Bojong dalam Oleh-oleh Rindu


Hari ini ada perasaan yang sulit diutarakan dengan kata-kata.

Puas, senang, kangen dan haru bercampur jadi satu.

Desa Bojong, Tenjo, Kabupaten Bogor bukanlah daerah kelahiran saya dan tempat saya dibesarkan.
Namun pengalaman KKN selama sebulan pada Agustus 2015 bersama teman-teman "Filantropi" di sana membuat saya yang ke sana lagi untuk pertama kalinya setelah KKN merasa Desa Bojong serasa kampung halaman saya. Rasanya seperti rumah sendiri!
KKN adalah program pengabdian mahasiswa untuk masyarakat. Selama KKN, mahasiswa harus melakukan berbagai program guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Di antara 30 program kami, satu di antaranya adalah sidang itsbat menikah dan pengadaan buku menikah. Dalam program ini, kami memfasilitasi 30 pasang suami-istri yang belum memiliki buku nikah agar pernikahan mereka tercatat di institusi negara. Kepemilikan buku nikah amat penting karena dengan buku nikah, warga bisa mengurus dokumen-dokumen penting seperti akte kelahiran, pergi haji, kartu keluarga, dan sebagainya. Buku nikah juga berguna demi mengantisipasi hal-hal tak diinginkan di kemudian hari (misalnya perceraian).

Sebenarnya KKN kami telah selesai pada 31 Agustus lalu. Namun lantaran proses sidang itsbat menikah hingga tercetaknya buku nikah membutuhkan waktu yang tidak sebentar, maka kami harus mengurusnya lagi pada hari ini (18/09/15) dengan agenda berupa sidang itsbat menikah oleh pihak Pengadilan Cibinong. Alhasil, kami pun ke sana pada kemarin (17/09/15) dan menginap selama semalam di balai desa agar kegiatan kami dapat berjalan dengan persiapan yang matang. Itsbat menikah sendiri dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB di Balai Desa Bojong.

Yang membuat saya (dan kami) senang adalah, ternyata respon warga tentang KKN yang kami lakukan begitu positif. Mereka begitu baik dan ramah dalam menyambut kedatangan kami. Malah sejumlah warga bilang yang intinya, "Balai desa rehe setelah kalian pulang KKN. Terima kasih telah memberikan "hiburan" buat kami." (rehe dalam bahasa Indonesia berarti sepi). Mereka juga bilang yang intinya enak ada kita (baca; kelompok KKN) karena anak-anak yang biasanya bermain dapat belajar dengan positif. Byar! Di situlah titik perasaan bahagia yang tak bisa saya definisikan.

Titik perasaan bahagia itu juga muncul dari anak-anak yang pernah belajar bersama kita. Saya pribadi sih tidak "ngarep" anak-anak kecil yang pernah ikut belajar di balai desa menyapa/teriak atau bahkan salim sama kami. Namun saya begitu tersentuh dengan cara mereka mengungkapkan ekspresi kegembiraan begitu kami tiba. Begitu saya dan teman hendak membeli air mineral di sebuah warung pada pagi hari (tadi), beberapa anak SD yang sedang berangkat ke sekolah memanggil saya dan teman saya, menghampiri lalu salim kepada kami. Ah... rasanya... ya gitu deh... susah didefinisikan! Bukan senang karena mereka salim, tapi senang karena cara mereka "menjalin" persahabatan dengan kita. Rasa yang tidak akan bisa dibayarkan dengan apapun! Aih, rasanya jadi makin termotivasi saja ikut Indonesia Mengajar dan program sejenisnya!

Itsbat menikah juga turut menyumbang rasa haru dalam diri saya. Meski buku nikahnya belum jadi karena memakan proses sekitar 1-2 bulan setelah penerbitan surat pengesahan, saya merasa terenyuh bercampur bahagia begitu melihat satu per satu pasangan suami istri disahkan oleh hakim dengan mengetuk palu bahwa pernikahannya sah, pertanda mereka akan memiliki buku menikah. Saya membayangkan bagaimana jadinya kalau itu terjadi pada orang tua saya dan orang tua manapun pasti ingin terbaik untuk anak-anaknya. Buku nikah adalah salah satu kuncinya. Proses itsbat nikah jujur adalah salah satu sesi yang membuat mata saya berkaca-kaca dan mengaduk emosi saya, terlebih saya orang yang melakukan dokumentasi satu per satu pasangan yang disidangitsbatkan.

Sebenarnya saya pribadi ingin berlama-lama di sana bersama warga dan teman-teman kelompok Filantropi. Namun apa daya, waktu belum masih terlalu egois untuk memberikan kami izin. Keinginan saya untuk bertemu dan bermain dengan anak-anak SDN Bojong 03, khususnya bagi mereka yang biasanya belajar angklung bersama saya di siang hari pun juga tidak bisa terealisasi dikarenakan mereka harus mengikuti kegiatan pramuka selepas jam 1. Agak nyesel sih, tapi ya keadaannya memang seperti ini. Pada pukul 15.00 WIB kami telah harus menuju Stasiun Tenjo dan bergegas pulang karena "angkot preman" (karena angkutan umum di sana tidak resmi) biasanya tidak beroperasi seusai Maghrib di samping untuk mengejar jadwal kereta.

Setiap pengalaman yang pernah saya alami, saya selalu percaya dengan kata-kata yang suka saya ucapkan pada diri saya sendiri, "Apapun pengalaman yang dihadapi, suatu hari saya akan merindukan masa-masa seperti itu. Suatu hari nanti... Suatu hari nanti..." Dan itu biasanya terbukti.

Mau program sidang itsbat sudah selesai atau tidak, tenanglah, suatu hari nanti kami akan berkunjung kembali. 

***

Ditulis di sebuah warnet di Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dengan penuh rasa yang tak bisa diutarakan.

Komentar