Review Kartu Pos Dunia yang Dikoleksi Sejak 2013, dari Nepal hingga Ceko! (part 1)

Sejak masih sekolah, gue pengen banget traveling keliling dunia. Rasanya menyenangkan ketika kita bisa mengunjungi sekaligus mengenal berbagai daerah di dunia. Gue pun sering bertanya-tanya kepada diri sendiri, "Kapan ya gue bisa ke tempat itu?" "Kapan ya gue bisa ke sana?'

Tapi keinginan itu tak mudah karena keliling dunia membutuhkan persiapan yang matang. Enggak hanya soal biaya yang tidak sedikit, tapi juga soal menyisihkan waktu, tenaga dan juga mental yang kuat. Jangan sampai kita memaksakan diri karena nanti ujung-ujungnya kita sendiri yang kerepotan saat melakukan perjalanan.

Oleh karena itu gue melakukan beragam cara agar bisa jalan-jalan ke berbagai daerah di dunia, seperti rajin mengikuti seleksi pertukaran pemuda dan lomba menulis berhadiah jalan-jalan. Siapa tahu ada yang lolos. Lumayan kan? Tapi karena ikut kegiatan seperti itu tidak selamanya beruntung, gue juga memutuskan untuk menabung agar gue dapat traveling secara mandiri. 

Dari keinginan tersebut, gue kemudian tertarik untuk memiliki dan bahkan mengoleksi kartu pos dari berbagai tempat di dunia. Gue menjadikan kartu pos sebagai afirmasi positif. Saat itu gue mungkin hanya bisa punya kartu posnya saja. Saat itu gue berpikir bahwa, "Oke, saat ini gue belum pergi ke mana-mana. Tapi suatu hari nanti gue bakal mewujudkannya dan bisa pergi ke mana-mana!". Insyaallah berkat izin Allah, gue bakal kunjungin tempat-tempat yang ada di kartu pos yang gue miliki.

Koleksi kartu pos yang gue miliki sejak 2013 (dokpri)

Alhasil, gue pun mulai mengoleksi berbagai kartu pos sejak 2013. Sebagian kartu pos ini gue dapatkan melalui menang giveaway dan dikirim melalui pos oleh stranger alias orang yang enggak gue kenal secara personal sama sekali, sebagian lagi diberikan oleh teman sebagai oleh-oleh. Selain itu, ada pula beberapa kartu pos yang gue beli sendiri ketika traveling ke suatu tempat. 

Nah, melalui tulisan blog ini gue ingin berbagi cerita tentang koleksi kartu pos apa saja yang gue miliki. sejak 2013. Sebenarnya gue punya puluhan (atau ratusan) kartu pos. Tapi karena jumlahnya banyak dan bakal kepanjangan kalau diceritakan dalam 1 pranala blog, gue membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian. Ini dia bagian pertamanya!

1. Gunung Kanchanjunga, Nepal 

Kartu pos pertama yang gue miliki adalah kartu pos bergambar Gunung Kanchanjunga yang terletak di Nepal. Kartu ini spesial akrena dikirim langsung dari Kathmandu, Nepal oleh Dina & Ryan dari duaransel(dot)com pada 2 September 2013.

Siapa Dua Ransel? Nah, Dua Ransel adalah sepasang suami-istri beda negara yang melakukan perjalanan keliling dunia sejak 2009. Dina berasal dari Indonesia sementara Ryan berasal dari Kanada. Sampai saat ini telah ada 45 negara yang berhasil mereka kunjungi.

dua-ransel
Dua Ransel, sepasang digital nomadic beda negara yang telah berkelana ke lebih dari 45 negara di dunia (dok. duaransel.com)

Saat itu ketika media sosial belum seperti sekarang yang menekankan, mereka sering berbagi pengalaman traveling ke berbagai belahan dunia di blog pribadi dan twitter. Namun sejak masuknya fitur video pada instagram, mereka kini juga berbagi cerita di instagram.

Tahun 2013, mereka belum punya anak sehingga jumlah ransel yang mereka gunakan hanya berjumlah 2, sesuai dengan namanya "Dua Ransel". Nah, sekarang mereka punya 2 orang anak. Namun karena nama dua ransel telah melekat, maka mereka tetap menggunakan nama tersebut meskipun secara literal seharusnya "4 ransel".

Pada tahun 2013 Dua Ransel mengadakan giveaway berhadiah kartu pos. Iseng-iseng ikutan, ternyata gue terpilih sebagai salah satu pemenang giveaway. Alhasil, gue  pun berhak mendapatkan kartu pos dari Dua Ransel. Kelihatannya sederhana, tapi hadiah ini luar biasa menurut gue. 

Dengan dibubuhi perangko Nepal bergambar sepak bola gajah dan sticker khas bendera Nepal, gue senang bukan main saat menerima kartu pos ini. Terlebih, Dua Ransel enggak sekedar kirim kartu aja. Mereka juga menuliskan pesan yang memiliki makna mendalam, "Ikuti hatimu, dipandu oleh hati nurani. Jangan mengikuti tren atau menghindari tren demi menjadi unik." 

Kartu pos Nepal tampak depan yang dikirim oleh Dua Ransel. (dokpri)

Isi tulisan pada kartu pos Nepal yang dikirim oleh Dua Ransel (dokpri)

Gue sendiri belum pernah ke Nepal. Tapi dengan hadirnya kartu pos ini semoga bisa menjadi afirmasi sehingga gue bisa mengunjungi negara tersebut suatu hari nanti.   

2. Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja

Dua Ransel enggak hanya 1 kali saja mengirimkan gue kartu pos. Tetapi 2 kali, di tahun yang sama pula! Wah, terima kasih Dua Ransel!

Dua kali ikutan giveaway berhadiah kartu pos, dua kali juga gue menjadi pemenangnya. Namun jika kartu pos sebelumnya adalah kartu pos Nepal, kali ini adalah kartu pos Kamboja yang dikirim pada 20 Desember 2023.

Menariknya, meskipun mereka memberikan gue kartu pos Kamboja, mereka enggak mengirimkannya langsung dari Kamboja. Mereka justru mengirimkan kartu pos tersebut di Thailand. Hal itu terlihat dari perangko Thailand bergambarkan Raja Thailand IX yakni Raja Bhumibol Adulyadej yang mereka bubuhkan di kartu pos serta adanya stempel bertuliskan "Suvarnabhumi Airport" yang merupakan identitas dari Thailand.
angkor-wat-kamboja
Kartu pos berfotokan Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja (dokpri)

Makin lucu karena ternyata kartu pos yang mereka kirimkan ternyata salah cetak sehingga posisi antara gambar dengan bagian belakang terbalik. Bisa-bisanya kartu posnya kebalik wkwk

Isi pesan kartu pos Angkor Wat yang dikirim oleh Dua Ransel (dokpri)

Seperti kartu pos Nepal, semoga kartu pos ini juga bisa mengantarkan gue untuk bisa berkunjung ke Kamboja suatu hari nanti.

3. Charles Bridge and Hradcany, Praha, Ceko

Tahun 2013-2014 gue sempat bergabung di sebuah komunitas angklung di Jakarta. Komunitas tersebut sering diundang ke luar negeri untuk tampil memainkan angklung. Salah satunya adalah Republik Ceko. 

Tahun itu komunitas angklung tempat gue berlatih diundang oleh KBRI Ceko untuk mengadakan pertunjukan di sana. Nah, sejak itu gue jadi terobsesi dengan Ceko. Siapa tahu bisa ke Ceko sambil tampil main angklung juga. Hehe. 

Lantaran gue jadi tergiur untuk pergi ke Ceko terutama ada kesempatan untuk main angklung di sana, gue lalu mengikuti akun sosial media kedubes Republik Ceko di Jakarta. 

Dalam satu kesempatan, mereka mengadakan giveaway berhadiah kartu pos. Sebagai pemburu kartu pos, tentu saja gue enggak ketinggalan untuk berpartisipasi. Alhamdulillah, gue terpilih sebagai salah satu pemenangnya sehingga berhak mendapatkan kartu pos Ceko. Yeaay! Seneng banget.

charles-bridge-and-hradnacy
Kartu pos bergambarkan jembatan ikonik di Praha, Republik Ceko dari Kedubes Republik Ceko di Indonesia (dokpri)
Isi kartu pos yang ditulis oleh Kedubes Republik Ceko (dokpri)

Kartu pos ini sebenarnya enggak dikirim dari Ceko, melainkan dari Jakarta. Meski demikian, gue tetap excited karena bisa memiliki kartu pos edisi khusus Ceko lengkap dengan perangko bergambar Lichorerisnice, bunga khas mereka. Selain itu, mereka juga menuliskan harapan dengan mendoakan gue agar bisa ke Republik Ceko segera.

KBRI Ceko fave banget deh waktu itu. Menjelang pergantian tahun dari 2014 ke 2015, gue juga mendapatkan kiriman berupa kartu ucapan "Selamat Tahun Baru 2015" karena gue memenangkan giveaway dari mereka untuk kedua kalinya.
Kartu ucapan tahun baru 2015 dari Kedubes Republik Ceko (dokpri)

kartu-ucapan-tahun-baru
Kartu ucapan selamat tahun baru 2015 (dokpri)

Kartu ucapan selamat tahun baru 2015 dari Kedubes Ceko tampak belakang (dokpri)

republik-ceko
Kartu ucapan Selamat Tahun Baru 2015 dari Kedubes Ceko (dokpri)


republik-ceko
Kiriman kartu ucapan tahun baru 2015 dari Kedubes Republik Ceko (dokpri)

4. Gandhi Memorial Museum, India

Berikutnya gue juga memiliki kartu pos bergambarkan Mahatma Gandhi sedang berjalan bersama beberapa orang. Kartu pos ini dikirim oleh Anggy pada 27 April 2016 namun baru sampai di rumah pada 31 Mei 2016. Ia mengirimkan gue kartu pos langsung dari India karena gue memenangkan giveaway yang ia adakan di grup facebook Komunitas Postcrossing Indonesia. 
Kartu pos berfotokan Mahatma Gandhi yang gue miliki (dokpri)

Isi pesan yang ditulis oleh Anggi di kartu pos India yang ia kirimkan (dokpri)

Senang karena mendapatkan kartu pos dengan perangko Homi Jahangir Bhaba dan Bunda Theresa dari India, gue pun mengucapkan terima kasih kepada Anggy via messenger facebook. Enggak disangka, pesan gue dibalas. Anggi bahkan berbagi cerita soal pengalamannya di India. 

Anggy bercerita bahwa ia sedang berada di India karena mendapatkan beasiswa dari pemerintah India. Di sana ia mengambil jurusan IT karena itu adalah salah satu jurusan yang paling banyak diincar. 

Sebagai mahasiswa asing, Anggi merasa bahwa persaingan studi di India cukup keras. Ada yang sampai gak terima jika nilai Anggi lebih tinggi dari nilainya. Saking ketatnya, bahkan sampai ada mahasiswa India yang bun** dir*.

Untuk akademik, Anggi tak ambil pusing. Ia berpikir bahwa bisa lulus saja sudah bersyukur meski IPKnya terbilang pas-pasan. Saat gue tanya apakah persaingan kuliah di sana mirip dengan film "3 Idiots" yang rilis pada 2009, ia bilang bahwa mirip. Rata-rata orang India mengambil jurusan IT, teknik dan belakangan (pada saat itu) jurusan sastra Inggris.

Meski lingkungan kuliahnya gila-gilaan, Anggy menyukai personality orang-orang India. Menurutnya, orang India itu sebenarnya baik-baik.

5. Masjid Putra, Putrajaya, Malaysia

Pada tahun 2018, teman gue yakni Leenda Erleena pergi ke Malaysia karena ada dinas kerja. Ia mengunjungi Kuala Lumpur untuk menghadiri sebuah konferensi. 

Sepulang dari sana, ia memberikan gue oleh-oleh berupa kartu pos bergambarkan Masjid Putra yang terletak di Putrajaya, Malaysia. Masjid Putra sendiri adalah salah satu ikon pariwisata di Putrajaya. Gue pun merasa senang karena oleh-oleh kartu pos ini berarti sebagai afirmasi.

Kartu pos bergambarkan Masjid Putra, Putrajaya, Malaysia tampak depan. (dokpri)

Kartu pos bergambarkan Masjid Putra, Putrajaya, Malaysia tampak belakang. (dokpri)

Pada 2023 gue berkesempatan pergi ke Putrajaya, Malaysia dalam waktu singkat. Gue bahkan sempat membuat sebuah vlog di sana. 

Saat melihat ke belakang, gue baru menyadari bahwa 5 tahun sebelumnya gue pernah diberikan kartu pos bergambarkan Masjid Putra. 

Gue enggak pernah spesifik pengen ke Putrajaya. Tapi bagaikan mimpi jadi nyata, kartu pos yang diberikan 5 tahun silam secara enggak langsung menjadi afirmasi sehingga gue bisa menginjakkan kaki di tanah Putrajaya, Malaysia. Wah, terima kasih kak Leenda. 
Selfie di depan Masjid Putra (dokpri)

. Itu dia sebagian koleksi kartu pos dunia yang gue miliki. Tunggu part 2nya ya!

Comments

  1. Waaah mas, aku termasuk yg suka beli oleh2 kartu pos buat aku jadiin GA di IG. Tapi selalunya aku ga kirim dari negara nya sih, krn kuatir ga sampe 😂. Banyak kejadian gitu. Makanya aku beli kartu pos, tp tetep aku kirim dlm kondisi kosong dalam amplop ke temen yg menang GA.

    Apalagi pas aku ke Korea Utara yaa, itu 1 pun kartu pos yg kami kirim dari sana, ga ada yg sampe ke Indonesia. Untungnyaaa aku beli kartu pos korut yg kosong, dan itu yg aku jadiin hadiah GA.

    Jarang soalnya kan WNI ke korut 😄. Jadi lumayan banyak yg minta dulu kartu pos nya. Apalagi negara2 yg aku visit mostly negara ga biasa. Makanya tiap travel, temen2 banyak yg nitip juga dibeliin kartu pos sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sama kita suka ngoleksi kartu pos juga.

      Iya sih, pasti ada perasaan takut gak nyampe ya apalagi kartu pos kan kecil gitu ukurannya. Takut keselip terus gak nyampe. Temenku juga pernah kirim kartu pos dari Jepang yang ditujukan ke aku akhir 2019. Tapi gak pernah tiba sampai sekarang. Untungnya dia beli kartu pos kosong juga, jadi aku bisa punya kartu pos Jepang yang dia miliki.

      Ngomong2 soal Korut, btw itu gimana ceritanya bisa travel ke Korut? Menarik banget. Aku lama tertarik untuk pergi ke sana tapi belum kesampean2.

      Delete
  2. Dulu 2019 masih ada travel yg buka trip kesana. Whatravel. Cuma dia doang. Trus langsung pandemi, dan denger2 korut udah mulai buka pintu utk foreigners lagi sept ini.

    Soalnya kalo kesana ga bisa mandiri, pergi sendiri, wajib pakai travel yg udah diksh licensed. Makanya pas tau whatravel buka, lgs aku daftar 😄. Worth it.. salah satu negara yg beda banget kondisi yg diceritain media, ama aslinya. 👍👍

    ReplyDelete
  3. akuuuu aku koleksi kartupos kalau lagi traveling, cuman akhir-akhir ini aja yang agak jarang beli hahaha
    dulu waktu ke vietnam, sengaja ke kantor pos sana dan kirim kartupos buat diri sendiri ke rumah di Indo, ehhh malah ga pernah sampe kartuposnya sampe sekarang, aneh kan
    jadi udah ga pernah kirim kirim kartupos buat diri sendiri, palingan aku beli kartupos aja buat koleksi dan kalau lagi mood biasanya
    blog duaransel sering aku baca, ceritanya menarik, zaman sebelum rame IG dan sejenisnya, aku malah lebih sering baca baca blog mereka juga

    ReplyDelete

Post a Comment