Sedia Bicara Sebelum Depresi

Kehilangan energi?

Nafsu makan berubah?

Mengalami gangguan tidur?

Atau justru suka cemas?

Jika kamu mengalami salah satu dari hal di atas, jangan anggap remeh! Bisa jadi kamu sedang depresi!

Ilustrasi orang depresi (dok. jberita.com)
Apa itu depresi? Depresi merupakan sebuah penyakit yang ditandai dengan rasa sedih berkepanjangan dan kehilangan minat terhadap kegiatan-kegiatan yang biasanya kita lakukan dengan senang hati. Depresi erat kaitannya dengan sisi psikologis seseorang. Depresi bisa menyebabkan gangguan kejiwaan, tapi orang yang depresi tidak berarti gila.

Orang yang mengalami depresi biasanya tidak bisa berpikir jernih. Oleh karena itu mereka sering tidak menyadari apa yang mereka alami. Padahal depresi bisa dikenali dengan berbagai gejala. Setidaknya terdapat beberapa petunjuk seseorang mengidap depresi. Antara lain:
1. Kehilangan energi
2. Nafsu makan berubah
3. Gangguan tidur
4. Cemas
5. Sulit berkonsentrasi
6. Sulit membuat keputusan
7. Tidak tenang
8. Merasa tidak berguna
9. Merasa bersalah atau putus asa
10. Timbulnya pikiran-pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.


Jadi, jika seseorang mengalami salah satu atau beberapa gejala yang disebutkan di atas kamu sudah harus waspada. Jangan-jangan orang itu sedang mengalami depresi.

Depresi sangat berbahaya sebab bisa membahayakan jiwa. Saking bahayanya, depresi bahkan diprediksikan sebagai salah satu dari tiga penyakit utama yang akan menjadi beban ekonomi suatu negara atau global burden disease pada 2030 selain HIV dan penyakit jantung koroner. Untuk itulah pada hari kesehatan dunia 2017 yang jatuh pada 7 April 2017, WHO (World Health Organization) menjadikan depresi sebagai tema utama karena ia ingin mengajak negara-negara di dunia untuk menekan dan meminimalisir beban negara akibat depresi. 

Sebagai lembaga tertinggi negara di bidang kesehatan, Kementerian Kesehatan RI turut mendukung program WHO. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi tentang depresi kepada para blogger dengan menghadirkan berbagai pemateri kece di bidang kesehatan. Di antaranya adalah Nursiladewi selaku perwakilan WHO, dr Fidiansyah selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA, Kemenkes RI, dr Eka Viora sebagai ketua PDSKJI dan Nur Yanayirah selaku pendiri MotherHope Indonesia. Adapun tempat pelaksanaannya adalah Kementerian Kesehatan di Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Harapan dari kegiatan ini adalah agar para blogger dapat menjadi agen informasi yang baik dan benar tentang depresi melalui tulisan blog sehingga semakin banyak masyarakat mendapat pencerahan. Terlebih sekarang adalah era millenial, apa-apa serba berhubungan dengan gawai dan online.

Temu blogger dalam rangka hari kesehatan dunia 2017 di kemenkes (dokpri)
Nursiladewi dari WHO saat menyampaikan paparannya (dokpri)
Depresi tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab depresi bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Depresi rentan terjadi pada kaum hawa ketimbang pria. Depresi juga bisa terjadi pada anak-anak. Ada banyak hal yang menjadi penyebab depresi, baik faktor internal ataupun eksternal. Faktor eksternal misalnyadiberhentikan dari pekerjaan, diputuskan oleh pacar, ditinggalkan oleh orang yang amat disayangi, mengalami keguguran, menjadi korban perundungan (bullying), terlilit hutang banyak hingga menjadi korban pelecehan seksual. Sedangkan faktor internal contohnya pengalaman buruk di masa lalu, kepribadian dan penyakit medis. Intinya, apapun yang berkaitan dengan suatu masalah yang dihadapi seseorang berpotensi membuat ia mengalami depresi.

Dalam hal ini, setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda terhadap masalah yang dihadapinya. Ada yang dapat kuat dan tegar dan cepat move on, ada juga sebaliknya. Beratnya masalah dan latar belakang seseorang menjadi indikator dari seberapa bisa ia menghadapi masalah yang dideritanya. Akibatnya, dampak yang ditimbulkan dari depresi pada masing-masing orang juga beragam, mulai dari merokok, minum minuman memabukkan, berjudi, menyakiti diri sendiri bahkan yang paling parah adalah melakukan bunuh diri. Tentu ini tidak bisa dibiarkan. 

Apa yang mesti kita lakukan? Jangan pernah menghakimi orang yang terkena depresi! Itu karena keadaan setiap orang berbeda-beda. Yang perlu kita lakukan adalah membantu orang yang sedang depresi untuk mengurangi beban depresi yang dideritanya.

Namanya penyakit pasti ada obatnya. Pun dengan depresi. Faktanya, depresi sangat bisa dicegah dan sangat bisa untuk disembuhkan. Obat mujarabnya sederhana namun sangat bermakna: berbicara. Orang yang depresi pasti sedang dirundung kesedihan yang amat mendalam. Sejatinya, ia tidak butuh materi apapun kecuali dukungan moril. Nah, dukungan moril termurah dan termudah yang dapat dilakukan oleh orang-orang di sekitar orang yang terkena depresi adalah dengan mendengarkan apa keluhannya. 

Ayo bantu dan berikan dukungan kepada orang yang depresi! (dok. reachhaverhill.org.uk)
Inilah yang pernah dirasakan oleh Nur Yanayirah selaku pendiri MotherHope Indonesia. Sempat berencana bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke danau bersama anak perempuannya karena depresi akibat postpartum psychosis, dan tidak ada seorang pun yang mendengarkan, Yana kini bangkit dari masa lalunya. Lambat laun ia percaya bahwa hidup harus dijalani. Ditemani suaminya, ia pun mulai  'berbicara' pada komunitas. Di sana ia merasa bahwa ia tak sendiri. Ternyata masih banyak orang-orang yang "senasib" dan peduli dengannya. Akhirnya setelah berhasil memulihkan dirinya, ia pun membangun komunitas peduli trauma dan depresi pada ibu hamil dan memiliki anak. Komunitas itu diberi nama MotherHope Indonesia. Tujuannya hanya satu, membantu ibu-ibu lain yang memiliki pengalaman yang sama dengannya.

Nur Yanayirah, founder MotherHope (dok. majalahkartini.co.id)
Itu artinya, jika kita sedang sedih atau merasa sedang depresi, jangan tutup diri kita. Kesembuhan ada di tangan kita. Untuk itulah langkah paling awal yang bisa kita lakukan guna melawan kesedihan adalah berbicara. Ke siapa? Ke siapa saja yang kita percayai. Pastikan bahwa ia benar-benar dapat mengerti dan memahami perasaan dan apa yang kita alami. Bisa siapa saja. Bisa orang tua, kakak, adik, sahabat, guru atau bahkan tetangga. Keluarkan segala uneg-uneg yang ada di dalam diri kita sebanyak-banyaknya dan sepuas-puasnya. Dengan curhat atau berbicara, masalah memang belum pasti selesai. Namun minimal berbicara dapat membuat kita merasa tidak sendiri. Beban akan berkurang karena merasa ada orang yang peduli dengan kita.

Berbicara, langkah awal mengatasi depresi (dok. merdeka.com)
Tips lainnya adalah carilah bantuan profesional, seperti tenaga kesehatan, dokter atau bahkan psikiater. Psikiater? Ya! Ada yang salah dengan pola pikir sebagian besar masyarakat kita. Mayoritas warga beranggapan bahwa psikiater identik dengan sakit jiwa. Padahal nyatanya tidak demikian. Psikiater memang berhubungan dengan gejala atau masalah psikologis, tapi tak berarti siapapun yang datang berarti sakit jiwa.
Cara lainnya adalah dengan bergabung dengan komunitas yang bergerak dalam pemulihan trauma atau depresi. Dengan begitu kita akan merasa bahwa di luar sana ada banyak orang yang mengalami hal seperti yang kita rasakan atau bahkan lebih berat namun tetap bisa bertahan.

Hal-hal lainnya di luar berbicara adalah kita mesti mengalihkan masalah yang kita hadapi dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang kita senangi, meskipun telah kehilangan selera. Kita juga harus tetap waspada dengan segala pikiran negatif yang terus muncul dan kritik diri yang berlebihan. Jangan lupa berikan ucapan positif pada diri sendiri. Itu penting! Ingatlah alasan kenapa kita dilahirkan ke dunia ini. Setidaknya itu bisa memberikan kita semangat untuk lebih survive lagi dari berbagai badai yang menghadang.

Sekali lagi, depresi bisa dicegah dan disembuhkan. Tidak ada waktu yang pasti akan kesembuhan depresi karena tingkat keparahan depresi pada tiap individu berbeda-beda. Untuk melindungi diri agar tidak basah, kita perlu sedia payung sebelum hujan. Kalapun sudah turun hujan, kita juga perlu memakai payung agar basah yang ditimbulkan menjadi tidak parah. Depresi pun demikian. Kita perlu berbicara sebelum depresi. Kalaupun sudah, tetap harus berbicara agar beban yang kita alami menjadi berkurang. Agar orang-orang semakin sadar akan bahaya depresi, izinkan saya memodifikasi sebuah peribahasa: Sedia bicara sebelum depresi. Depresi? Yuk curhat!

Komentar

  1. Depresi bisa dihindari dengan berbagi perasaan kepada orang yg dipercaya. Tapi akan sulit utk orang introvert yang selalu tidak nyaman untuk berbagi perasaan dengan orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Saya sendiri introvert dan tidak mudah berbagi cerita ke orang. Namun introvert tidak berarti tidak punya orang yang bisa dipercaya. Pasti ada. Kita harus berdamai dengan diri sendiri untuk mempercayai orang lain. Kalaupun memang susah kita bisa gabung ke komunitas dimana ada orang lain yang telah lebih dulu merasakan apa yang kita rasa atau bisa mensiasatinya dengan "berbicara" lewat tulisan di blog.

      Hapus
  2. Betul banget...depresi sebaiknya tidak berlarut larut..Bagi kita yang introvert banget bisa dengan jalan konsultasi ke psikolog atau psikiater...Trims valka.. :) ayuk curhat dan berbagi karena setiap permasalahan pasti ada jalan keluar ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap. Depresi kalau bisa jgn berlarut-larut. Kalau depresi yuk curhat! :)

      Hapus

Posting Komentar