Antara Indonesia Open & "JUARA"

Akhirnya Final DIOSSP 2012 selesai sudah. Meski saya agak kecewa lantaran Tantowi/Lilyana kalah dari pasangan Thailand, saya merasa sangat bangga. Setidaknya Simon Santoso berhasil mengakhiri puasa gelar selama tiga tahun dengan menjadi juara di sektor tunggal putra. Seperti kita ketahui, terakhir kali Indonesia meraih gelar pada tahun 2008. Kala itu Vita Marissa/Lilyana Natsir dan Sony Dwi Kuncoro sukses menjadi “penyelamat” Indonesia.


Berbicara soal bulutangkis, saya jadi teringat dengan kata “perjuangan” dan arti dari kata “juara” yang sebenarnya. Dua kata itu saling berkaitan. Bagaimana tidak, untuk meraih gelar bergengsi di ajang super series premier tahunan ini, para pebulutangkis dari segala penjuru dunia harus pontang-panting jatuh-bangun berpeluh keringat hanya demi menabung poin demi poin supaya bisa bertengger di atas puncak.



Apakah di saat ada yang berhasil mencapai gelar langsung diraih pada saat babak FINAL? Tidak! Mereka harus memulainya dari babak pertama. Bahkan ada yang berawal dari babak kualifikasi. Kalau menang kualifikasi, berlanjut ke babak pertama, babak kedua,  babak per delapan final, per empat final, semifinal lalu barulah final. Kalah di satu fase saja misalnya di babak per delapan final, jangankan untuk mencicipi gelar juara, bahkan untuk menjadi runner up di final pun rasanya tidak.


Dan… nyatanya seperti itulah kita dan… seperti itulah kehidupan. Tidak bermaksud mengajari, tetapi memang begitu adanya. Hidup hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak pernah menyerah. Life is battle. Masalahnya tinggal siapa yang punya mental yang lebih kuatlah yang akan “bertahan” dalam status “juaranya”.


Indonesia Open sudah selesai artinya pertarungan juga selesai? Tidak. Masih ada batu terjal demi batu terjal yang harus dihadapi para atlet bulutangkis demi membuktikan mentalnya. Indonesia Open boleh selesai. Tetapi di depan sana masih ada Singapore Open SS, China Open SS bahkan hingga olimpiade London 2012. Analoginya dengan kita, ketika kita berhasil mencapai satu titik tertentu, jangan cepat puas. Di luar sana para kompetitor akan saling berkejar-kejaran demi meraih tempat terbaik. Seperti prinsip hidup yang saya tanamkan dalam diri saya.


“Sama Tuhan => Syukuri apa yang ada. Sama diri sendiri => Jangan puas sama apa yang ada.”


Hanya sekadar berbagi cerita, saya termasuk orang yang suka sekali mencoba dan berkompetisi (secara sehat). Acapkali saya mengikuti kompetisi saya selalu menuliskan pada buku saya. Kompetisi apa, kapan dan penyelenggaranya siapa. Di sebelahnya saya menuliskan sebuah tanda apakah saya berhasil memberikan bukti pada kompetisi tersebut atau justru tidak. Saya ingin maju! Saya ingin jadi juara!  Maka dari itu saya tidak pernah menganggap kepada diri saya sendiri bahwa… “Ah… saya kan masih pemula..”, “Ah… saya kan tidak bisa…”, “Takut kalah” Atau “Ah.. ah yang lain..”. Juara hanya soal “INGIN” atau “TIDAK INGIN” dan soal “KEMAMPUAN” yang huruf M kedua dan huruf P-nya dihilangkan. Justru di saat saya mencoba di saat itulah saya tahu seberapa jauh progress atau perkembangan diri saya. Kala uterus-terusan bilang pemula, tidak bisa, tidak pede, kapan mulainya? LOL..


Kembali ke soal mencoba. Ada puluhan lomba yang pernah saya ikut serta di dalamnya. Tapi apakah saya selalu menang? Kalau kata orang India, “NEHI!”


TIDAK! Saya justru lebih sering berlangganan “kalah” ketimbang menang. Kecewa? Iya! Tapi apa saya kapok? Tidak! Saya terus mencoba.. Pertama kali saya mencoba lomba saya kalah. Kedua kalinya alhamdulillah berhasil. Ketiga kalinya berhasil. Keempat kalinya kalah. Kelima kalinya kalah. Keenam kalinya kalah. Ketujuh kalinya kalah.. Dan seterusnya..  yang intinya lebih sering => Kalah!


Yah.. kalau semua orang kapok akan kegagalannya mustahil dong ya Maria Kristin meraih medali perunggu pada olimpiade Beijing 2008 padahal ia sempat dikalahkan oleh pebulutangkis China pada final Indonesia Open 2008? Enggak mungkin dong ya Harry Potter sukses karena J.K. Rowling kapok lantaran sudah ditolak oleh 14 penerbit? Artinya Maria Kristin, J.K. Rowling dan orang-orang sepertinya sudah menghilangkan huruf “MP” pada kata “KEMAMPUAN”, bukan sekadar “KEMAMPUAN” tanpa penghilangan huruf.


So, apakah kamu ingin menjadi “JUARA”?

Komentar