Siapkan Cinta Terencana untuk Keluarga Berkualitas

Memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia adalah idaman bagi semua orang. Siapa sih yang enggak kepengen? Pasti pengen dong. Begitu pun dengan saya. Suatu hari nanti saya ingin memiliki keluarga kecil yang berkualitas. Syukur-syukur dapat menginspirasi keluarga-keluarga lain di luar sana. *Ceilah
  
Namun saya sadar bahwa untuk dapat mewujudkan hal tersebut tidaklah semudah membalikkan bakwan di penggorengan. Bakwan sih masih enak bisa dimakan. Kalaupun gosong, bisa dibuang dan dibuat lagi. Kalau pernikahan? Tentu saja tidak seperti itu.

Bagaimana pun, sebelum menjalani biduk rumah tangga, masing-masing pihak, baik pihak pria ataupun pihak wanita harus memiliki persiapan dan komitmen yang matang. Atlet saja enggak bisa jadi juara kalau dia tidak mempersiapkannya dengan matang. Nah, apalagi pernikahan? Pasti jauh lebih sulit.

Mengingat pentingnya bagaimana membangun keluarga yang harmonis dan bahagia, baik bagi yang sudah menikah ataupun belum menikah, itulah kenapa BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana Nasional) berkolaborasi dengan BPlus mengadakan kegiatan temu blogger. Mengusung tema "Membangun Keluarga Berkualitas dengan Cinta Terencana", kegiatan ini diselenggarakan pada 15 Mei 2018 di Museum Penerangan, TMII. Tercatat ada 50 blogger yang siap mendengarkan paparan dari tiga narasumber, yakni Eka Sulistya Ediningsih (Direktur Bina Keluarga Remaja BKKBN), Resi Prasasti (founder BPlus) dan Roslina Verauli (psikologi). 
Dari kiri ke kanan: Roslina Verauli (psikolog), Eka Sulistya Ediningsih (Direktur Bina Keluarga Remaja BKKBN), pembawa acara dan Resi Prasasti (Pendiri Blogger Plus) menunjukkan salam GenRe (dok. Blogger Plus)
Eh, cinta terencana? Apaan tuh?
 
Jangan kira bahwa liburan aja yang bisa direncanakan, cinta pun juga loh! Cinta terencana adalah sebuah kampanye yang diselenggarakan untuk memperingati dan merayakan Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada 29 Juni 2018. BKKBN percaya bahwa cinta terencana yang tumbuh dalam keluarga dapat berpengaruh pada perilaku remaja ataupun individu keluarga. Mereka yang memiliki cinta terencana akan  berkomitmen dalam menyiapkan segala kebutuhan lahir dan batin untuk membahagiakan orang yang dicintainya.
Ibu Eka Sulistya Ediningsih, Direktur Bina Keluarga Remaja BKKBN saat memberikan paparan materi (dokpri)
Tahukah kamu bahwa BKKBN memiliki salam GenRe? Salam GenRe (Generasi Berencana) adalah salam yang tidak memberikan toleransi atau menghindari sama sekali terhadap tiga hal: yakni penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seks bebas dan HIV/AIDS.
Dalam kampanye ini BKKBN menjadikan keluarga sebagai target utamanya. Ibu Eka Sulistya Ediningsih selaku Direktur Bina Keluarga Remaja BKKBN menjelaskan bahwa ada tiga alasan.

Pertama, itu karena keluarga adalah unit terkecil dalam setiap masyarakat. Sebelum seseorang beranjak dewasa dan terjun ke masyarakat, sudah pasti seseorang berada dalam lingkungan keluarga terlebih dahulu.

Kedua, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kualitas bangsa. Jika ada orang yang melakukan kejahatan dan tindak kriminal, lihatlah latar belakangnya. Bukan tidak mungkin hal itu disebabkan karena abainya peran keluarga semasa kecil. Jika ada seseorang yang melakukan kebaikan, lihatlah pula latar belakangnya. Sudah dipastikan itu karena adanya peran keluarga di dalamnya. Intinya, bagaimana perilaku seseorang tak terlepas dari bagaimana keluarga memberikan warna dalam kehidupannya.

Terakhir adalah keluarga menjadi fondasi penting dari maju atau tidaknya suatu bangsa. BKKBN percaya bahwa anak yang lahir dan besar dari keluarga yang sehat jasmani rohani, sejahtera dan berkualitas, sudah dipastikan mereka dapat berkontribusi dalam kemajuan suatu bangsa ketika dewasa nanti.
Para blogger saat menghadiri temu blogger bersama BKKBN (dokpri)
Sayangnya, keluarga yang terencana tidak simsalabim jadi begitu saja. Maraknya pernikahan dini yang terjadi menjadi salah satu tantangan. Oleh karena itu BKKBN tak luput dalam memeranginya dengan cara aktif dalam menyosialisasikan betapa sebaiknya masyarakat menghindarkan diri dari praktek pernikahan dini karena berisiko memiliki masalah. Siapa sih yang enggak miris kalau lihat remaja usia 16, 14 atau bahkan 12 tahun tetapi sudah menikah dan punya anak? Saya pun sedih melihatnya. Padahal di usia yang masih dini seharusnya mereka menikmati masa-masa remaja dengan belajar dan bermain. 

Lalu bagaimana kalau pernikahan dini 'terlanjur' terjadi? Nah, maka BKKBN meminta pasangan yang telah memiliki anak untuk menyayangi dan merawat anak yang telah dilahirkan tersebut. Selain itu BKKBN juga meminta kepada mereka untuk menjaga jarak kelahiran dengan rentang waktu minimal 3 tahun. Itu dikarenakan jika jarak kelahiran antara anak yang satu dan satunya lagi terlalu dekat maka bisa berpengaruh pada kurangnya perhatian yang diberikan kepada anak yang lahir lebih dahulu.
For yor information, usia ideal untuk menikah adalah di atas 21 tahun bagi wanita dan di atas 25 tahun bagi pria. (Wah, berarti saya belum ideal untuk menikah dong xD)
 
Setelah sesi Ibu Eka, kini saatnya giliran Kak Resi Prasasti selaku pendiri dari Blogger Plus memberikan paparan. Kali ini ia berbagi tips kepada para blogger tentang menulis. Kenapa? Hal itu dikarenakan keberhasilan kampanye Keluarga Terencana juga tak terlepas dari kontribusi para blogger saat menulis. Dalam materi ini Kak Resi menekankan betapa pentingnya branding bagi blogger karena itu menjadi identitas. Tentukan tujuan sebelum menulis juga menjadi fokus lainnya.
Kak Resi saat berbagi tips tentang menulis (dokpri)
Sesi terakhir adalah sesi Roslina Verauli. Roslina adalah seorang psikolog sekaligus penulis buku yang pernah membawakan acara Cerita Perempuan di salah satu stasiun televisi swasta pada 2015-2017. Pada sesi ini Roslina akan berbagi kiat tentang bagaimana membangun keluarga sehat dan terencana.

Menurut Roslina, nikah itu sebaiknya jangan buru-buru, tapi juga jangan terlalu matang. Kenapa? Soalnya jika seseorang menikah dalam usia terlalu muda atau terlalu tua dapat menimbulkan masalah pada pernikahan. Usia menikah yang terlalu muda terbilang rentan karena sisi mental dan psikologisnya belum siap dan belum matang. Begitu pun jika seseorang menikah di usia di kisaran 30 tahun atau bahkan lebih, pernikahan tersebut juga berisiko terkena masalah karena mereka merasa lebih independen sehingga yang terjadi adalah "Gue gue, lo lo".
Roslina Verauli saat menyampaikan materi di depan para blogger (dokpri)
Bagi yang ingin menikah, menikahlah di usia 20-an karena itu adalah usia yang tepat untuk menikah. Namun kalau ada yang ngebet banget ingin menikah padahal belum 20 tahun, tunggu deh sampai usia 18 tahun. Barulah ia boleh menikah.

Roslina juga menjelaskan bahwa jika kita ingin membangun keluarga terencana, awalilah dengan motif positif (karena cinta, ingin punya keturunan dan ingin memiliki teman hidup). Sebab jika diawali dengan motif negatif, seperti ingin balas dendam atau ingin punya jabatan tidak akan memberikan hasil yang baik. Jika kita sudah siap membangun keluarga, maka jalanilah secara ekslusif. Sebab adalah tentang kita dan pasangan

Buat yang kepo bagaimana sih caranya agar bisa  membangun keluarga yang yang bahagia, sejahtera dan stabil, eits, tak perlu khawatir. Sssstt... Roslina memberikan tips-tipsnya lho! Tips tersebut antara lain adalah harus fleksibel, kohesi alias adanya kedekatan dan tentu saja komunikasi. Jika kita menerapkan hal ini dalam keluarga, dijamin kualitas keluarga yang kita jalin akan lebih baik daripada sebelumnya. 
Komunikasi, salah satu elemen penting dalam keluarga (dok. artikelsiana.com)
Itulah akhir dari rangkaian acara temu blogger BKKBN berkolaborasi dengan komunitas Blogger Plus. Pada akhirnya membangun keluarga bukan semata "Saya terima nikahnya" dan kemudian hadirin menyatakan "Sah!", melainkan tentang bagaimana kedua belah pihak menyandingkan perbedaan, menyatukan visi-misi bersama, saling menjaga serta melewati badai yang menghadang secara bersama. Jadi, sudah siap memiliki cinta terencana untuk membangun keluarga berkualitas?

Komentar

  1. Wah...Makasi yaa sharingnya. Sekarang jadi tahu nih klo pernikahan harus dipersiapkan dengan baik dan bagaimana menjalankannya nanti, karena dari keluarga akan dibina generasi penerus yang berkualitas dan berakhlak mulia ya. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan senang hati. Wah, pastinya dong persiapannya harus matang karena pernikahan bukan perkara sehari dua hari tapi seterusnya bahkan hingga ajal menjemput :)

      Hapus
  2. 3 tahun jarak kelahiran agar sehat reproduksi si ibu dan sudah melepas trauma pasca melahirkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap mpok. Demi kebaikan keluarga juga makanya sebaiknya diberikan jarak kelahiran.

      Hapus
  3. Semoga nanti dapat jodoh yang baik ya valka

    BalasHapus
  4. salam genre kakak, yuk siapkan cinta terencana sebelum menikah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam genre juga kakak. Wah, pastinya dong :)

      Hapus
  5. Berbicara mengenai cinta terencana, saya cukup miris mbak kalau ngelihat maraknya pernikahan dini. Ya, sebenarnya memang hak mereka yang melakukan sih. Tapi usianya itu loh, masih berada di rentang 15-16 tahun. Kalau aku sulu pas seusia gitu mah masih gencarnya main sama belajar. Gak kebayang deh kalau mereka yang udah menikah. Apakah udah siap secara mental atau belum?
    #AgakMiris :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku cowok kakak --" Iya sedih ya kak kalau melihat kasus seperti itu. Faktor pendidikan sih kak biasanya. Semoga angka pernikahan dini semakin hari semakin menurun ya kak.

      Hapus
  6. betul nih. membangun keluarga tidak cukup bermodal cinta. Harus ada perencanaan yang matang, termasuk berapa jumlah anak, berapa tahun jarak anak dan lain sebagainya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap, makanya kalau belum siap nikah, jangan buru-buru nikah ya. Soalnya persiapannya kudu matang karena ada banyak hal yang kudu dipikirin kalau menikah.

      Hapus
  7. Kerwnnini komsepnya BKKBN. Cinta terencana. Baru dengar sih atau ini memang baru ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru deh mbak. Aku juga baru denger soalnya hihi.

      Hapus
  8. Bener, segala sesuatu yang direncanakan akan lebih rapi dan lebih baik. Termasuk merencanakan cinta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, mempersiapkan itu lebih baik ya :)

      Hapus
  9. Perencanaan memang perlu dilakukan untuk semua kegiatan. Nggak hanya perencanaan keuangan aja, tapi juga perencanaan berkeluarga, biar langgeng sejahtera, eeaa

    BalasHapus
  10. keluarga memang harus kuat pondasinya. sebelum menikah dan mulai jenjang awal menikah perlu disiapkan semua pondasinya biar kokoh dan langgeng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoii mas. Membangun keluarga terencana itu kayak membangun rumah. Tiangnya harus kokoh, kalau enggak ya bakal ancur rumahnya. Maka dari itu persiapan matang itu penting banget.

      Hapus
  11. Setujuuuuuu, membina keluarga harus direncanakan, jangan cuma modal cinta doank. Mau dikasi makan apa anak istrinya ntr hehe. SKrng lg marak kempen nikah muda suka salah kaprah dan aku gemesss.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. Iya yang penting bukan mudanya sih sebenarnya, tapi kesiapannya. Buat apa nikah muda kalau gak siap? xD

      Hapus
  12. Tanggal 15 ya pas aku ulang tahun kak. Btw semoga ketemu jodohnya dulu ya...kemudian Ama suami punya anak dan bikin keluarga harmonis. Aamiin

    BalasHapus
  13. Sekarang sih ga bisa nikah modal cinta aja mbak, apalagi nikah muda. Banyak yang harus disiapkan untuk sebuah pernikahan, apalagi kesiapan mental.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku cowok, mbak. Benar semuanya harus dipersiapkan dengan matang.

      Hapus
  14. Aku banyak menemukan korban nikah muda yang karena belum siap akhirnya malah rumah tangganya berantakan. Kasian ngeliatnya sih, makanya perlu edukasi lebih lanjut kepada masyarakat kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak. Edukasi itu hal paling mendasar ya dari masalah pernikahan dini. Dengan adanya pernikahan dini, pikiran mereka soal pernikahan pasti akan tercerahkan.

      Hapus
  15. Sekarang sih ga bisa nikah modal cinta aja kak, apalagi nikah muda. Banyak yang harus disiapkan untuk sebuah pernikahan, apalagi kesiapan mental.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju! Makanya menikah itu gak semudah mengucapkan ijab kabul aja ya. Menikah lebih dari itu.

      Hapus
  16. Semua memangbharus terencana ya biar jadi keluarga harmonis penuh cinta.

    BalasHapus
  17. Semoga semakin bnyak pihak yang sadar pentingnya perencanaan pernikahan yg matang, agar nanti nya jadi keluarga yg berkualitas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Semakin banyak keluarga yang berkualitas, pastinya akan membangun bangsa berkualitas juga ^^

      Hapus

Posting Komentar