Rakornas Perpustakaan 2019 Dibuka, Saya Optimis!

Kamis, 14 Maret 2019 lalu menjadi momen paling penting bagi insan perpustakaan seluruh Indonesia. Kenapa? Soalnya hari itu adalah hari pembukaan dari Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bidang perpustakaan 2019 yang berlangsung dari 13 hingga 16 Maret 2019 di Hotel Bidakara Jakarta. Tercatat setidaknya ada sekitar 2000 peserta yang berasal dari para pemustaka dan pegiat literasi dari seluruh Indonesia. Uwow! 

Rakornas bidang perpustakaan 2019 diadakan sebagai bagian dari Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019. Dalam RKP tersebut telah ditetapkan tentang penguatan literasi untuk kesejahteraan sebagai salah satu kegiatan prioritas nasional. Nah saking prioritasnya, enggak tanggung-tanggung, rakornas juga masuk ke dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2020-2024 lho! Informasi lebih lengkap pendahuluan rakornas bisa dibaca di tulisan blog saya sebelumnya ya.
Mendagri Tjahjo Kumolo bersama para penerima dan/atau perwakilan penerima penghargaan tokoh atas kontribusinya dalam bidang literasi.
Sebagai salah satu netijen julid yang hobi membaca status facebook dan memiliki minat dalam dunia literasi, saya senang banget mendengar kabar ini. Itu artinya, pemerintah benar-benar serius dalam mengembangkan dunia literasi di Indonesia! Makanya begitu tahu bahwa rakornas diadakan dan bisa diikuti oleh pegiat literasi termasuk bloger, saya pun berpartisipasi. Saya tak ingin kehilangan kesempatan untuk menambah wawasan saya di bidang perpustakaan. Siapa tahu nanti bisa jadi duta baca Indonesia kayak mbak Najwa Shihab. Haha.

Mendagri Resmikan Rakornas Perpustakaan 2019

Pembukaan Rakornas bidang perpustakaan 2019 diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Dalam pidatonya, ia menjelaskan bahwa perpustakaan memiliki peran penting untuk mewujudkan SDM yang berkualitas, mandiri dan mampu berdaya saing di era global. "Salah satu peran penting tersebut ialah membangun ekosistem masyarakat berpengetahuan (knowledge based society)", tutur Mendagri Tjahjo Kumolo. 

Mendagri juga menyampaikan bahwa ia telah menginstruksikan kepada seluruh pemerintah daerah untuk segera membentuk Dinas Perpustakaan bagi pemda yang belum memilikinya. Selain itu ia juga menekankan kepada pemda untuk memperkuat struktur kelembagaan dan tata laksana perpustakaan dari unit terkecil seperti perpustakaan kecamatan dan desa/kelurahan; mendorong penyelenggaraan Perpustakaan Umum pada tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan berjalan dengan lancar bahkan hingga meningkatkan pembangunan perpustakaan di wilayah tertinggal, terdepan, terluar dan perbatasan (3TP).
Menteri Tjahjo Kumolo resmikan rakornas bidang perpustakaan 2019 (dok. Fitri Wulandari/Tribunnews.com)
Saya mengapresiasi isi sambutan Pak Menteri. Saya setuju dengan apa yang telah disampaikan karena pemerintah memang sudah seharusnya memperhatikan pembangunan perpustakaan di daerah. Nah gitu dong pak! Kalau pembangunan perpustakaan di kota kan sudah biasa. Kalau di daerah 3TP tentu patut menjadi perhatian

Seketika saya jadi teringat dengan momen-momen saat KKN di Desa Bojong, Tenjo, Bogor dan saat menjadi relawan pengajar di pelosok Banten yakni Desa Kutakarang, Cibitung, Pandeglang. Saya miris melihat ketersediaan taman baca dan perpustakaan di dua daerah tersebut. Dari segi lokasi, Banten dan Bogor itu sebenarnya dekat dengan ibukota Jakarta. Seharusnya keadaan infrastruktur literasi di sana bagus dong ya. Namun kenyataannya ternyata berbeda. Perpustakaan dan taman baca di sana minim sehingga mengakibatkan minimnya pula kesempatan masyarakat khususnya anak-anak dalam mengakses literasi. Hiks, sedih deh. :(
Suasana saat menjadi relawan di Banten Mengajar. Enggak perlu jauh-jauh ke Papua, bahkan akses literasi di sekolah-sekolah di pelosok Banten pun masih minim (dokpri)
Itu di Banten dan Bogor yang masih di Pulau Jawa dan dekat dengan ibukota loh, bagaimana dengan daerah-daerah pelosok lain yang jauh dengan ibukota? Wah, semoga akan tetap menjadi fokus pemerintah ya.

Selain menyampaikan sambutan, dalam rakornas Pak Mendagri didampingi oleh Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando juga memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh atas keterlibatannya di dunia literasi. Tokoh-tokoh tersebut adalah:
  1. Gubernur Jambi, Dr. Drs. H. Fachrori Umar, M.Hum., sebagai pemimpin daerah yang berkomitmen dalam pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial di wilayahnya.
  2. Walikota Surabaya, Dr.( H.C.) Ir. Tri Rismaharini, M.T., sebagai pemimpin daerah yang berkomitmen dalam inovasi layanan perpustakaan umum.
  3. Sri Sultan Hamengku Buwono X, diberikan penghargaan atas kepedulian dan komitmen beliau terhadap pelestarian naskah kuno di lingkungan keraton Yogyakarta.
Pada pembukaan rakornas juga ada sesi penyerahan secara simbolis bantuan perpustakaan kepada berbagai pemimpin daerah. Bantuan diserahkan antara lain kepada: 
  1. Dirjen Pemasyarakatan untuk bantuan Perpustakaan Lapas (Sri Puguh Budi Utami)
  2. Bupati Ngawi untuk bantuan Perpustakaan Pondok Pesantren (Ir. H. Budi Sulistyono)
  3. Bupati Pulau Pisang untuk bantuan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (H. Edy Pratowo, S.Sos., M.M.)
  4. Bupati Ketapang untuk bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Perpustakaan (Martin Rantan, S.H.)
  5. Bupati Sambas untuk bantuan untuk Perpustakaan Daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (H. Atbah Romin Suhaili, Lc) .

Ternyata Ada Pameran di Rakornas!

Oh ya, ada yang menarik loh di rakornas kemarin! Ternyata rakornas tidak hanya diadakan dalam bentuk seminar atau pleno saja. Namun ada pula pameran berbagai stand yang diisi oleh unit-unit yang berhubungan dengan dunia perpustakaan, mulai dari Perpustakaan Nasional, Pengembangan Tenaga Perpustakaan, perpustakaan-perpustakan daerah dan bahkan Sertifikasi Pustakawan bahkan hingga Pelestarian Bahan Perpustakaan dan Naskah Kuno! Pameran sendiri digelar di luar ruangan pleno.
Salah satu stand di rakornas bidang perpustakaan 2019 (dokpri)
 Melalui pameran ini, para pegiat literasi dapat mengenal dan memperkaya wawasannya lebih dalam tentang dunia perpustakaan. Asyiknya lagi, di beberapa stand bahkan tersedia buku yang dapat diambil secara gratis. Saya pun termasuk salah satu peserta yang memanfaatkan kesempatan itu. Enggak banyak sih jenis buku gratis yang ditawarkan. Tapi lumayan lah buat koleksi buku di rumah. Hoho.
Buku gratis yang tersedia di rakornas perpustakaan 2019. Asik! (dokpri)
Bagi yang suka swafoto, enggak perlu khawatir kok. Tersedia pula backdrop besar di salah satu sudut di lokasi acara. Tinggal berdiri di depan sana dan berikan gaya terbaik, maka kita pun sudah bisa mengabadikan momen di rakornas.

Foto bareng di rakornas perpustakaan 2019 (dok. Kiki Handriyani)
Secara keseluruhan, acara pembukaan rakornas bidang perpustakaan 2019 berjalan dengan lancar. Sesuai dengan temanya,  saya optimis bahwa masa depan dunia perpustakaan di Indonesia akan menuju ke arah yang lebih baik. Kelak perpustakaan berbasis inklusi sosial akan terwujud untuk meningkatkan kesejahteraan. Namun dengan catatan bahwa kita sebagai masyarakat juga turut menyebarkan virus membaca kepada orang lain yang dimulai dari diri sendiri.

Komentar

  1. Jadi inget waktu dulu jadi relawan di GBM. Jangankan perpustakaan, bangunan sekolah utamanya aja belum layak ya..hiks...semoga bisa menjadi perhatian pemerintah ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ka. Tapi alhamdulillah sekarang sudah lebih baik ya. Semoga sekolah-sekolah lain pun menyusul.

      Hapus

Posting Komentar