Rebranding Koperasi, Saatnya Mengubah Wajah Koperasi di Era Milenial!

Jika berbicara tentang koperasi, maka yang terbayang di benak saya adalah tempat menjual berbagai makanan dan kebutuhan. Maklum. Soalnya waktu SD saya sering membeli kebutuhan di koperasi. Pun ketika saya mahasiswa. Saya juga suka membeli berbagai kebutuhan di Kopma alias Koperasi Mahasiswa. 

Namun seiring berjalannya waktu saya akhirnya sadar bahwa koperasi lebih dari itu. Koperasi tidak sebatas tempat jual-beli melainkan juga tempat bagi setiap orang untuk tumbuh dan kembang bersama. 

Ibu dan alm. kakak saya berpengalaman di sana. Mereka memanfaatkan koperasi untuk mengembangkan usaha. Selain dapat mengatur keuangan dengan menyimpannya di sana, pinjaman yang diambil dari koperasi juga membantu keluarga saya dalam modal usaha. Alhamdulillah, lambat laun usaha ibu dan alm. kakak saya berjalan lancar. Sebagai anak dan adik, saya senang melihatnya.
Ilustrasi koperasi Indonesia (dok. preneur.trubus.id)
Dahulu koperasi berkembang pesat. Namun sayangnya sekarang gaungnya seolah tidak terdengar lagi. Sistem kapitalisme yang berkembang di Indonesia menjadi penyebabnya. Jumlah koperasi dan anggota koperasi di Indonesia sebenarnya terbilang banyak. Namun jika dilakukan perbandingan antara jumlah penduduk Indonesia dengan jumlah anggota koperasi, jumlahnya masih terbilang kecil.

Dari sekitar 250 juta jiwa penduduk Indonesia, jumlah anggota koperasi di Indonesia baru mencapai 10%nya saja yakni sekitar 26 juta anggota. Ini berbeda jauh dengan jumlah anggota koperasi aktif di Jerman yang mencapai seperempat dari total jumlah penduduknya.

Canggihnya zaman seharusnya membuat koperasi semakin berkembang dan digandrungi. Akan tetapi, kenyataannya justru berbanding terbalik. Pamor koperasi di Indonesia semakin tenggelam dan seolah terabaikan, khususnya bagi anak muda.

Mengetahui hal ini membuat saya sedih. Padahal koperasi adalah solusi yang tepat untuk mengatasi masalah keuangan dan sarana dalam memenuhi kebutuhan hidup. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, koperasi bukan sekadar tempat jual-beli atau simpan-pinjam semata melainkan tempat untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Suroto selaku Asosiasi Kader Sosio Ekonomi Strategis (AKSES) Indonesia bahkan menyatakan bahwa koperasi itu menguntungkan karena koperasi tidak mengejar profit dan bersifat lebih kekeluargaan.
Sifat kekeluargaan, salah satu ciri khas koperasi (dok. klikbontang.com)
Dalam hal ini kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus mengambil sebuah langkah agar koperasi semakin lestari. Caranya adalah dengan melakukan rebranding koperasi bagi generasi milenial. Rebranding sendiri berarti mengubah citra dari yang kurang baik menjadi lebih baik lagi. Jadikan koperasi menjadi bagian dari gaya hidup anak milenial adalah kuncinya.
  
Kenapa generasi milenial? Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM, Meliadi Sembiring menyatakan bahwa ada beberapa alasan utamanya. Salah satunya adalah mayoritas penduduk Indonesia sekarang adalah generasi milenial. Jumlah itu bahkan semakin bertambah banyak jika Indonesia berhasil mencapai bonus demografi. Bonus demografi sendiri adalah suatu keadaan ketika jumlah penduduk dengan usia produktif lebih banyak ketimbang usia nonproduktif.
Ilustrasi milenial (dok. strathcona.ca)
Di samping itu, generasi milenial adalah generasi pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini ke depannya. Cepat atau lambat, pemimpin yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya akan tergantikan dengan pemimpin dari generasi milenial. Hadirnya gen milenial sebagai agen perubahan membuat peran mereka dalam membawa kemana dunia koperasi Indonesia ke depannya tak bisa disepelekan.

Namun rebranding bukan sekadar rebranding. Kit harus memiliki strategi untuk mewujudkannya. Berdasarkan hasil riset yang telah saya lakukan, maka inilah beberapa langkah di bawah ini dapat dilakukan. Dengan begitu, koperasi terus lestari dari waktu ke waktu dan terus berkembang lintas generasi.

Kelola Media Sosial
Inilah syarat mutlak yang tidak bisa diganggu gugat jika ingin sukses dalam melakukan rebranding kepada generasi milenial. Ya, setiap koperasi di seluruh Indonesia, baik tingkat sekolah, universitas ataupun lainnya harus memiliki akun media sosial, entah itu facebook, twitter, instagram atau bahkan youtube. 

Namun punya akun saja tidak cukup. Meminjam istilah Pendi Yusuf selaku Ketua Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo), koperasi juga harus mampu mengelola media sosial secara efektif, terarah, dan terukur. "Sarana yang pas untuk saat ini adalah dengan memanfaatkan media sosial untuk terus memviralkan secara efektif mengenai koperasi ke kalangan generasi milenial." Jelasnya seperti dikutip di Kontan.
Syarat mutlak rebranding koperasi di era milenial: penguasaan sosial media! (dok. iradiofm.co.id)
Generasi milenial seperti saya adalah generasi visual. Kita tidak mudah tertarik pada suatu hal, kecuali jika itu menarik untuk dilihat dan dekat dengan kita. Jika itu tidak menarik, maka sudah dapat dipastikan kita akan mengabaikannya. Untuk itulah setiap koperasi juga harus memiliki kemampuan teknis seperti desain, menulis dan sosial media. Aktif, kreatif dan interaktif adalah kuncinya.

Selain itu koperasi juga harus peka dalam melihat dan memahami apa yang sedang 'ngetren' dan terjadi di tengah-tengah generasi milenial. Menyesuaikan setiap postingan dengan hal-hal yang berbau generasi milenial adalah poinnya. Gunakan bahasa anak muda, jangan terlalu formal. Dengan begitu kaum milenial akan merasa bahwa koperasi adalah bagian dari dirinya.
Gawai dan sosial media, aspek kehidupan yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan generasi milenial (dok. geotimes.co.id)
Kendati akun media sosial koperasi diperuntukkan sebagai sumber informasi dan promosi dari layanan yang terdapat pada koperasi itu, tidak ada salahnya juga sesekali akun-akun itu juga memosting hal-hal di luar koperasi. Kasih selingan, namun tetap bermanfaat bagi para netizen. Postingan ini bisa dalam bentuk informasi, permainan, trivia atau bahkan kuis.

Misalnya, sebentar lagi Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Nah, tidak ada salahnya sesekali akun media sosial tersebut menayangkan sekilas informasi tentang maskot Asian Games 2018. Atau postingan tentang Piala Dunia 2018.

Selain agar akun media sosial tetap aktif, postingan selingan seperti itu dilakukan agar netizen tidak hanya melihat koperasi sebagai koperasi saja, melainkan sebagai wadah kreatif yang terbuka dan cocok diikuti oleh siapapun khususnya bagi kalangan muda.

Aktif Mengadakan Kegiatan tentang Generasi Milenial
Generasi milenial adalah generasi yang suka mengeksplor dirinya sendiri. Mereka ingin tahu sejauh mana kemampuan mereka dan sejauh mana mereka bisa mengembangkannya menjadi lebih baik. Jika mereka senang dengan fotografi, maka mereka akan mengeksplor kemampuan dirinya dengan mengikuti workshop fotografi. Jika mereka senang dengan musik, maka mereka juga akan mengikuti kegiatan musik. Begitu pun sebagainya.


Untuk menyukseskan rebrading koperasi bagi generasi milenial, maka alangkah baiknya jika setiap koperasi di berbagai tingkat, baik level sekolah, pesantren, universitas atau di luar itu aktif mengadakan kegiatan positif bagi anak muda dengan mengusung tema-tema di luar tema koperasi. Kegiatannya tidak dilakukan dalam skala besar juga tidak apa-apa, asalkan rutin.

Kegiatan apa? Apa saja selama positif dan berpotensi diikuti banyak remaja dan anak muda. Mulai dari workshop fotografi, talkshow kepemudaan, talkshow beasiswa, kelas menulis atau bahkan kelas kecantikan. Pendanaan kegiatan bisa didapatkan dari uang kas, sponsor, anggaran yang diberikan oleh institusi (misalnya universitas) atau lainnya. 
Mengadakan kegiatan tentang anak muda, salah satu cara dalam rebranding koperasi di era milenial (dok. pemudafm.com)
Ini adalah investasi yang tepat bagi koperasi untuk semakin memperluas jaringannya. Ketika acara tersebut diselenggarakan, di saat itulah unit koperasi dapat memperkenalkan dirinya. Selipi informasi tentang koperasi di sela-sela acara. Selain itu koperasi juga dapat memanfaatkan kesempatan dengan membuka pendaftaran baru bagi calon anggota koperasi yang ingin bergabung.

Dengan bertindak sebagai penyelenggara, koperasi bagaikan peribahasa "Sambil menyelam minum air". Tak hanya dapat memberdayakan para anggotanya sebagai panitia acara, namun koperasi juga sebenarnya telah selangkah lebih maju dalam melakukan rebranding koperasi bagi generasi milenial.

Pada akhirnya, generasi milenial akan beranggapan bahwa koperasi bukanlah hal yang jadul atau orang tua karena di koperasi anak muda dapat tumbuh dan berkembang. Dengan mengubah cara berpikir mereka, bukan tak mungkin ada banyak di antara mereka yang akan menjadi penerus penggerak koperasi di kemudian hari.

Mengembangkan Teknologi Fintech
Generasi milenial adalah generasi yang praktis. Mereka tidak suka hal-hal yang ribet terutama untuk hal-hal yang berbau keuangan dan belanja. Kalau bisa dibuat mudah, kenapa harus dibuat lebih sulit?  

Atas hal itu, maka lahirlah berbagai aplikasi fintech. Tinggal donlot aplikasi di playstore atau iOs kemudian klik-klik saja, segala macam kebutuhan pun dapat terpenuhi, mulai dari urusan beli pulsa handphone, beli token listrik, bayar rekening listrik bulanan dan bahkan beli tiket bioskop.
Fintech, salah satu bukti kecanggihan teknologi di era milenial (dok. dataconomy.com)

Teman saya, Linda salah satu orang yang memanfaatkan kecanggihan fintech ini. Berkat aplikasi, ia tidak perlu repot-repot lagi kalau kehabisan pulsa atau paket data. Tinggal klik-klik saja dari hape, selama masih ada saldo, maka urusan pulsa pun terpenuhi. Menyambangi toko pulsa hanya untuk membeli pulsa atau paket data pun bukan lagi menjadi kegiatan yang sering ia lakukan. Mudah, bukan? Ia pun juga memanfaatkan kecanggihan aplikasi fintech untuk membeli token dan membeli token pulsa.

Tak berbeda dengan Linda atau generasi milenial lainnya, saya pun juga demikian. Adakalanya saya memanfaatkan aplikasi fintech untuk memenuhi kebutuhan saya ataupun keluarga. Beberapa kali saya membeli pulsa dan token listrik lewat aplikasi.

Selain lebih mudah dan praktis, ada satu hal lagi yang membuat kenapa aplikasi fintech diminati banyak kaum milenial. Jawabannya adalah karena biasanya harga yang harus kita bayar untuk transaksi di aplikasi fintech itu cenderung lebih murah ketimbang membeli dengan cara konvensional. Keuntungan lainnya adalah biasanya aplikasi fintech memiliki sistem poin loyalti.

Semakin banyak kita melakukan transaksi, maka semakin banyak pula poin loyalti yang akan terkumpul. Asyiknya, dalam jumlah tertentu, poin loyalti ini bisa kita tukarkan dengan berbagai kebutuhan, seperti diskon, promo atau bahkan gratis produk tertentu.

Dalam hal ini saya membayangkan apa jadinya jika masing-masing koperasi khususnya koperasi dalam skala yang lebih besar (bukan tingkat sekolah) mengembangkan aplikasi fintech. Wah, dapat dibayangkan bahwa akan semakin generasi milenial yang bergabung di dalamnya.
Aplikasi KS212 Mobile, salah satu contoh aplikasi fintech koperasi (dok. koperasisyariah212.co.id)
Dengan begitu masing-masing anggota koperasi tidak hanya dapat menabung saja. Namun untuk urusan tertentu, mereka dapat melihat update tentang jumlah saldo dan bahkan saldonya dapat digunakan untuk melakukan berbagai transaksi. Mulai dari pulsa hape, token listrik, kredit atau bahkan sesuatu yang dekat dengan anak muda seperti tiket bioskop. Lewat aplikasi tersebut, setiap anggota juga dapat melakukan transfer baik ke nomor rekening atau tabungan anggota koperasi tertentu.


Sebenarnya beberapa koperasi di Indonesia telah mengembangkan aplikasi fintech. Namun gaungnya masih kurang begitu terdengar sehingga masih banyak generasi milenial yang awam akan keberadaannya. Oleh karena itu selain lebih menggencarkan aplikasi fintech, sosialisasi tentang aplikasi ini lebih luas sangat dibutuhkan rebranding koperasi terhadap generasi milenial pun menjadi sukses.

Membangun Wisata Koperasi 
Menurut sebuah riset yang dilakukan oleh Donna Jeavons, Direktur Penjualan dan Pemasaran untuk Contiki dalam media Independent, generasi milenial lebih sulit punya rumah ketimbang generasi sebelumnya. Hal itu dikarenakan mereka lebih memilih traveling atau jalan-jalan ketimbang membeli rumah. 

Maka jika ingin rebrandingnya sukses, pihak koperasi sudah seharusnya menyesuaikan apa yang lebih disukai oleh generasi milenial. Lantaran generasi milenial suka traveling, bagaimana jika pihak koperasi melakukan rebranding dengan membuat wisata koperasi?
Travelling, salah satu gaya hidup generasi milenial (dok. babiestravellite.com)
Jumlah koperasi di Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Dikutip dari Tirto.id, jumlah koperasi aktif di seluruh Indoneisa hingga Desember 2017 telah mencapai 153.171 unit dengan jumlah anggota aktif sebanyak 26.535.640. Dengan total seperti itu, kontribusi ke PDB hingga awal 2018 baru mencapai 4,48%.

Dari segi kuantitas, jumlah koperasi di Indonesia menjadi salah satu yang terbanyak di dunia. Dengan jumlah sebanyak itu, seharusnya Indonesia telah memiliki tempat rekreasi informatif tentang koperasi seperti museum, namun sayangnya hal itu masih menjadi mimpi. Indonesia belum memiliki museum koperasi.

Jerman, salah satu negara yang telah memiliki Museum Koperasi. Ini adalah penampakan Museum Koperasi Jerman tampak dalam (dok. tripadvisor.com)
Padahal museum koperasi adalah investasi jangka panjang. Dengan karakter generasi milenial yang suka traveling, ini akan membuat mereka semakin kenal dan dekat dengan seperti apa itu koperasi. Alhasil, peluang generasi milenial untuk ikut berpartisipasi di dalam koperasi pun akan semakin terbuka lebar.

Selain museum, saya juga berpikir bahwa apa jadinya jika pemerintah membentuk kampung koperasi. Seperti Kampung Jodipan, Malang, Jawa Timur dengan genteng dan cat tembok yang warna-warni yang sempat viral dan akhirnya mampu mengundang banyak wisatawan untuk melancong, saya pun memiliki pemikiran yang sama jika seandainya kampung koperasi itu benar-benar ada.
Kampung Jodipan Malang, salah satu inspirasi tempat wisata bertemakan koperasi (dok. wisatamalang.com)
Ciri khas kampung koperasi ini tidak hanya karena memiliki banyak koperasi, namun juga tampak pada penampilannya. Misalnya, setiap rumah berwarna serba putih, setiap rumah digambar dengan karya mural atau desain tertentu dan lain sebagainya. Intinya, kampung koperasi harus se-instagrammable mungkin!

Selain mampu menggairahkan ekonomi bagi penduduk setempat, hadirnya kampung koperasi juga menjadi sarana edukasi dan rebranding yang tepat bagi kaum milenial. Terlebih di zaman serba digital seperti ini, apapun hal menarik pasti diunggah ke media sosial dan akhirnya mengundang banyak orang untuk datang berkunjung. Dampak jangka panjangnya adalah semakin banyak orang yang mendapatkan pencerahan tentang koperasi dengan cara menyenangkan.

Apapun itu bentuknya, entah itu berupa museum, kampung atau lainnya, membuat tempat wisata khusus adalah salah satu cara dalam menggandeng milenial untuk lebih peduli terhadap koperasi. Satu hal yang pasti adalah harus instagrammable agar semakin banyak generasi milenial yang datang dan memviralkannya di sosial media.

Menanamkan Pendidikan di Sekolah
Rebranding koperasi sebaiknya dibuat bersifat long-lasting atau bersifat jangka panjang. Maka dari itu tak hanya kalangan anak muda saja, namun anak-anak dan remaja, mulai dari SD hingga SMA sebaiknya juga dilibatkan. Ini adalah investasi jangka panjang agar koperasi terus lestari dan melekat dalam kehidupan generasi muda dari waktu ke waktu. Jerman telah menerapkannya dalam waktu cukup lama.

Dalam hal ini, menurut saya sebaiknya Kementerian Koperasi dan UKM atau Dinas Koperasi di daerah masing-masing bekerja sama lebih dalam lagi dengan sektor pendidikan. Pengajaran koperasi di buku pelajaran memang sudah dilakukan. Namun menurut saya itu belum cukup. Bagaimana pun, harus ada upaya yang 'lebih' daripada itu.
Pentingnya penanaman nilai-nilai koperasi sejak dini (dok. sdmuhlimpung.sch.id)
Salah satu caranya adalah anak-anak bisa diajak melakukan tur ke koperasi lokal terdekat yang ada di daerah mereka. Kemudian anak-anak diperkenalkan tentang seluk-beluk koperasi. Selain itu guru juga bisa membantu dengan mengajak mereka bermain bermain peran sebagai pengurus koperasi.

Intinya, buatlah kegiatan berhubungan dengan koperasi dengan cara menyenangkan. Anak akan serasa bermain, namun tanpa disadari mereka sebenarnya sedang belajar mengenal dan mencintai koperasi.


Itulah beberapa langkah yang dapat pemerintah dan perlu kita lakukan sebagai bangsa secara bersama agar koperasi semakin akrab dengan geneasi milenial.

Sampai jumpa koperasi yang terkesan kuno, jadul atau berbau orang tua. Selamat datang koperasi dengan wajah baru. Saatnya koperasi menjadi lifestyle generasi milenial!

Komentar

  1. Wah... wah... konsep Kampung koperasi keren banget tuh...konsep museum koperasi juga menarik banget ka...semoga kolrrasi Indonesia makin dinamis yaa sehingga selalu up to date sambil menyejahterakan masyarakatnya. Amin XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maap kollrasi itu koperasi.. ternyata typo di hp..hehehe

      Hapus
  2. Keren juga ya membayangkan icon Sea games belanja Di Koperasi atau berpose bersama ikon Koperasi

    BalasHapus
  3. semoga koperasi indonesia semakin maju dan banyak diminati oleh masyarakat trutama generasi milenial

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Semoga semakin banyak ya ka generasi milenial yang terlibat di koperasi :D

      Hapus

Posting Komentar