14 Hari Memberi Arti di Banten

Bagaimana rasanya tinggal selama 2 minggu di pelosok Banten untuk mengajar anak-anak SD?

Itulah yang saya rasakan saat terlibat dalam Banten Mengajar angkatan I pada awal 2016 lalu. Banten Mengajar adalah sebuah gerakan mengajar seperti Indonesia Mengajar yang turut didukung oleh Dompet Dhuafa. Mungkin ada yang bertanya, ngapain sih repot-repot jadi relawan Banten Mengajar? Saya terlibat karena saya memang suka dengan dunia anak dan mengajar. Dulu saya bahkan sempat bercita-cita menjadi guru SD. Kemudian saya pikir Banten Mengajar adalah kesempatan langka bagi saya untuk mengembangkan diri sekaligus memberikan sesuatu kepada Indonesia. Mumpung saat itu saya masih senggang, jadi kenapa saya tidak ikut saja? Belum tentu ke depannya saya bisa ikut lagi kegiatan serupa. Atas dasar itulah saya pun mendaftar sebagai relawan pengajar. Akhirnya setelah melalui serangkaian proses seleksi, saya pun terpilih bersama 22 relawan pengajar lainnya untuk kemudian melakukan pengabdian dengan mengajar di sekolah yang telah ditentukan.

Dari 23 relawan tersebut dibagi menjadi empat kelompok untuk menandakan empat penempatan yang berbeda, yakni SDN Kutakarang 01, Kutakarang 02, Kutakarang 03 dan Kiara Jangkung. Semuanya terletak di Cibitung, Pandeglang. Bersama lima orang teman, saya dimasukkan ke dalam kelompok 1 dan SDN Kutakarang 03 yang berlokasi di Kampung Cinibung, Desa Kutakarang, Kecamatan Cibitung, Pandeglang, Banten menjadi tempat pengabdian kami. Saya adalah satu-satunya laki-laki di kelompok 1 sedangkan lima lainnya adalah perempuan.
Kelompok 1 Banten Mengajar angkatan 1 (dokpri)
Banten boleh saja menjadi provinsi yang dekat dengan ibukota. Kendati demikian, jangan harap keadaan di Banten sudah baik. Faktanya, infrastrukur dan keadaan pendidikan di Banten masih minim. Pemerintah Banten masih memiliki banyak PR yang harus diselesaikan.

Mengabdi di Cinibung
Kami melakukan kegiatan relawan di Cibitung, Banten selama dua minggu, tepatnya dari 1 Februari hingga 14 Februari 2016. Pada minggu pertama, di kelompok satu hanya ada empat orang anggota saja, yakni saya, Hilmi, Maki dan Ainna. Namun pada minggu kedua jumlah orangnya bertambah dua menjadi enam karena Linda dan Lulu yang juga merupakan anggota kelompok 1 berhalangan pada minggu pertama. Mereka baru bisa menyusul pada minggu kedua.

Selama di Cinibung saya bersama teman-teman kelompok 1 tinggal di rumah Pak Udi, salah satu rumah milik warga setempat. Rumah Pak Udi berbentuk rumah panggung yang letaknya tak jauh dari SDN Kutakarang 03. Berhubung Pak Udi beserta istri sedang bekerja di kota, maka rumah tersebut hanya ditempati waktu hari raya saja. Kami beruntung dapat diizinkan untuk tinggal di rumah itu. Rumah Pak Udi sendiri sebenarnya tidak memiliki kamar mandi. Oleh karena itu jika ingin mandi kami melakukannya di kamar mandi tetangga setempat yang kebetulan terpisah dari rumahnya. Sesekali kami juga memanfaatkan sungai. Untuk urusan Buang Air Besar kami menumpang di pustu atau rumah pak carik. Hal itu dikarenakan rumah-rumah di Kampung Cinibung masih banyak yang belum memiliki jamban.
Rumah Pak Udi (dokpri)


Selama berada di Cinibung kami mengisi hari-hari dengan melakukan kegiatan belajar mengajar di SDN Kutakarang 03 berdasarkan jadwal yang telah kami buat. Alhamdulillah, pihak sekolah sangat sangat mendukungnya. SDN Kutakarang 03 sendiri adalah satu sekolah di Kecamatan Cibitung, Pandeglang dengan kondisi yang miris. Ada 11 ruangan pada sekolah tersebut. Namun beberapa ruangan tampak tak terawat dan tak bisa digunakan. Sebagian ruangan bahkan masih beralaskan tanah, bukan ubin. Tidak ada perpustakaan. Fasilitas belajar pun minim. Pada pelajaran tertentu anak-anak bahkan tidak memiliki buku pelajaran dan harus bergantung pada apa yang ditulis oleh guru di papan tulis. Terdapat fasilitas WC di sekolah itu namun keadaannya masih kurang dari kata layak. Ketiadaannya air membuat anak-anak harus membawa air dari rumah mereka masing-masing jika ingin menikmati fasilitas toilet.

SDN Kutakarang 03 (dokpri)
Kondisi kelas di SDN Kutakarang 03 (dokpri)
Fakta mengejutkan lainnya adalah pada waktu tertentu, seperti musim panen sebagian anak SDN Kutakarang 03 justru absen ke sekolah. Mereka bukannya enggan ke sekolah. Namun faktor ekonomi membuat orang tua menyuruh mereka untuk ikut berladang atau sekadar menjaga adiknya yang masih kecil karena orang tua sedang berladang. Hal ini membuat dilema bagi pihak sekolah. Di satu sisi absen dari sekolah tidak bisa dilakukan, di sisi lain mereka tidak bisa melarangnya.

Terlepas dari masalah pendidikan yang terjadi, saya kagum dengan anak-anak SDN Kutakarang 03. Mereka begitu sopan kepada orang yang lebih tua, terutama guru. Kemudian, mereka juga mudah diatur jika kita menginstruksikan atau meminta tolong sesuatu. Jarak dari rumah ke sekolah  boleh saja jauh. Namun mereka begitu semangat untuk datang dari pagi buta hanya untuk menuntut ilmu di sekolah. Saya sempat mengabadikannya pada hari pertama setelah tiba di Cinibung.

Oh ya, selain mengajar di sekolah pada pagi hari, kami juga mengadakan rumah belajar di tempat kami tinggal. Kegiatan dilaksanakan pada siang hari selepas pulang sekolah. Pada rumah belajar  kami berbagi ilmu apa saja yang kami bisa, mulai dari matematika, mendongeng, Bahasa Inggris, membuat origami, membuat topeng, mewarnai dan bahkan menggambar. Terkadang kelas diadakan di dalam ruang tamu, terkadang pula di teras di depan rumah.
Kelas topeng (dokpri)
Tak disangka, antusiasme anak-anak yang mengikuti kegiatan ini luar biasa. Setiap kali rumah belajar dibuka, mereka rela datang ke rumah kami hanya untuk belajar dan bermain bersama. Kegiatan menggambar atau membuat origami mungkin tampak biasa jika dilakukan di ibukota. Namun bagi anak-anak Kutakarang hal itu justru sangat berarti. Mereka sangat senang dan menikmati tiap kelas yang kami lakukan.

Berbagi di Kelas Jauh
SDN Kutakarang 03 memiliki dua kelas, yakni kelas induk dan kelas jauh. Kelas induk adalah sekolah yang terletak tak jauh dari rumah Pak Udi. Sementara itu kelas jauh adalah perpanjangan dari SDN Kutakarang 03 yang terletak di Desa Samlun, Pematang Laja, daerah Pantai Mantiung. Mengingat tidak adanya sekolah di Samlun dan jauhnya jarak antara Samlun dan Cinibung menjadi alasan kenapa kelas jauh SDN Kutakarang 03 didirikan. Anak-anak kelas jauh hanya akan pergi ke kelas induk jika diadakan Ujian Nasional saja. Nah, setelah 7 hari pertama kami mengisi hari-hari di kelas induk, dua hari berikutnya yakni pada 8-9 Februari 2016 saatnya giliran kami untuk berbagi di kelas jauh. Bagaimana pun mereka adalah bagian dari Kutakarang 03 yang tak boleh luput dari perhatian.

Kami pergi ke kelas jauh tidak seorang diri, melainkan ditemani oleh Pak Mamad selaku kepala sekolah dan Pak Oji selaku salah satu guru di SDN Kutakarang 03. Sulitnya medan membuat kami berdelapan mencapai ke sana dengan cara berjalan kaki. Kami pun menyusuri berbagai rimbunan pohon lebat, tanjakan curam, bukit dan bahkan sungai. Selama di sana kami menginap di rumah alm. Pak Sumanta. Pak Sumanta sendiri merupakan salah satu pahlawan pendidikan di Banten karena di tengah-tengah keterbatasan yang dihadapi di Desa Samlun, ia memelopori berdirinya SDN Kutakarang 03 kelas jauh. Saya takjub dengan beliau. Kendati ia telah dipanggil Tuhan, kebermanfaatan atas sekolah yang dibangunnya masih terasa sampai sekarang. Luar biasa.
Berfoto setelah tiba di kelas jauh (dokpri)
 Dibandingkan dengan kelas induk, keadaan sekolah di kelas jauh lebih memprihatinkan. SDN Kutakarang 03 kelas jauh bercampur dengan MTS swasta Daarul Maarif. Bangunan pada kelas jauh terbuat dari bambu. Terdapat 7 ruangan di sana yang terdiri dari 6 ruang kelas dan 1 ruang guru dengan ukuran yang terbilang sempit. Dari 6 ruang kelas tersebut, 4 di antaranya digunakan untuk SD sedangkan 2 lainnya untuk SMP. Hanya kelas 5, kelas 6 dan kelas 9 saja yang berdiri sendiri, sedangkan kelas-kelas lainnya seperti kelas 1 dan kelas 2, kelas 3 dan kelas 4 serta kelas 7 dan kelas 8 dicampur. Bisa dibayangkan kan bagaimana jadinya kegiatan belajar mengajar di ruangan untuk dua kelas berbeda? Tentu keadaannya akan menjadi kurang kondusif. Selain itu fasilitas belajar mengajar pun minim. Perpustakaan dan alat penunjang pendidikan tidak ada di sana.

Kami mendatangi sekolah itu keesokkan harinya, yakni pada Selasa, 9 Februari 2016. Di sana kami berbagi dengan cara mengajar, mendongeng dan melakukan sosialisasi untuk melakukan sikat gigi secara rutin. Baru sebentar ada di sana kami merasakan ada perbedaan antara anak-anak di SDN Kutakarang kelas induk dengan kelas jauh. Jika anak-anak pada kelas induk lebih percaya diri, anak-anak kelas jauh justru lebih pemalu dan tertutup. Kendati sempat mengalami kesulitan untuk mengajak mereka untuk sekadar menjawab pertanyaan atau ikut menyanyi, mereka turut lebur dalam kegiatan yang kami lakukan. Kami pun turut senang. Di akhir kegiatan kami pun memberikan pihak sekolah sejumlah buku bacaan beserta puzzle. Ingin rasanya kami berada lebih lama di sana. Namun keterbatasan waktu yang kami miliki membuat kami harus kembali ke Cinibung pada siang hari.
Kondisi kelas di kelas jauh (dokpri)
Kegiatan mendongeng di kelas jauh (dokpri)
Hari-hari Terakhir
Sekembalinya dari kelas jauh, kami kembali melakukan kegiatan dengan anak-anak SDN Kutakarang 03 kelas induk. Tersisa 5 hari tersedia sebelum kami benar-benar pulang ke rumah masing-masing. Selain kegiatan mengajar dan rumah belajar seperti biasa, kami juga memanfaatkan 5 hari terakhir dengan mengadakan sosialisasi sikat gigi, pemutaran film Laskar Pelangi hingga berbagai lomba keagamaan dan cerdas cermat. Ada pula Mobil Quran yang telah disediakan oleh komunitas Banten Mengajar. Kami bersyukur karena setiap kegiatan yang kami ikuti selalu mendapat antusiasme yang luar biasa dari anak-anak dan warga setempat. Kami juga berterima kasih karena pihak sekolah sangat mendukung setiap kegiatan yang kami lakukan.
Belajar memainkan angklung, salah satu kegiatan yang dilakukan menjelang perpisahan (dokpri)
Cinta Al-Quran, salah satu kegiatan yang digagas oleh Banten Mengajar (dok. Banten Mengajar)
Pada H-1 sebelum kami pergi meninggalkan Cinibung, kami melakukan perpisahan di sekolah. Perpisahan dilakukan dengan menyampaikan sambutan yang dilakukan oleh ketua kelompok, Hilmi dan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan donasi berupa papan tulis, puzzle, buku dan angklung. Di akhir kegiatan, beberapa guru dan murid juga melakukan persembahan terakhir dengan memainkan angklung interaktif yang dipandu oleh saya sendiri. 

Sungguh, pagi itu adalah pagi terberat dalam hidup saya dan teman-teman ketika harus berpamitan dengan anak-anak dan guru. Saya sangat menyayangi anak-anak SDN Kutakarang 03 selayaknya adik-adik saya sendiri. Pun dengan para guru, baik kelas induk maupun kelas dekat. Saya belajar banyak dari mereka. Mereka adalah hero zaman now yang begitu luar biasa. Saya pribadi merasa sedih karena mau berpisah. Namun apa daya, saya dan teman-teman relawan pengajar yang lain juga tak bisa melawan waktu yang terus bergulir. 

Apalah kami di mata anak-anak SDN Kutakarang 03. Hanya sekelompok mahasiswa dan fresh graduate yang berusaha melakukan hal-hal sederhana di Cinibung. Namun ternyata pada malam harinya kami mendapatkan suatu kejutan. Beberapa anak SDN Kutakarang 03 datang ke rumah kami sembari membawa dua buah timun suri. Mereka datang kemudian membuat minuman untuk kami nikmati. Melihat hal itu saya merasa terenyuh. Ini adalah malam paling romantis yang pernah saya alami dari anak-anak yang saya baru kenal dua minggu lamanya. Minum minuman timun suri sebenarnya biasa. Namun minum buatan mereka saat itu rasanya merupakan minuman timun suri terenak yang pernah saya nikmati. Setelah melewati malam yang tak terlupakan dan berpamitan dengan berbagai pihak, kami pun pulang keesokkan harinya, yakni pada 14 Februari 2016.

Kesan-kesan dari Anak SDN Kutakarang 03 (dok. Linda Erlina)
Bersama anak-anak SDN Kutakarang 03 yang luar biasa (dokpri)
Para hero zaman now yang luar biasa (dokpri)
 Pengalaman selama ikut kegiatan Banten Mengajar mengajarkan saya banyak hal. Pada intinya, memberi arti pada orang lain tidak perlu dari hal-hal besar. Dari hal-hal kecil pun bisa kita lakukan.  Dapat membuat anak-anak senang dari hal-hal sederhana seperti mengajarkan  cara membuat origami adalah sebesar-besarnya memberi arti ketika menjadi relawan. Apapun yang bisa kita lakukan untuk orang lain, lakukanlah. Sebab pada hakikatnya, setiap manusia diciptakan Tuhan untuk memberikan arti untuk manusia dan makhluk hidup lainnya.

Saya sudah berusaha melakukannya selama 14 hari di Banten dan tentu saja itu bukan akhir segalanya. Selama saya masih diberi kesempatan oleh-Nya dalam menjalani hari-hari saya akan terus berusaha memberi arti pada orang lain lewat hal-hal sederhana yang bisa saya lakukan. Bagaimana denganmu?

***

NB: Alhamdulillah, saat ini keadaan sekolah SDN Kutakarang 03 baik di kelas induk maupun kelas jauh telah menjadi lebih baik karena telah mengalami renovasi. Namun saya belum mengetahui secara detailnya seperti apa karena belum berkunjung lagi ke sana setelah terakhir kali ikut Banten Mengajar pada awal 2016.
  • #BulanKemanusiaan
  • #HeroJamanNow
  • #MembentangKebaikan

Komentar

  1. Wah...Tak terasa ya sudah 2 tahun yang lalu...jadi kangen mau ke sana lagi..main dan belajar bareng anak anak Cinibung... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya waktu berputar begitu cepat ya :')

      Hapus
  2. Semoga kondisi sarana dan prasarana sekolah2 dipelosok semakin baik ya. Amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Semoga terus mengalami peningkatan ya

      Hapus
  3. waaahm. keren. dari dulu pengen banget bisa ikut kegiatan seperti ini. Semoga masih diberi kesempatan buat berbagi ya

    BalasHapus
  4. Biar kecil yang bisa di lakukan bermanfaat besar bagi orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget mpok. Gak perlu hal-hal besar. Dari hal-hal kecil pun kita udah bisa memberi arti bagi orang lain.

      Hapus
  5. Hero jaman now... Wah Banten ya. Rumah akuuu juga di Banten. Selalu salut dgn cita2 seseorang yg mau jadi guru ��

    BalasHapus

Posting Komentar