkinan kita memiliki sifat talasemia dalam diri kita. Sebaliknya, jika enggak ada sama sekali, maka kemungkinan besar kita sehat.

Kenapa? Soalnya seperti yang dijelaskan di awal, talasemia adalah penyakit yang didapatkan dari keturunan. Kalau keluarga kita terutama orang tua atau pendahulu-pendahulu enggak punya riwayat penyakit talasemia atau pengalaman tentang transfusi darah berulang, maka insyaallah kita juga sehat. Amin.

2. Kenali ciri-cirinya

Seperti penyakit pada umumnya, talasemia meninggalkan ciri-ciri tertentu pada para pengidapnya. Nah, untuk mengatasi hal ini maka penting banget bagi kita untuk mengenalinya.

Tanda-tanda penyakit talasemia antara lain adalah wajah yang tampak pucat dan lemas karena anemia, warna kulit cenderung lebih gelap (hitam) dan bahkan perut yang membuncit akibat proses transfusi darah yang berulang, warna urin yang gelap, penyakit kuning dan bahkan nafsu makan yang memburuk.

3. Skrining

Ini dia langkah penting yang perlu kita lakukan untuk mengetahui apakah seseorang mengidap talasemia atau tidak. Yap, apalagi kalau bukan dengan skrining lewat pemeriksaan darah.
Skrining, cara yang dapat kita lakukan untuk mengetahui apakah seseorang mengidap talasemia atau tidak (dok. Kemenkes)
Dengan cara seperti ini, kita akan mengetahui seberapa besar kadar hemoglobin darah yang kita miliki. Kita juga akan tahu seberapa banyak MCV (Mean Corpuscular Volume) alias volume rata-rata sel darah merah dan MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) alias perkiraan berat/jumlah rata-rata hemoglobin pada setiap sel darah merah.

Saat melakukan ini kita berharap bahwa hasil yang dikeluarkan akan berakhir baik karena itu artinya kita terhindari dari talasemia.

Ayo Putus Mata Rantainya!

Ada fakta mengejutkan dari talasemia. Ternyata talasemia adalah penyakit yang belum dapat disembuhkan karena penyakit ini menimbulkan berbagai komplikasi. Selain melakukan transfusi darah seumur hidupnya, penderita talasemia khususnya mayor juga harus mengonsumsi obat tertentu untuk mengeluarkan zat besi yang berlebihan di dalam tubuhnya. 
 
Sebenarnya seorang penderita juga bisa melakukan cangkok sumsung tulang belakang, terapi sel punca dan terapi genetik lainnya. Tapi sayangnya, biaya untuk melakukan ini terbilang mahal sehingga masih sulit dilakukan.

Kendati demikian, enggak berarti kita hanya tinggal diam aja loh. Mau enggak mau, kita harus melakukan sesuatu. Solusinya? Ayo putus mata rantainya!

Caranya dimulai dari sendiri. Salah satunya adalah dengan melakukan pemeriksaan darah sebelum melangsungkan pernikahan.
 
Eh, emang ada hubungannya antara talasemia dengan pernikahannya?
 
Jawabannya, ada dong! Kita ingat kan bahwa talasemia adalah penyakit keturunan? Nah, jika seseorang melakukan perkawinan dengan seorang pengidap talasemia, maka keturunan yang dihasilkan berpotensi mengidap talasemia.
Pentingnya memeriksakan kesehatan sebelum menikah (dok. theatlantic.com)
Jika salah satu orang tua adalah orang normal sedangkan satunya lagi adalah pembawa sifat talasemia, maka presentasi anak terlahir normal adalah sebesar 50% dan anak membawa sifat talasemia adalah sebesar 50%. Kalau salah satu orang tuanya normal saja anak berpeluang membawa talasemia, apalagi jika keduanya membawa sifat talasemia dan bahkan jenisnya adalah talasemia mayor. Tentu peluang seorang anak untuk mengidap talasemia akan semakin besar.

Dengan mengetahui riwayat kesehatan pasangan sebelum melangsungkan pernikahan, maka kita bisa melakukan konseling genetik sebelum pernikahan atau sebelum hamil untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
(dok. medicalnewstoday.com)
Enggak hanya bagi pasangan yang hendak melakukan pernikahan aja, ibu hamil juga bisa berperan lho dalam memutus mata rantai talasemia. Saat hamil ia dapat memeriksakan janinnya dengan pemeriksaan khusus pada dokter spesialis dokter kandungan untuk mengetahui apakah anaknya akan lahir dengan talasemia atau tidak.

Itulah beberapa cara yang dapat kita lakukan dalam memutus mata rantai talasemia. Enggak mudah, tapi saya optimis bahwa jika kita melakukannya secara kompak, bukan hal mustahil jika talasemia benar-benar dapat terputus. Ayo putus mata rantai talasemia sekarang juga!

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Jadi inget salah satu anak magang di kantorku merupakan penderita thalasemia mayor juga, setiap bulannya harus transfusi darah di rumah sakit. setuju banget dengan pemaparan kakak...yuk temen temen kita putus mata rantai thalasemia mulai dari cek kesehatan saat mau menikah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Turut prihatin atas apa yang menimpa teman kalinda. Semoga ia baik-baik selalu ya ka.

      Hapus

Posting Komentar