Waspada Orang Asing di Danau Gatlin

Semasa kecil saya suka diperingatkan oleh orang tua untuk berhati-hati terhadap orang asing. Kalau ada orang yang tidak dikenal dan memberikan saya sesuatu, jangan mau. Kalau ada orang yang tidak dikenal dan ternyata mengajak saya ke suatu tempat, juga jangan mau. Kalau ada orang yang tidak dikenal dan tampak mencurigakan, waspada. Pokoknya hati-hati deh sama orang asing apapun iming-imingnya. Enggak suudzon dan parno sama sekali, hanya saja orang tua mengingatkan saya untuk selalu waspada dan jaga jarak dengan mereka. Namanya juga orang asing.

Walau suka diwanti-wanti waktu masih bocah, saya pernah kecolongan akan pesan orang tua saya. Saya pernah punya pengalaman buruk dengan orang asing. Salah satunya terjadi saat SMA, yakni  saya pernah dihipnotis sehingga membuat hape, uang dan bahkan sendal saya diambil. Kendati pernah mengalami hal tersebut saya mengambil pelajaran berharga dan bersyukur. Alhamdulillah, seburuk-buruknya pengalaman saya dengan orang asing, setidaknya saya tidak pernah (amit-amit jangan sampai) mengalami kejadian yang melibatkan nyawa. Hal ini jauh berbeda dengan yang harus dihadapi oleh Mike. Orang asing yang mereka temui mengantarkan mereka pada ancaman nyawa.

Teror Orang Asing di Danau Gatlin
Semua berawal dari kepergian Mike (Martin Henderson) sekeluarga ke daerah Danau Gatlin, Amerika. Kinsey merupakan anak yang susah diatur. Ia perokok, keras kepala dan bahkan suka membangkang. Demi meredam kenakalan remaja yang dialami oleh putrinya, Mike beserta istrinya, Cindy (Christina Hendricks) beranggapan bahwa mengirimkannya ke sekolah asrama adalah langkah yang tepat. Namun sebelum itu dilakukan, mereka melakukan quality time bersama keluarga terlebih dahulu. Jadilah mereka berempat, Mike, Cindy, Kinsey (Bailee Madison) dan Luke (Lewis Pullman), kakak Kinsey menginap di sebuah penginapan berbentuk trailer milik paman dan bibi mereka di Danau Gatlin. 


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mereka tiba juga di tempat yang dituju. Seharusnya mereka menemui paman dan bibi terlebih dahulu. Namun karena sulit dihubungi dan hari sudah larut malam, mereka berinisiatif untuk mengambil kunci trailer sendiri. Mereka berempat lalu melepas penat di salah satu trailer.

Baru sebentar berada di sana, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu trailer. Begitu dibuka, ternyata ada seorang perempuan. Minimnya pencahayaan membuat wajahnya tidak begitu kelihatan. Ia menanyakan satu hal: "Apakah Tamara ada?"

Sontak Mike dan Cindy yang membuka pintu bingung. Siapa itu Tamara? Mereka bertanya-tanya karena tidak ada orang bernama Tamara di keluarga mereka. Tanpa permisi, si perempuan kabur begitu saja. Keluarga Mike pun tak mau ambil pusing. Mereka lalu menganggapnya sebagai angin lalu.
 
Menginap di dalam trailer sebelum pergi ke asrama kelihatannya bisa mencairkan suasana hati Kinsey. Namun ternyata tidak. Kinsey yang sedari awal kekeuh tidak ingin asrama akhirnya tak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Puncaknya terjadi saat Mike meminta Kinsey untuk melepaskan headset. Emosi Kinsey yang sudah menumpuk membuatnya pergi meninggalkan trailer.
Khawatir akan apa yang terjadi pada putrinya, Cindy kemudian meminta Luke untuk mencari Kinsey. Luke manut. Ia keluar trailer dan mencari adiknya. Beruntung jarak Kinsey belum terlalu jauh sehingga Luke dapat dengan mudah menemukannya. Ia kemudian mengajaknya berbicara sembari berjalan.

Tak lama kemudian kakak-beradik tersebut melihat rumah pamannya. Segeralah mereka masuk ke dalam sana. Naasnya, begitu memasuki kamar mereka mendapatkan kabar buruk. Ternyata paman dan bibi mereka telah tewas dengan cara yang mengenaskan. Wajah mereka dipenuhi sayatan benda tajam dengan darah mengalir di sekujur tubuh. Seketika mereka terkejut. Mereka pun berlari sekuat tenaga.

Di tengah-tengah pelarian, Kinsey dan Luke bertemu dengan Mike dan Cindy. Dengan nada terbata-bata dan cucuran keringat, mereka lalu menceritakan tentang apa yang baru saja mereka saksikan. Perasaan pun bercampur aduk. Di satu sisi panik, di sisi lain khawatir karena bagaimanapun paman dan bibi adalah keluarga mereka juga. Di saat itulah mereka berbagi tugas. Mike bersama Luke pergi mengunjungi rumah sang paman untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya sementara Cindy dan Kinsey diminta mengamankan diri di dalam trailer. Teror ternyata belum berakhir. Berpisahnya mereka berempat ternyata justru semakin membuat orang asing di Danau Gatlin semakin semangat dalam menebar ancaman. Nyawa pun menjadi taruhannya. Mampukah mereka menghadapi ini semua?

Selaku sutradara, saya rasa Johannes Roberts benar-benar serius dalam memproduksi film The Strangers: Prey At Night. Sejak awal hingga akhir, jantung saya tak henti-hentinya dibuat berdegup kencang. Tiga orang asing berjiwa psikopat dengan karakter berbeda-beda, Dollface, Pin Up Girl dan The Man In The Mask sukses menebar ancaman, tak hanya di Danau Gatlin namun juga di bioskop.


Komentar