Belajar Haegeum dan Yulmyeong, Alat Musik dan Solmisasi ala Korea

Saya suka banget belajar hal-hal baru. Terlebih kalau saya masih awam banget di bidang itu. Enggak tahu ya, tapi bagi saya itu menyenangkan banget. Saya jadi dapat wawasan dan pengalaman baru. Saya percaya enggak ada yang sia-sia dari belajar, apapun itu yang kita pelajari. Selama itu positif pasti akan ada manfaat dan dampaknya ke dalam kehidupan kita, entah itu secara langsung ataupun secara tidak langsung. Entah kapan waktunya saya juga enggak tahu, tapi pasti ada.

Maka begitu Korean Cultural Center (KCC) Indonesia alias Pusat Kebudayaan Korea Indonesia menyelenggarakan kegiatan kelas alat musik tradisional Korea, wah mau banget!  Ada tiga alat musik tradisional Korea yang ditawarkan, yakni danso, haegeum dan gayageum. Danso adalah alat musik yang mirip dengan seruling, haegeum mirip dengan erhu asal Tiongkok atau tehyan asal Jakarta dan gayageum mirip dengan harpa. 

Ilustrasi haegeum (dok. app.emaze.com)
Enggak pakai mikir-mikir atau tanya sana-sini langsung saja gue mendaftar. Saya penasaran kayak gimana sih memainkan alat musik tradisional Korea? Belajar alatnya aja dulu, siapa tahu nanti bisa ke Korea beneran. Hoho. Saya juga pikir ini kesempatan langka. Kapan lagi bisa belajar alat musik Korea langsung dari mentornya dan gratis pula? Kalau berbayar, pasti mahal biayanya dan enggak semua orang bisa berkesempatan belajar alat musik tradisional Korea tanpa harus ke Koreanya langsung. Beruntung untuk ikut kelas ini persyaratannya enggak ribet. Hanya kirim data diri ke email KCC saja kita sudah bisa mendaftarkan diri.

Meski kegiatan ini terbuka untuk umum dan siapa saja bisa mendaftar, tapi kita harus buru-buru mendaftar. Selain ada tenggat waktu pendaftaran, juga ada kuota untuk masing-masing alat musik tradisional yang dipelajari. Maksimal 10 murid untuk danso, maksimal 5 orang untuk haegeum dan 10 murid untuk gayageum. Dari ketiga kelas ini saya memilih haegeum. Selain karena saya lebih tertarik dengan alat musik gesek, saya memilih haegeum karena merasa lebih privat karena dibanding kelas alat musik lain, kuota peserta untuk kelas haegeum lebih sedikit.

Beberapa hari setelah pendaftaran ditutup, yakni pada 14 September 2017 saya kemudian menerima email dari KCC yang memberikan konfirmasi kalau saya terpilih sebagai salah satu dari 6 murid di kelas haegeum. Dari semua nama murid lain, saya melihat semuanya adalah nama cewek dan hanya saya saja yang cowok. Saya pikir, wah jangan-jangan saya doang yang cowok! Tapi saya maklum sih. Namanya Korea, pasti peminatnya lebih banyak cewek dibanding cowok karena terpengaruh oleh drama korea dan boyband-boyband Korea yang menampilkan oppa-oppa pujaan mereka. Uhuk!
Pemain haegeum (dok. akun youtube murasakiryu)
Kelas alat musik tradisional Korea dimulai setiap Senin, Rabu dan Jumat dengan jadwal dari pukul 10.00-12.00 WIB dan pukul 14.00-16.00 WIB di ruang serbaguna KCC. Untuk kelas haegeum sendiri dilaksanakan setiap Rabu dan Jumat. Rabu pada pukul 10.00-12.00 WIB dan Jumat pada pukul 14.00-16.00 WIB. Kegiatan berlangsung selama 10 pertemuan (setara dengan lima minggu) dan berlangsung dari tanggal 18 September 2017 hingga 24 Oktober 2017. Asyiknya, kalau kita masuk di 7 pertemuan atau absen tidak lebih dari tiga kali, kita berhak membawa pulang sertifikat loh! Lumayan banget buat kenang-kenangan. xD

Pertemuan kelas haegeum pertama berlangsung pada Rabu, 20 September 2017. Sebenarnya sih bisa naik transjakarta dan turun di halte Gelora Bung Karno. Namun lantaran malas karena bakalan muter-muter, maka saya memilih naik gojek dari rumah dan turun di FX. Kemudian berjalan kaki dengan riang gembira menuju KCC. Kebetulan jarak dari FX dengan KCC yang berlokasi di Equity Tower enggak jauh kok. Setelah menyeberang lewat jembatan penyeberangan halte Gelora Bung Karno, kita kemudian masuk ke kawasan SCBD (Sudirman Central Business District). Ikutin jalan aja. Enggak jauh dari situ kemudian kita akan menemukan gedung Equity Tower. KCC sendiri terletak di lantai 17.

Pada hari pertama saya sempat telat hampir 30 menit. Namun beruntung kelas belum dimulai terlalu jauh. Setibanya di sana saya mendapati 3 orang murid lainnya yang semuanya adalah perempuan, 2 mentor wanita asli dari Korea serta 1 orang wanita berjilbab yang tak lain adalah interpreter. Kegiatan membutuhkan interpreter karena kelas disampaikan dengan full Bahasa Korea dan kemampuan Bahasa Korea setiap murid tentu berbeda. Saya termasuk yang masih sangat awam dengan Bahasa Korea.

“Annyonghaseyo”, sapa si mbak-mbak mentor. Saya balas “annyonghaseyo” pula kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia. Di sana telah tersedia alat musik haegeum yang masih belum dikeluarkan dari tempatnya dan dua lembar kertas yang telah disteples. Setiap murid telah mengeluarkan haegeum masing-masing dari tempatnya, pun dengan saya. Tak lama setelah itu si eonni mengajarkan saya tentang bagaimana cara memegang alat musik haegeum yang baik dan benar. Tentu dibantu dengan interpreter karena kalau enggak saya pasti bakalan roaming. Wkwkw

Haegeum adalah alat musik yang hanya memiliki dua senar. Alat untuk menggeseknya terbuat dari ekor kuda. Langkah pertama dan paling awal sebelum memainkan haegeum adalah haegeum harus diletakkan di atas paha. Di bagian bawah haegeum terdapat bagian yang mirip seperti batok kelapa yang berlubang. Nah, bagian yang berlubang itu harus selalu menghadap ke arah kiri. Kemudian tangan kiri dan tangan kanan harus berbagi tugas. Tangan kiri bertugas memegang senar sedangkan tangan kanan bertugas memegang alat gesek. Tidak seperti biola yang alat geseknya bisa dipisahkan dari senar biola, alat gesek pada haegeum justru masuk dan ada di antara dua senar.
Yeay! Akhirnya belajar haegeum! (dokpri)
Masih ingat kan kalau haegeum punya dua senar? Nah, senar di depan disebut apjul sedangkan senar di belakang disebut bakjul (tulisannya benar enggak ya?). Memainkan apjul lebih mudah dibandingkan dengan bakjul. Cara memainkannya adalah dengan digesek. Tiga jari dari jari tengah hingga kelingking memegang pegangan alat gesek sedangkan jari telunjuk plus jempol bertugas memegang bagian kayu pada alat gesek dengan posisi seperti memegang pensil. Untuk menciptakan suara yang bagus, geng jari tengah dan kawan-kawannya harus menarik pegangan alat gesek dan jempol plus jari telunjuk menahan si kayu. Kemudian tinggal gesek ke kanan dan ke kiri dan terciptalah alunan suara yang indah. Meski kelihatannya enggak ada apa-apanya, namun memegang alat gesek bisa membuat telapak tangan dan jari berasa kapalan dan gatal, terlebih jika kita belum terbiasa. Saya mengalaminya soalnya. Hoho.

Eonni bilang bahwa dibanding alat musik tradisional lainnya (terutama yang ada di kelas alat musik), haegeum adalah alat musik yang lebih sulit dimainkan. Di titik ini saya merasa, “Wah, bisa enggak ya?” tapi di sisi lain merasa bahwa keputusan saya memiliih haegeum adalah keputusan yang tepat. Pasti seru!

Setelah memastikan bahwa semua murid sudah dapat memegang haegeum dengan benar, eonni berbagi ilmu tentang notasi dan partitur versi Korea. Dibanding versi Barat ternyata Korea punya versi notasi tersendiri dalam musik tradisional mereka. Nama sistem solmisasi itu dikenal dengan istilah yulmyeong”
Yulmyeong (dokpri)
Dalam satu oktaf pada yulmyeong terdapat 12 nada. Tiap nada ini memiliki karakter Tiongkok tetapi hanya karakter pertamanya saja yang digunakan dalam notasi. Apa aja sih? Nah, berikut kedua belas nadanya dari rendah ke tinggi: hwangjong (hwang), daeryeo (dae), tae (taeju), hyeopjong (hyeop), goseon (go), jungreyo (jung), yubin (yu), imjong (im), ichik (i), namryeo (nam), muyeok (mu) dan eungjong (eung). Nada dalam musik tradisional Korea memang berbeda, tapi enggak usah bingung karena ada beberapa persamaan. Misalnya, hwang setara dengan sol, tae dengan la, jung dengan do, im dengan re dan nam dengan mi.

Nah, seperti alat musik lainnya, tentu kita butuh partitur untuk dapat memainkannya. Ini dia yang unik. Partitur Korea berbeda dari partitur seperti yang biasa kita kenal. Jika partitur Barat ditulis dari kiri ke kanan kemudian berlanjut ke bawah, pada partitur Korea justru berbeda. Cara membaca partitur Korea adalah dari kiri ke bawah lalu setelah habis berlanjut ke kanan. Begitu pula seterusnya.

Not ditulis di dalam kotak dengan menggunakan karakter Cina yang berada di paling depan dari masing-masing nada dan terdapat penjelasan tentag nama nada dalam huruf Hangeul di samping karakter tersebut. Di samping kanan kotak terdapat garis horizontal dan garis vertikal. Garis itu bukan sekadar garis, tapi ada artinya. Jika horizontal, berarti kita harus menggesek haegeum dari kanan ke kiri atau masuk. Adapun jika garis itu vertikal maka kita harus menggesek haegeum dari kiri ke kanan atau mengeluarkan alat gesek dari lubang di antara dua senar.  

Dalam partitur terkadang ada kotak kosong. Nah itu juga ada artinya, yakni not sebelumnya bernilai panjang. Satu kotak bernilai satu ketuk. Maka jika ada satu kotak yang kosong setelah nada hwang, maka hwang bernilai dua ketuk. Bagaimana arah menggeseknya itu tergantung dari garis yang terdapat pada partitur. Jika pada kotak terdapat tanda segitiga maka itu artinya pemain harus berhenti.

Untuk memudahkan para pemula seperti kami dalam memainkan haegeum, eonni menuliskan angka pada not-not di bawahnya. Aslinya sih enggak ada. Angka yang ditulis menandakan jumlah jari pada tangan kiri yang harus digunakan untuk menahan atau menarik senar. Satu jari dimulai dari jari telunjuk kemudian berlanjut ke jari-jari yang ada di bawahnya. Misalnya hwang. Hwang setara dengan sol. Untuk memainkan nada hwang, tertulis angka 1 di bawah nada. Itu berarti pemain harus menahan senar dengan jari telunjuknya saja. Oh ya, setiap jari kan punya buku-buku jari yang dipisahkan oleh semacam dua garis. Nah, jari yang ditempelkan atau diletakkan pada senar ini harus diletakkan pada pertengahan jari atau di antara dua garis. 
Partitur ala Korea (dokpri)
Jika angka tersebut dilingkari, maka kita harus memainkan bakjul atau senar bagian belakang. Caranya mudah kok. Tinggal tempelkan saja alat gesek kepada senar bagian belakang kemudian mainkan dengan cara menggeseknya. Sebaliknya jika tidak terdapat lingkaran, maka itu artinya kita memainkan secara apjul alias pada nada depan saja.

Jika ada tanda petik atas pada keterangan angka yang ditulis, itu artinya kita harus menarik senar lebih kuat lagi. Misalnya im dan nam. Im setara dengan re sedangkan nam setara dengan mi. Meski sama-sama membutuhkan 4 jari tangan kiri dalam menahan atau memegang senar, namun perlakuan keduanya beda. Pada im empat jari cukup diletakkan biasa saja namun pada nam, 4 jari harus menarik senar dengan lebih kuat untuk menghasilkan nada lebih tinggi. Itulah kenapa im setara dengan re sedangkan nam setara dengan mi.

Ada yang terlewat? Oh ya, pada tiap kotak juga terkadang terdapat garis horizontal yang terletak di atas nada. Itu artinya nilai ketukan pada nada sebelumnya bertambah setengah sedangkan nada pada kotak tempat garis itu berada bernilai setengah. Misalnya ada dua kotak secara berurutan. Kotak pertama berisi nada hwang sedangkan kotak kedua berisi nada tae dengan garis horizontal di atasnya. Itu berarti nada hwang bernilai satu setengah sedangkan tae bernilai setengah ketukan. Perhatikan garis yang terdapat pada sebelah kanan kotak. Bukan tidak mungkin, dua nada dengan ketukan berbeda dimainkan dalam sekali gesekan. Nah loh!

Dalam belajar memainkan haegeum, kami memainkan lagu hakyo yang berarti sekolah. Pada bagian pertama sih mudah namun pada bagian ketiga agak sulit (bagian kedua tidak dipelajari). Saya sih paham secara teori. Namun saat mengaplikasikannya kok yao saya jadi kagok ya? Ternyata mempraktekkan tidak semudah belajar teori. Tapi enggak hanya saya, para murid lain juga merasakan hal yang sama. Eonni pun bilang kepada kami semua untuk perbanyak latihan. Mendendangkan lagu adalah salah satu cara termudah untuk memperlancar dalam memainkan haegeum.

Tak hanya memainkan lagu, kami juga diajarkan bagaimana merawat haegeum terutama pada bagian ekor kuda yang biasa digunakan dalam menggesek. Dalam satu tempat haegeum terdapat benda berbentuk kotak kecil seperti sabun. Benda itulah yang kemudian kita gunakan untuk memperbaiki kualitas suara pada ekor kuda pada haegeum. Tinggal gesek-gesekkan saja, beres deh. Jika ada bagian ekor kuda yang rontok atau jelek, tidak perlu dipertahankan. Dicopot saja juga tidak masalah.

Hingga tulisan ini selesai ditulis dan dipublikasikan, saya telah mengikuti dua pertemuan. Kesan-kesannya? Sangat menyenangkan. Saya sangat menikmati memainkan haegeum. Saya juga suka dengan pengajaran eonni yang sangat telaten mengajarkan kami yang awam. Saya memang belum lancer namun saya percaya jika latihan terus menerus pasti hasilnya akan lebih baik. Dua jam pun terasa. PR terbesar saya adalah mengetahui yulmyeong di luar kepala. Saya memang belum lancar namun saya percaya jika latihan terus menerus pasti hasilnya akan lebih baik. Semangat!

Komentar

  1. Waaaaahh...lengkap banget penjelasannya oppa valka...Keren banget bisa belajar alat musik ini... Semangaaaaath ya buat latihannya sampai ke hari 10, Semoga di akhir udah bisa apal semua yulmyeong nyaa yaa..

    BalasHapus
  2. Pusing! Tapi seru dan pengen belajar ih jadinya... Hehehe...

    BalasHapus

Posting Komentar