Menyeruput Secangkir Persahabatan dalam "Filosofi Kopi 2"

Kopi adalah minuman yang supel. Ia mudah bergaul dengan siapa saja. Tak hanya menjadi teman ngobrol antarkalangan orang biasa di warteg atau warkwop saat membicarakan soal tetek bengek kehidupan, kopi juga menghangatkan suasana bagi anak muda dan kalangan atas di kedai kopi saat berbicara tentang karier dan mimpi-mimpi mereka. Daya tarik kopi yang mudah diterima oleh berbagai kalangan menjadikan kopi sebagai inspirasi suatu film. Filosofi Kopi adalah salah satu contohnya.

Setelah sukses dengan filosofi kopi yang sempat tayang pada beberapa waktu lalu, film ini kemudian mengeluarkan sekuel terbarunya: Filosofi Kopi 2 yang telah rilis sejak 13 Juli 2017 di bioskop-bioskop tanah air. Bedanya, jika pada filosofi kopi pertama ceritanya berdasarkan tulisan Dee, cerita pada season kali ini justru ditulis oleh orang lain dengan pengembangan karakter-karakter yang diciptakan oleh Dee sehingga Dee tidak terlibat di dalamnya. Jujur, saya belum pernah menonton filosofi kopi edisi pertama sehingga belum tahu alur cerita filkop 1 sebenarnya. Namun rasa penasaran saya tentang sejauh mana kopi menjadi inspirasi dalam film hingga dibuat sekuelnya membuat saya tergugah untuk menontonnya. Semenarik apa sih ceritanya? Akhirnya melalui Komik saya pun berkesempatan menonton screening Filosofi Kopi 2 yang dilaksanakan di Plaza Indonesia pada Rabu, 5 Juli 2017.

Sejumlah artis papan atas turut membintangi Filosofi Kopi 2. Mulai dari Chiccho Jerikho, Rio Dewanto, Luna Maya hingga Nadine Alexandra. Mereka hadir untuk menunjukkan kemampuan aktingnya. Hadirnya para aktor dan aktris bertalenta tanah air ini tentu menjadi daya tarik bagi para pecinta film Indonesia.

Filkop 2 berfokus pada hubungan persahabatan antara Ben yang diperankan oleh Chiccho Jerikho dan Jody yang diperankan oleh Rio Dewanto dalam berjuang mempertahankan filosofi kopi sebagai . Adegan pertama diawali dengan perjalanan Ben and the genk  di Bali dalam melakukan bisnis filosofi kopi 2 dengan menggunakan kombi. Semula kedai kopi berjalan yang mereka lakukan lancar jaya seperti jalan tol. Animo pembeli kopi di kedai mereka amat tinggi. Ben bahkan sampai selalu menyampaikan filosofi pada setiap pembeli yang bertanya tentang apa filosofi dari kopi yang disajikan. 

Nah, di saat Nana mengundurkan difi dari tim filosofi kopi 2 karena ingin fokus pada kehamilannya, di situlah awal mula terjadinya konflik. Masalah kian rumit ketika Aga dan temannya juga mengundurkan diri dari filosofi kopi karena ingin mencapai mimpinya yang lain. Kemunduran tiga orang karyawan dalam waktu berdekatan secara tak langsung berpengaruh pada SDM yang bertugas di kedai berjalan Filosofi Kopi 2, karena hanya Ben dan Jody saja yang tersisa.

Mereka pun sempat kewalahan. Sebenarnya bisa saja mencari barista lain untuk menggantikan posisi mantan pekerja yang telah mengundurkan diri. Jody bahkan telah menemukan sejumlah barista baru. Namun Ben yang keras kepala, perfeksionis dan merasa paling tahu soal dunia barista ketimbang Jody selalu menentangnya. Jody tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengalah. 

Alhasil dari beberapa barista baru yang mulai bekerja tidak ada yang bertahan. Kondisi kian rumit. Merasa tak bisa menjalankan filkop dengan SDM yang minim membuat mereka berpikir tidak bisa melanjutkan berbisnis kopi dengan konsep kedai berjalan. Setelah sempat berdiskusi akhirnya terpikirlah satu ide di benak mereka: bagaimana kalau kembali membuka kedai kopi (lagi) di Jakarta?

Singkat cerita, mereka berdua pun mewujudkan keinginan tersebut. Mereka kembali ke Jakarta. Mereka memang sudah memiliki tempat untuk kedai yang sudah tak terawat di Melawai, Jakarta. Namun membangun kedai filosofi kopi di Jakarta tidak semudah menjentikkan jari. Bagaimana pun mereka butuh modal untuk membangun kembali tempat yang telah berdebu dan menjadi sarang tikus. Beruntung rezeki tidak kemana. Lewat bantuan kakaknya Jody, mereka pun mencari investor dengan mempresentasikan bisnisnya di hadapan mereka. Setelah mengalami berbagai penolakan,  akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba. Mereka dipertemukan dengan Tarra (Luna Maya) yang kemudian menjadi investor mereka. 

Setelah dilakukan kesepakatan, mereka lalu membangun kedai filosofi kopi kembali di Melawai. Selain desain bagian luar dipercantik, mereka juga merekrut sejumlah barista. Bri alias Sabrina yang diperankan oleh Nadine Alexandra salah satunya. Di sinilah konflik makin menarik. Jody menerima Bri sebagai barista tanpa persetujuan Ben. Hal ini membuat Ben yang perfeksionis dan paling tahu soal kopi  bersikap dingin dan skeptis terhadap Bri. Ben pun seolah memberikan sekat antara dirinya dan Bri. 

Di filkop 2 tak hanya hubungan Ben-Bri saja yang diperlihatkan tetapi juga Ben-Tara, Jody-Tara dan tentunya Ben-Jody sebagai karakter utama. Meski di awal cerita hubungan Ben dan Tara baik-baik saja, namun pada akhirnya ada gesekan konflik antara Ben dan Tara yang berhubungan dengan masa lalu Ben yang "sialnya" baru diketahui Ben saat kedai filosofi kopi buka cabang di Yogya. Sebagai sahabat, Jody menjadi penengah. Ia tahu bahwa Ben orangnya temperamental, mudah meledak. Maka dari itu ia berusaha senetral dan sebijak mungkin dalam "mengademkan" masalah yang timbul di antara mereka berdua tanpa menyakiti satu sama lain. Persahabatan Ben-Jody pun diuji.

Secara keseluruhan saya menikmati filkop 2. Saya suka dengan hubungan bromance antara Ben-Jody dan bagaimana mereka mengatasinya. Itu so sweet banget menurut saya. Saya juga suka dengan panorama keindahan alam Indonesia yang ditampilkan, mulai dari Bali, Yogyakarta hingga Toraja. Film ini juga memiliki unsur komedi sehingga di beberapa adegan penonton akan merasa terhibur.
Walau begitu ada beberapa hal yang perlu jadi perbaikan jika filkop ingin menambah sekuelnya menjadi filkop 3 misalnya. Perpindahan antara satu tempat ke tempat lain yang terlalu cepat membuat saya agak terganggu. 

Selain itu ada beberapa hal yang janggal jika kita memperhatikannya dengan detail. Misalnya alasan Ben-Jody berhenti menjalankan filkop dengan menggunakan kombi adalah karena faktor SDM. Lalu kenapa solusinya membuat kedai kopi lagi di Melawai? Padahal itu juga membutuhkan SDM. Menurut saya hal itu kurang kuat kalau mau dijadikan alasan bisnis kedai berjalan berhenti lalu beralih ke kedai yang menetap. Toh, animo filkop saat menggunakan kombi diceritakan tinggi. 

Hal janggal lainnya juga tampak saat Tara alias Luna Maya keluar dari kedai filkop Melawai sendirian dengan sedih kemudian masuk mobil. Tapi kenapa tiba-tiba ada Jody di posisi pengemudi? Padahal Tara keluar sendirian dari filkop. Mana bisa ia tahu bahwa Jody mengejarnya dan tahu-tahu masuk ke kursi pengemudi? 

Dari segi akting saya merasa Chiccho Jerikho dan Rio Dewanto adalah yang paling totalitas. Mereka terlihat natural dalam menjalankan bromance. Pun dengan Nadine Alexandra yang memerankan Bri yang bergaya "nerd". Namun saya kurang puas dengan akting Luna Maya. Entahlah, saya merasa dia kurang greget terutama dalam menjalankan peran saat menangis.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang ada, saya rasa filosofi kopi 2 cocok dijadikan film tontonan bagi kita  untuk sekadar menyeruput secangkir persahabatan. Kabar baiknya, sebagian keuntungan dari penjualan tiket filosofi kopi 2 akan disumbangkan kepada para petani kopi loh. Jadi kapan lagi nonton sembari berderma?

Komentar