Rakornas Perpustakaan 2019 Siap Jawab Tantangan Masyarakat

Sebagai orang yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, saya merasa beruntung. Sebab saya merasa begitu mudah dalam menemukan tempat-tempat yang menyediakan akses informasi dan literasi, seperti toko buku, perpustakaan dan bahkan kegiatan tentang literasi seperti pameran buku. Tinggal datangi saja salah satu dari tempat tersebut, maka kita sudah bisa memperkaya kemampuan kita dalam bidang literasi.

Lagi mager? Tinggal beli saja buku lewat toko daring! Dengan biaya ongkos kirim yang terjangkau, kita sudah bisa memiliki buku yang kita inginkan. Cara lainnya adalah kita juga bisa meminjam buku melalui aplikasi perpustakaan digital seperti iPusnas atau mencari informasi melalui internet. Gampang deh pokoknya!
Mudahnya memperoleh akses literasi di kota besar. (dok. pribadi)
Itu sih yang saya rasakan selama tinggal di kota besar seperti Jakarta. Segala kemudahan dapat dengan mudah ditemukan di sini.  Namun seperti apa ya perbandingannya dengan daerah bukan kota besar khususnya daerah pelosok dan daerah perbatasan? Bagaimana pula perkembangannya?

Enggak perlu jauh-jauh bahas tentang toko buku atau akses internet yang tersedia, namun lihat saja seperti apa perpustakaan yang ada di sana. Perpustakaan menjadi patokan karena perpustakaan adalah sumber pengetahuan terkecil yang hadir di tengah-tengah masyarakat, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, institusi, taman baca atau bahkan berdiri sendiri di dalam komunitas masyarakat. Kira-kira sudah bagus belum ya?

Nah, demi menjawab tantangan tersebut itulah kenapa setiap tahunnya pemerintah melalui perpustakaan nasional mengadakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan Tahun ini rakornas bidang perpustakaan mengusung tema "Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat". Penjelasan mengenai rakornas perpustakaan disampaikan melalui konferensi pers pada 11 Maret 2019 di perpustakaan nasional.
Konferensi pers rakornasi bidang perpustakaan 2019. Ki-ka: Ofy Safiana (Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi), Joko Santoso (Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpustakaan RI), Sri Sumekar (Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional), Bachtiar (Kepala Pusat Penerangan Kemendagri) dan Woro Titi Haryanti (Deputi Pengembangan Sumber Daya Manusia Perpustakaan Nasional) (dokpri)
Melalui konpers tersebut saya jadi tahu berbagai hal tentang rakornas. Saya baru tahu bahwa rakornas bidang perpustakaan 2019 dilakukan sebagai bagian dari Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019. Jadi gaes, ternyata dalam RKP tersebut telah ditetapkan tentang penguatan literasi untuk kesejahteraan sebagai salah satu kegiatan prioritas nasional, bahkan masuk dalam tema RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2020-2024. Kegiatan ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya adalah Kementerian Dalam Negeri seperti yang disampaikan oleh Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri Bachtiar.

"Menteri Dalam Negeri termasuk jajarannya mendukung sepenuhnya gerakan literasi di tengah masyarakat termasuk di daerah dan di daerah perbatasan. Kemendagri juga akan terus mendukung apapun yang didukung oleh Perpusnas di Indonesia untuk menggerakkan Pemerintah Daerah dalam menggerakkan literasi," Jelas Bachtiar.
Sebagai bentuk tindak lanjut, makanya rakornas bidang perpustakaan yang difokuskan pada upaya perpustakaan nasional diadakan. Tak hanya untuk memantapkan program dan kegiatan Rencana Strategis (Renstra) perpustakaan nasional 2015-2019, namun juga sebagai perumusan rencana pembangunan di bidang perpustakaan pada 2020. 

Sebagai orang awam, mungkin kita akan berpikir bahwa perpustakaan itu hanya sekadar tempat baca dan meminjam buku. Eits, kalau dulu mungkin iya. Namun kalau sekarang anggapan itu salah besar karena sebenarnya perpustakaan juga bisa dijadikan sebagai tempat pemberdayaan masyarakat! Faktanya, literasi bukan hanya tentang baca buku aja cuy!

Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpusnas Joko Santoso bercerita bahwa di Jawa Timur ada perpustakaan yang melakukan pemberdayaan masyarakat dengan cara melakukan berbagai pelatihan, mulai dari pembuatan dessert bahkan hingga pelatihan pembuatan akun tokopedia. Sementara itu di salah satu perpustakaan di Sukabumi, Jawa Barat diadakan pengajaran Bahasa Prancis secara kerelawanan atas inisiatif masyarakatnya dalam menghadapi turis-turis dari Prancis. Mengetahui hal itu membuat ku merasa terkejoed! Mantap djiwa banget ini mah!

Besarnya potensi yang dimiliki oleh perpustakaan sebagai tempat literasi dan sarana dalam mewujudkan kesejahteraan membuat pemerintah enggak main-main dalam menyiapkan anggaran. Dalam konpers dijelaskan bahwa khusus tahun ini dana sebesar Rp750 miliar untuk penyelenggaraan rakornas. Tahukah kamu? Dari jumlah sebanyak itu, 60% di antaranya ternyata akan daerah. Dana yang tersedia nantinya akan digunakan untuk pembangunan fasilitas perpustakaan dan pengembangan literasi, baik di kota-kota besar seperti Jakarta ataupun daerah-daerah terpencil dan perbatasan. Wow!
Perpustakaan, pusat literasi masyarakat (dok. pribadi)
Selain itu pemerintah juga menyiapkan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang perpustakaan. Perpustakaan nasional menjadi penanggung jawabnya berdasarkan peraturan presiden nomor 72 tahun 2018.

Rakornas 2019 akan dilakukan pada 13-16 Maret 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta. Dengan dihadiri jumlah peserta sebanyak 2000 orang yang berasal dari kalangan pemustaka dan pegiat literasi seluruh Indonesia, rakornas 2019 turut diisi oleh berbagai narasumber. Beberapa pembicara di antaranya adalah Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Kepala Perpustakaan Nasional bahkan hingga Duta Baca Indonesia Najwa Shihab. Wah, keren banget ya?

PR Indonesia untuk dalam meningkatkan kemampuan literasi memang masih besar. Berdasarkan studi "Most Littered Nation in The World" yang dilaksanakan oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan ada di atas Botswana (61). 
Kendati demikian bukan berarti Indonesia tidak bisa memperbaiki diri. Dengan diadakannya rakornas bidang perpustakaan 2019 saya optimis bahwa pemerintah siap menjawab tantangan masyarakat dalam hal mewujudkan kesejahteraan melalui peningkatan literasi.

Komentar

  1. Kereen banget ya program belajar bahasa perancis di perpustakaan di Sukabumi. Semoga dengan adanya Rakornas 2019 ini bisa memberikan kemajuan literasi masyarakat Indonesia ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul ka keren banget. Kita doakan sama-sama ya ka.

      Hapus

Posting Komentar