Hari Kesiapsiagaan Bencana, Sudahkah Kita Siaga?

Siapa sih yang ingin kena bencana?

Wah, pasti enggak ada yang mau dong? Iya lah, namanya juga bencana. Kalau duit sih beda lagi ceritanya. Hehe.

Tidak ada orang yang menginginkan bencana, apapun latar belakangnya. Amit-amit cabang baby. Namun mempersiapkan diri saat menghadapi bencana adalah hal penting. Setidaknya jika kita tidak dapat menghindari bencana, kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk meminimalisir dampak buruknya. Apalagi kita tahu sendiri kan kalau Indonesia adalah negeri yang rawan bencana. Gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor atau bahkan tsunami bukanlah barang asing di negara kita.

Dengan keadaan seperti itu seharusnya sudah membuat masyarakat Indonesia melek akan penanggulangan bencana. Tapi sayangnya, kesadaran kita dalam pencegahan dan penanggulangan bencana masih menjadi rendah. Jauh banget deh kalau dibandingkan dengan Jepang!

Misalnya saja untuk kasus gempa bumi. Sejak kecil, orang Jepang sudah diajarkan tentang apa harus mereka lakukan saat terjadi gempa bumi karena diajarkan di sekolah. Tapi untuk orang Indonesia, saya rasa masih menjadi PR besar. Boro-boro anak kecil, orang dewasa pun masih banyak yang belum tahu!
Ilustrasi pendidikan kesiapsiagaan bencana di Jepang (dok. inovasee.com)
Faktanya, menurut survey yang dilakukan di Jepang terhadap kejadian gempa Great Hansin Awaji (1995), presentase korban selamat dari bencana paling besar dalam durasi golden time itu justru ditentukan dari diri sendiri. Bukan dari pacar, mantan pacar apalagi selingkuhan lho!

Kesiapsiagaan diri sendiri menyumbang presentase sebesar 35%. Kemudian dilanjutkan dengan dukungan anggota keluarga (31,9%), teman atau tetangga (28,1%), orang lewat (2,60%), tim penolong (1,7%) dan lain-lain (0,9%). Itu artinya, kalau mau selamat dari bencana, jangan mengandalkan orang lain terlebih dahulu karena kuncinya terletak pada kesiapsiagaan diri sendiri.Makin sedih karena berdasarkan survey, 86% dari seluruh penduduk Indonesia tidak latihan bencana dalam 5 tahun terakhir. Hiks :( 

Nah, guna menyiapkan masyarakat Indonesia yang siaga akan bencana, itulah kenapa Badan Nasional Penanggulangan Bencana alias BNPB menetapkan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) setiap 26 April. Mengusung tema "Siap untuk Selamat", acara tahun ini diadakan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia pada Kamis, 26 April 2018. Wuiih!
Poster Hari Kesiapsiagaan Bencana 2018 (dok. BNPB)
Ada alasan kenapa Hari Kesiapsiagaan Bencana jatuh pada tanggal 26 April. Tanggal 26 April sengaja dipilih karena tanggal tersebut bertepatan dengan momen ditetapkannya UU No. 23/2007 tentang Penanggulangan Bencana sekaligus juga karena bertepatan dengan peringatan 11 tahun pengesahan UU tersebut. Oh ya, jangan kira kalau HKB itu udah dilakukan sejak lama ya. HKB justru baru pertama kali diadakan pada tahun 2018 setelah pelaksanaan inisiasi HKB pada tahun lalu.

Melihat Keseruan Simulasi Bencana di BNPB

Setiap daerah memiliki caranya masing-masing dalam merayakan HKB 2018. Nah, khusus di Jakarta, HKB dirayakan melalui simulasi bencana, khususnya gempa bumi dan kebakaran. Tak ketinggalan, saya bersama teman-teman dari Blomil (Blogger Mungil) pun turut menjadi bagian dari kegiatan ini. Saya penasaran seperti apa sih penanganan kebakaran di gedung yang baik dan benar.

Simulasi bencana sendiri diadakan sekitar  pukul 10.00 WIB di Gedung BNPB Jakarta setelah sebelumnya dilaksanakan apel pagi. Selain para blogger, simulasi tersebut juga dihadiri oleh media. Harapannya, tentu agar semakin banyak orang yang tahu tentang apa yang seharusnya kita lakukan jika terjadi bencana.
Gedung BNPB, lokasi pelaksanaan HKB 2018 di Jakarta (dokpri)
Simulasi bencana diadakan di beberapa lantai. Setiap blogger dan media yang hadir berpencar untuk menemukan sudut pandang berbeda. Nah, saya sendiri kebagian di lantai 5 bersama beberapa blogger lainnya.

Di sana telah ada beberapa orang yang berperan dalam simulasi bencana. Ada seorang wanita yang berperan sebagai korban namun masih dalam keadaan sadar, ada seorang wanita yang berperan sebagai korban namun mengalami patah tulang belakang sehingga harus ditandu bahkan ada pula yang berperan sebagai korban gempa bumi. Berita tentang kebakaran atau gempa bumi sih sudah sering saya dengar. Namun untuk melihat simulasinya serta cara penanggulangannya baru pertama kali. Tentu itu menjadi pengalaman berkesan bagi saya sendiri.
Seorang korban berperan sebagai korban kebakaran yang patah tulang belakang sehingga harus dievakuasi dengan cara ditandu (dokpri)
Persiapan sebelum melakukan repling (dokpri)
Simulasi dimulai dengan ditandai alarm yang berbunyi. Itu menandakan bahwa gempa bumi telah terjadi dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kita harus melakukan tindakan antisipasi. Saat simulasi gempa bumi terjadi, seorang petugas memberitahukan kepada para karyawan BNPB secara berulang kali untuk melindungi kepala dan berlindung di bawah meja. Semuanya mengikuti instruksi.

Di saat gempa menjadi lebih reda, barulah para karyawan keluar dari bawah meja masing-masing untuk kemudian turun ke bawah melalui tangga darurat. Mereka mengantre dengan tertib namun dengan tetap melindungi kepala dengan tangan atau benda yang mereka pegang, misalnya buku atau map.

Kok enggak naik lift? Iya, soalnya saat gempa lift tidak bisa digunakan dan kalaupun bisa sangat berbahaya. Lagipula lift tidak bisa menampung banyak orang. Maka dari itu menuruni tangga darurat adalah satu-satunya cara yang mereka lakukan.

Bersama para pegawai BNPB, saya pun turut berpartisipasi dengan ikut menuruni anak tangga darurat dari lantai 5 hingga lantai dasar. Ternyata tidak hanya pegawai BNPB dari lantai 5 saja yang turun untuk menyelamatkan diri melainkan dari semua lantai. Membayangkan jika itu benar-benar terjadi membuat saya tegang. Jangan sampe deh ya.
Para pegawai BNPB menuruni tangga darurat sembari melindungi kepala dengan kedua tangan (dokpri)
Alhamdulillah, setelah menuruni ratusan anak tangga, akhirnya tiba juga di luar gedung. Di sini orang-orang tidak bisa asal kumpul saja, melainkan harus berkumpul di titik tertentu dengan jarak menjauhi gedung. Pokoknya jangan dekat-dekat deh karena berbahaya.

Usai simulasi gempa bumi, saatnya simulasi kebakaran yang diadakan. Untuk menciptakan suasana agar seperti kebakaran, BNPB menyalakan benda yang mengeluarkan gas berwarna oranye di lantai 5. Tak lama setelah gas menyembur keluar, datanglah mobil ambulan dan mobil pemadam kebakaran. Untuk memadamkan kebakaran, petugas pemadam kebakaran lalu menyemburkan air (beneran) ke sisi gedung yang terbakar.
Simulasi kebakaran di Gedung BNPB. Asap menyembur dari lantai 5 (dokpri)
Suasana pemadam kebakaran saat berusaha memadamkan api (dokpri)
Kegiatan itu kemudian dilanjutkan dengan simulasi penanganan korban kebakaran yang berada di dalam gedung. Beberapa cara dilakukan untuk menyelamatkan korban. Mulai dari korban turun sendiri (repling: korban dililitkan tali pengaman kemudian turun sendiri dari atas gedung), digendong oleh petugas keselamatan bahkan hingga korban berada di atas tandu dan diturunkan dari atas. Untuk memudahkan proses evakuasi, korban turun dengan menggunakan tali flying fox dan alat pengamanan.
Upaya penyelamatan dengan teknik repling (dokpri)
Upaya penyelamatan korban dengan ditandu kemudian diturunkan melalui flying fox (dokpri)

Bencana Terjadi? Saatnya Melakukan hal-hal ini!

Untuk memudahkan kita dalam membiasakan untuk siaga bencana, ada beberapa tips dan tindakan yang mesti kita lakukan. Apa sajakah itu? Yuk simak poin-poin di bawah ini!

1. Jangan panik
Saat bencana terjadi (amit-amit), usahakan jangan panik. Tenangkan pikiran karena pikiran yang panik bisa mengacaukan kesiapsiagaan kita. Ini adalah kunci yang paling penting dan utama.

2. Berlindung di bawah meja (khusus gempa bumi)
Ini tips yang sudah sering diinformasikan namun sayang suka dilupakan. Saat gempa terjadi (khususnya saat kita berada di dalam gedung tinggi), berlindunglah di bawah meja yang ada di dekat kita. Tindakan ini dapat mencegah kita tertimpa dari benda-benda yang mungkin saja terjatuh dari atas.
Berlindung di bawah meja, salah satu cara untuk melindungi diri dari gempa bumi (dok. klikdokter.com)
3. Lindungi kepala (khusus gempa bumi)
Kepala adalah organ yang vital. Oleh karena itu penting bagi kita untuk melindungi kepala. Jika ada benda di sekeliling kita dan kita jauh dari meja, misalnya buku, kita bisa menggunakannya sebagai pelindung. Namun jika tidak ada maka lindungilah dengan kedua tangan kita.
 
4. Turun lewat tangga darurat dengan tertib (khusus gempa bumi dan kebakaran pada gedung)
Saat suasana sudah lebih reda ketimbang sebelumnya, turunlah lewat tangga darurat dengan tertib. Jangan asal serobot karena siapapun pasti ingin selamat. Pastikan juga untuk tetap lindungi mantan kepala dengan kedua tangan atau benda tertentu (misalnya buku).

5. Jauhilah gedung atau bangunan tinggi (khusus gempa bumi)
Saat kita berada di luar, jauhilah doi bangunan atau gedung tinggi. Sebisa mungkin pergilah ke ruang terbuka untuk memperbesar tingkat keselamatan kita. Soalnya  kita tidak tahu apakah gempa yang terjadi berpotensi untuk meruntuhkan gedung atau tidak.

6. Update informasi dan jangan mudah percaya hoax
Hal yang paling menyebalkan saat memasuki era digital adalah mudah berkembangnya berita-berita palsu alias hoax. Parahnya, hoax tentang terjadinya bencana alam dari orang-orang tidak bertanggung jawab sering terjadi!

Nah, jika kita mendapatkan berita tentang prediksi atau terjadinya bencana alam, jangan langsung panik. Jangan percaya terlebih dahulu. Pastikan kebenaran sumbernya dengan cara googling atau cari di berita karena bisa saja itu hoax. Salah satu hoax yang pernah terjadi adalah adanya sebaran broadcast tentang gempa di Jakarta beberapa waktu lalu tak lama setelah terjadinya gempa di Banten. Ckckck.. Bikin KZL!

Selain itu, kita juga bisa memperbaharui informasi dari aplikasi handphone. Sekarang banyak loh aplikasi-aplikasi yang dapat membantu kesiapsiagaan bencana. Donlot aja! Beberapa di antaranya adalah ada aplikasi MAGMA Indonesia, Info BMKG, Pantauan Bencana Indonesia, Open Camera, Life360, BNPBTV, inaRISK dan PMI First Aid. Dengan melakukan update informasi, percayalah bahwa kita sudah selangkah lebih maju dalam hal kesiapsiagaan bencana.
Aplikasi handphone pemantau bencana (dok. BNPB)
  

Siap Siaga Bencana?

Menjadi bagian dari kegiatan HKB 2018 membuat saya merasa senang. Saya mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru tentang apa yang semestinya saya lakukan jika terjadi bencana. Saya juga senang karena HKB 2018 berlangsung dengan sukses.

Tahu enggak sih? BNPB berhasil melampaui target partisipasi masyarakat yang terlibat lho! Dari target 25 juta, BNPB berhasil mencapai 30 juta untuk jumlah partisipasi masyarakat yang terlibat. Hal itu sesuai dengan yang dikatakan oleh Pak Willem Rampangilei selaku Kepala BNPB dalam konferensi pers usai simulasi. "Tahun lalu partisipasi masyarakat yang terlibat sebanyak 10 juta. Tahun sekarang mencapai 30 juta dengan target 25 juta partisipasi." Tutur Pak Willem. Keberhasilan ini tak terlepas dari kolaborasi dengan berbagai institusi, seperti Kemendikbud, Kemenkoinfo dan bahkan berbagai organisasi. Yeay!
Pak Willem Rampangilei, Kepala BNPB saat memberikan konferensi pers pasca simulasi (difoto oleh Sam Azhar)
Membudayakan siaga bencana bagi masyarakat Indonesia bukanlah hal mudah. Tentu butuh waktu panjang karena sekarang siaga bencana masih sebatas menjadi pengetahuan dan belum menjadi budaya.

Kendati demikian, saya percaya dan optimis bahwa suatu hari nanti Indonesia dapat menjadi bangsa yang memiliki budaya siaga bencana. Yang terpenting kita harus membiasakannya dari sekarang karena pada akhirnya, diri sendiri-lah penentu terbesar dari keberhasilan penanggulangan bencana. Jadi, sudahkah kita siaga?
Foto bersama usai HKB 2018 (dok. Kiki Handriyani)

Komentar

  1. Wah....informasinya bagus banget..Saya jadi ingat beberapa saat lalu ketika terjadi gempa di Jakarta, Saya melakukan evaluasi diri dengan menuruni tangga dari lantai 9 dan tidak ada yang boleh menggunakan lift. Berkumpul di titik kumpul yang aman. Pernah juga waktu itu simulasi kebakaran di lantai 3, kuncinya tetap tenang jangan panik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh bukannya kalinda selfie sukaesih dulu kl ada bencana? Wkwkw iya ka intinya jangan panik soalnya kalau panik konsentrasi jadi buyar. Aku juga jadi ingat waktu gempa bumi beberapa waktu lalu dan lagi ada di kampus. Langsung deh turun dan menjauh dari gedung. Semoga kita semua selamat dan terhindar dari bencana ya ka.

      Hapus
  2. Memang teorinya ketika terjadi gempa kita berlindung di bawah meja ya..tapi yg ada malah panik berebutan turun. Yg perlu jadi catatan juga soal anggaran bagi penanggulangan bencana yg dianggap masih belum memadai. Terutama sistem real time peringatan dini yg sebagian besar masih dari hibah dan bantuan negara2 lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya udah keburu panik mas jadinya turun dulu deh ketimbang ngumpet di bawah meja

      Hapus
  3. Sigap dalam bencana perlu banget dilakukan. Dan juga adanya simulasi penting nih, biar pada tahu apa-apa aja yang harus dilakukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak. Simulasi membantu banget dalam memahami tindakan apa yang perlu kita lakukan. Soalnya kalau teori doang bakalan lupa wkwk

      Hapus
  4. Saya jadi gagal fokus. Baru tahu ada blomil alias bloger mungil. Ini komunitas baru saya dengar. Apakah blogernya mungil2 kok bisa disebut blomil gimana ceritanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ada kok komunitas Blomil. Bloggernya bervariasi kok mbak dari berbagai latar belakang. Hanya saja founder dan beberapa bloggernya ada yang 'mungil'.

      Hapus
  5. Harusnya memang jangan panik ya kalau ada bencana tapi yang udah-udah saat denger bencana kita semua jadi panik hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak kuncinya mudah sebenarnya: tenang. Teorinya mungkin kita ingat eh pas prakteknya malah suka lupa wkwk

      Hapus
  6. Belajar antipasi darurat bencana penting juga ya biar gak cepet panik,, tapi mudah2an jauh lah,, dari segala bencana ,, haturnuhun infna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Semoga kita selalu dilindungi ya mbak dari bencana :)

      Hapus
  7. Ini memang penting banget, karena beberapa wilayah di Indonesia rawan bencana dan kita harus mesti belajar banyak dari Jepang dalam meminimalisir korban seperti gempa. mereka cepet banget bangkit dari musibah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jangan mau ketinggalan sama Jepang soalnya Jepang sendiri juga negeri rawan bencana. Semoga makin banyak orang Indonesia yang sadar ya mas untuk membudayakan sadar bencana sedini mungkin.

      Hapus
  8. Panik nih yg kadang masih susah dihindari. Apalagi klo yg panik pacar. Gak bakal kita ditolong dia. Yg ada ngacir. Haha

    BalasHapus
  9. Bagus nih mas pelatihannya. Mungkin selain di kantor bisa jg diberikan ke sekolah2 kali ya. Soalnya Indonesia jg rawan bencana. Tapi kebanyakan masyarakat suka panik gtu. Makananya pelatihan2 kyk gini penting, bila perlu sekalian pelatihannya ke tingkat2 masyarakat di kelurahan2 jg biar masyarakat lbh paham apa yg kudu dilakukan saat ada bencana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget mbak. Aku juga berharap pelatihan kayak gini diterapin juga di sekolah2 biar budaya sadar bencana sudah tertanam sejak kecil, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan bencana.

      Hapus
  10. Anakku pernah nih ikut simulasi seperti ini, pas ada gempa dia sibuk masuk kolong, emaknya sibuk keluar rumah hahaha..jadi cari-carian deh. Emang seharusnya dari kecil ya sudah di edukasi, jadi sampai besar punya pemahaman yang sama soal sigap bencana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, anaknya mempraktekkan banget ya berarti. Keren! Betul mbak, apalagi Indonesia negeri rawan bencana.

      Hapus
  11. Penting menjaga dan menyiapkan keluarga agar sadar bencana dari dini. Karena hanya latihan teratur yang membentuk disiplin ketika bencana melanda (semoga tidak pernah terjadi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, semoga bencana tidak terjadi ya dan kita selalu dilindungi. Bagaimanapun, antisipasi itu perlu ya. :D

      Hapus
  12. Mudah - mudahan kita semua terhindar dari segala macam bencana, aamiin

    BalasHapus
  13. aku sering banget dapet tips ini kak, tapi kok yo kalo ada bencana misalnya gempa beberapa waktu lalu, blas nggak inget tips ini karena panik. huhu.

    mudah mudahan kita semua terhindar dari bencana ya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha udah keburu panik ya kak jd lupa deh sama apa yg hrs dilakuin. Amin bgt mbak

      Hapus

  14. Acara yang sangat bagus, memberi edukasi kepada masyarakat supaya bisa siap siaga ketika bencana datang, dsn benar bangat, jangan sampai panik karena bisa bikin semuanya jadi makin kacau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga acara seperti ini terus diadakan ya mas biar semakin banyak orang Indonesia yang sadar dan sigap akan bencana.

      Hapus
  15. Acaranya menarik ya, semoga Indonesia bisa makin sigap akan bencana alam kedepannya dan nggak gampang kemakan hoax 😫

    Harus sering diadakan acara seperti ini untuk mengedukasi masyarakat ya, biar ga gampang panikan karena tahu apa yang harus dilakukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget fi. Pelatihan kayak gini juga harus diajarkan secara menyeluruh. Ke sekolah-sekolah juga biar dari kecil anak-anak sudah tahu apa yang seharusnya mereka lakukan ketika terjadi bencana.

      Hapus
  16. Acaranya bagus banget mbak. Terima kasih ulasannya, meskipun saya gak ikut pada acara tsb namun setidaknya saya dapat ilmunya. Kesiagaan memang harus ditanamkan sedini mungkin agar saat terjadi bencana sudah siaga pada diri sendiri dan orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku cowok mbak bukan cewek hehe. Betul banget kuncinya dari diri sendiri dulu :)

      Hapus
  17. Terima ksih infonya,lengkap sekali..jangan panik itu kuncinya ya, dan download aplikasi itu sangat bs membantu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Dengan donlot aplikasi kita bakal tahu perkembangan bencana terkini :)

      Hapus

Posting Komentar