Jilbab: Dipakai Dihujat, Dilepas Dihujat

Menghujat perempuan yang melepas jilbab sama tidak baiknya dengan menghujat seorang perempuan yang ingin konsisten dalam memakai jilbab.

Belakangan ini tersiar kabar tentang seorang istri tahanan KPK yang melepaskan jilbabnya demi mengejar karier. Alasannya karena mengikuti kata hati. Mungkin maksudnya baik, untuk mengingatkan, tapi sayangnya ada saja orang yang menghujatnya dengan komentar negatif.
"Dasar! Jilbab dijadiin topeng doang!"
"Ketauan deh gimana aslinya!"
" Ya beginilah kalo pendidikannya hanya SD kelas 2, cari duit dengan buka baju ujung2nya ditiduri pengusaha di hotel...." (komentar-komentar di sebuah web)

Di sisi lain, ada juga seorang politikus perempuan yang dahulunya penyanyi dan artis film yang suka pakai pakaian u-can-see telah memutuskan untuk berjilbab. Ia memilih keputusan itu karena ia beranggapan bahwa ia telah mendapatkan hidayah dari Allah. Harusnya sih didukung ya, tapi yang terjadi adalah tidak sedikit orang yang mencibir keputusannya untuk berjilbab dengan mengait-ngaitkannya dengan masa lalunya sebagai artis seksi. Dibilang pencitraan politik lah, munafik lah bahkan ada juga yang berkomentar dengan kata-kata yang berbau 'vulgar'. 


Jilbab oh jilbab. Dipakai saja masih ada yang menghujat, apalagi jika dilepas!

KETIKA JILBAB JADI PARAMETER

Berbanding terbalik dengan perempuan, lelaki lebih beruntung.
Pada lelaki, gak ada parameter tentang apakah seorang lelaki akan jadi lebih buruk atau lebih baik dari segi penampilannya.
Sekalipun saya keluar rumah cuma pake celana pendek di atas lutut (tanpa baju), gak bakal ada yang bilang, "Celana panjang cuma dijadiin topeng doang!"
atau, "udelnya keliatan, cowok gak baik!"
wkwkwk

Baju koko atau baju gamis? Itu bukan baju sehari-hari di Indonesia :D
Jadi juga gak bisa dijadikan takaran kalau cowok gak pake baju koko/gamis/peci adalah cowok gak baik.

Tapi kalau perempuan?
Ketika ada seorang perempuan yang pada mulanya berjilbab terus buka jilbab demi suatu hal, (pasti) ada saja orang yang menghujatnya dengan kata-kata negatif, malah ada yang kasar. Apalagi kalau dia makai pakaian "u-can-see". Wiiih tambah rame deh komentarnya. Begitu juga sebaliknya. Kalau ada perempuan yang tadinya pakai pakaian "u-can-see" dan seksi lalu memutuskan untuk berhijab, ada saja pula yang menghujatnya. Dibilang ini lah, dibilang itu lah, pokoknya negatif deh!

Gatau ya, tapi entah kenapa pada perempuan muslim, jilbab (masih) jadi takaran tentang jadi lebih baik atau lebih buruk tentang seorang muslimah. Jika perempuan yang tadinya berjilbab terus melepaskan jilbab demi suatu hal lain, maka biasanya ia akan mendapatkan cibiran-cibiran negatif. Padahal apa bedanya muslimah yang tadinya berjilbab dalam kesehariannya terus melepas jilbab dengan muslimah yang tidak berjilbab? Kan sama-sama gak berjilbab. Tapi biasanya orang yang gak berjilbab sama sekali dalam kesehariannya penilaiannya lebih netral ketimbang yang tadinya berjilbab terus memutuskan untuk berhenti berjilbab.
Begitu juga jika ada muslimah yang punya masa lalu kelam lalu memutuskan untuk berjilbab, ia juga tak luput dari penilaian "munafik".

Sayangnya, terkadang orang berekspektasi terlalu berlebihan kepada perempuan yang berjilbab. Hal ini mengesankan bahwa perempuan berjilbab harus selalu baik. Harus tidak boleh bersalah. Harus selalu benar. Harus selalu kelihatan agamis. Padahal kan perempuan berjilbab juga sama-sama manusia, jadi manusiawi kalau melakukan kesalahan.
Ketika ada muslimah yang memakai jilbab dalam kesehariannya, berikan apresiasi saja kepadanya. Keputusan yang bagus. Namun ketika suatu hari ia melepaskannya, oke, menyayangkan boleh, tapi tidak usah dihujat dengan komentar negatif apalagi kasar. Toh, setidaknya ia pernah berusaha untuk memakai jilbab dalam kesehariannya. Kalaupun ia gagal mempertahankannya, bukan karena ia munafik, tapi karena ia jugalah manusia. Pasti ada masa-masa dimana seorang manusia mengalami kegoyahan hati. Mungkin hatinya belum teguh untuk melakukannya. Atau apa di sini ada yang bisa jamin bahwa dirinya selalu terlepas dari pembolak-balikkan hati Sang Kuasa?

Begitu pula kalau ada muslimah yang mungkin punya masa lalu kurang baik lalu memutuskan untuk berjilbab, juga berikan apresiasi kepadanya. Meski belum tahu apakah ia akan konsisten ke depannya, dukung saja. Setidaknya ia telah berusaha dan belajar untuk lebih mengenal-Nya dengan berjilbab. Kalau gak didukung, gimana orang yang tadinya kurang baik bisa jadi lebih baik?

Melepas jilbab atau memutuskan untuk berjilbab mungkin masih menjadi isu yang sensitif di negeri ini. Tapi adakah yang lebih berhak tentang menilai siapa lebih baik dan siapa lebih buruk selain Dia?

Melepas atau memutuskan untuk berjilbab tentu akan menimbulkan resiko atau konsekuensi bagi pelakunya. Tapi sekali lagi, menghujat perempuan yang melepas jilbab sama tidak baiknya dengan menghujat seorang perempuan yang ingin konsisten dalam memakai jilbab.

Komentar