Saatnya Tolak Ajakan Bukber!

Adakah yang punya prinsip untuk menolak ajakan bukber karena alasan keuangan meskipun dari segi waktu dan lokasi memungkinkan?

Bukber sih sebenarnya ajang menjalin dan mempererat silaturahmi. Tapi tetep aja namanya makan-makan pasti butuh pengeluaran, yang tidak hanya uang buat beli makannya tapi juga ongkos juga dan mungkin ada pengeluaran lain. Kalau dihitung-hitung, untuk sekali bukber kita bisa mengeluarkan uang minimal Rp 30.000 hingga Rp 50.000.

Nah, masalahnya yang mengajak bukber tidak hanya berasal dari satu pihak atau satu orang semata. Sering ajakan bukber itu datang dari teman SD, SMP, SMA, organisasi, teman kampus, teman tapi mesra (loh) dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung bisa 5 atau bahkan lebih.

Buat yang udah berpenghasilan cukup sih mungkin tidak masalah mau ikutan semua bukber. Masalahnya mungkin terletak di waktu, apakah berbenturan dengan agenda lain atau tidak? Tapi buat yang belum misalnya seperti mahasiswa? Kalau bukbernya disponsorin sih udah beda cerita. Itu mah ambil saja.

Bukan soal hitung-hitungan atau tidak mau mengeluarkan uang. Namun menurut saya kita tidak masalah untuk menolak ajakan buka puasa bersama, meskipun dari segi waktu dan lokasi amat memungkinkan. Bukan karena tidak mau silaturahmi loh, tapi semata agar tak terlalu boros di bulan Ramadan. Jadi kalau ada banyak ajakan bukber dan dari segi lokasi dan waktu sebenarnya kita bisa semua, jangan ambil semua. Pilih aja beberapa ajakan bukber, sisanya tolak dengan cara yang halus. 

Saya sendiri ada lumayan sih ajakan bukber dan sebenarnya dari segi waktu dan lokasi bisa-bisa aja. Tapi saya punya prinsip untuk hanya memilih menerima atau ikut beberapa bukber (di luar masalah waktu dan lokasi dan di luar bukber yang disponsorin. Bukan karena tidak mau silaturahmi, tapi semata agar tidak terlalu boros.

Bagaimana cara memilih undangan bukber yang sebaiknya kita ikuti dan tidak? Mudah saja. Berikut adalah tipsnya.

1. Buat daftar ajakan bukber atau kemungkinan ajakan bukber datang dari mana saja. 
Kenali siapa saja jaringan atau link yang ada di sekitar kita. Dengan begitu, kita bisa memprediksikan dari siapa saja kita akan diajak untuk ikut bukber.

2. Buat prioritas.
Setelah mengenal dan mengetahui darimana saja ajakan bukber, langkah berikutnya adalab membuat prioritas. Dengan begitu kita akan tahu mana ajakan bukber yang sebaiknya diutamakan dan mana yang tidak.

Prioritaskan untuk ikut bukber dengan teman-teman yang punya kedekatan tapi sudah lama sekali kita tidak kumpul atau bertemu dengan mereka. Prioritaskan dengan mereka yang diprediksikan akan susah kumpul ke depannya . Atau bisa juga prioritaskan dengan mereka yang belum pernah bukber sama sekali. Terserah seperti apa, intinya buat prioritas. Sebaliknya, misalnya buat teman-teman yang sering bertemu dan sering bukber di tahun-tahun sebelumnya, bukan prioritas. Oleh karena itu tidak masalah jika kita tidak ikut kegiatan bukbernya. 

3. Tolak ajakan bukber dengan baik
Nah, terakhir tolak ajakan bukber yang bukan prioritas dengan baik meskipun dari segi waktu dan lokasi memungkinkan. Sekali lagi, bukan karena tidak mau bersilaturahmi, tetapi semata agar tidak terlalu boros saat bulan puasa. Tentu saat menolak ajakan bukber kita tidak usah bilang terus-terusan kalau ajakan bukber itu bukan prioritas. Cukup katakan bahwa kita berhalangan, sudah menjadi cara terbaik dalam menolak ajakan bukber.

Intinya, mau bukber atau tidak, bulan puasa jangan sampai membuat kita jadi pribadi yang terlalu boros. Sudah berapa banyak ajakan bukber yang datang menghampiri? Saatnya tolak ajakan bukber!

Komentar