Muslim Uighur: Sebuah Ironi di Tanah Kashgar

Sejak pendudukan Tiongkok pada tahun 1949, Kashgar dan seluruh wilayah dalam provinsi Xinjiang resmi ada di bawah naungan otonomi Tiongkok. Daerah ini terletak di bagian paling Barat Tiongkok dengan letak yang strategis yakni berada di perbatasan Eropa dan Timur Tengah.

Di Kashgar tinggallah etnis Uighur yang bermayoritas beragama Islam. Sebagian besar dari mereka tinggal di dekat gurun pasir Taklamakan yang merupakan gurun pasir terbesar kedua di dunia. Taklamakan juga merupakan bagian dari jalur sutera.

Melihat tayangan Jazirah Islam di Trans7 edisi minoritas Muslim di Tiongkok tadi pagi membuat saya bersyukur betapa beruntungnya saya terlahir di Indonesia. Jika di Indonesia kita bisa sholat dan beribadah dengan leluasa, di Kashgar justru sebaliknya. Jeratan komunisme masih menjadi mimpi buruk bagi agama. Faktanya, gerak-gerik muslim Kashgar benar-benar dibatasi oleh pemerintah.

Betapa tidak, di setiap desa terdapat pengeras suara yang merupakan corong pemerintah untuk menyuarakan propaganda mereka tentang pembangunan yang sudah dilakukan pemerintah dan kiprah pemimpin mereka. Lewat pengeras itu juga terus diingatkan bahwa Kashgar ada di bawah kuasa pemerintah tiongkok. Belum lagi di sudut-sudut kota Kashgar, khususnya di depan tempat ibadah (baca: masjid) dipasangi CCTV dan dijaga oleh pihak keamanan. Meski masih mending karena masjid masih bisa digunakan ketika Jumatan tiba dan itupun tidak boleh adzan, namun tetap saja ini sebuah ironi. Pengawasan yang ketat dari mata-mata kepolisian ketika sholat seakan menyiratkan bahwa beribadah adalah suatu hal kejahatan sehingga patut dicurigai.

Jangan tanyakan soal agama. Selain agama tidak diajarkan di sekolah (termasuk pelarangan membangun sekolah Islam), agama hanya boleh diajarkan di rumah. Sampai-sampai dinding rumah warga didoktrin dengan mural atau lukisan dinding sebagai pengingat warga desa agar mengirim anak-anak mereka di sekolah pemerintah, dan bukan ke imam atau ahli agama. Pernah ada sekolah Islam berdiri di sana. Tetapi pemerintah membelinya lalu membiarkannya begitu saja. Akhirnya jadilah sekolah itu tak terurus.

Dalam bidang pendidikan, Bahasa Mandarin wajib diajarkan namun hanya sedikit sekolah yang menggunakan bahasa pengantar Uighur. Ketika bulan puasa seperti sekarang pun, murid-murid muslim dilarang berpuasa & rumah makan wajib buka saat Ramadan. Jika tidak, akan ada sanksi dari aparat.

Padahal, Kashgar merupakan daerah mayoritas Muslim di Tiongkok. Namun jangankan untuk berpuasa, sholat pun diawasi. Mengetahui ini saya sedih. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau saya hidup di sana. Akankah saya sanggup? Mungkin inilah kenapa di Indonesia ada partai yang melarang pemakaian perda syariah kecuali Aceh. Saya rasa bukan berarti mereka menganggap itu buruk dan benci Islam. Namun hal itu perlu dikaji lagi mengingat dasar negara kita pancasila & mungkin untuk menghargai kaum nonmuslim. Bukankah di Aceh juga masih perlu pengkajian?

Semoga muslim Uighur diberi kekuatan dan Allah senantiasa merahmatinya. Amin.

Komentar