Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021: Saatnya Semua Orang Setara dalam Kesehatan Jiwa

hari-kesehatan-jiwa-sedunia
Poster Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021 (dok. Kemenkes RI)
Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental. Begitulah kata David Satcher. 

Itu artinya, kita belum dikatakan 'sehat' dalam arti sebenarnya jika hanya sehat secara fisik. Selama kita melibatkan perasaan serta emosi dalam menjalani kehidupan masyarakat sehari-hari, kita juga mesti sehat secara mental. Bagaimana kita bisa mengelola pikiran dan emosi kita saat menghadapi masalah adalah kuncinya.

Betapa pentingnya masalah kesehatan mental menjadi perhatian serius bagi WHO. Itulah kenapa setiap tanggal 10 Oktober sejak tahun 1992 diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. 

Khusus tahun ini, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia mengusung tema "Mental Health in an Unequal World". Tujuan dari peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat dunia akan kesehatan mental.

Sebagai negara yang tak terlepas dari permasalahan kesehatan jiwa, Indonesia pun tak ketinggalan untuk berpartisipasi. Oleh karena itu, pada 6 Oktober 2021 lalu Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Temu Bloger Hari Kesehatan Jiwa Sedunia secara daring. 

hari-kesehatan-jiwa-sedunia
Saya saat menjadi peserta temu bloger Kemenkes RI dalam rangka merayakan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (dokpri)
Di Indonesia, masalah kesehatan jiwa jadi masalah yang tak bisa dibiarkan, apalagi pada masa pandemi seperti sekarang. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.

Sementara Sistem Registrasi Sampel yang dilakukan oleh Badan Litbangkes tahun 2016 mencatat bahwa setiap tahunnya sebanyak 1.800 orang atau setara dengan 5 orang per hari melakukan tindakan bunuh diri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 47,7% di antaranya adalah usia 10-39 tahun.

4 Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia

Berdasarkan paparan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr. Celestinus Eigya Munthe, ada berbagai permasalahan kesehatan jiwa di Indonesia. Inilah beberapa di antaranya:

hari-kesehatan-jiwa-sedunia
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr. Celestinus Eigya Munthe saat memberikan penjelasan di Temu Blogger pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (dokpri)

1. Prevalensi Tinggi

Prevalensi tinggi jadi penyebab utama kenapa masalah kesehatan masih belum bisa dilepaskan di Indonesia. Berdasarkan data, 1 dari 5 penduduk atau sekitar 20% populasi di Indonesia memiliki potensi gangguan jiwa.

2. Terbatasnya Sarana dan Prasarana

Selain soal prevalensi, masalah kesehatan jiwa di tanah air juga disebabkan karena sarana dan prasarana yang terbatas. Belum semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa. Akibatnya, tidak semua orang dengan masalah gangguan jiwa mendapatkan pengobatan yang seharusnya. 

3. Minimnya SDM Profesional

Tingginya beban akibat masalah gangguan jiwa juga menjadi kesenjangan lainya. SDM profesional untuk tenaga kesehatan jiwa juga masih sangat minim. Satu psikiater di Indonesia harus melayani sekitar 250 ribu penduduk.

“Masalah sumber daya manusia profesional untuk tenaga kesehatan jiwa juga masih sangat kurang, karena sampai hari ini jumlah psikiater sebagai tenaga profesional untuk pelayanan kesehatan jiwa kita hanya mempunyai 1.053 orang,” jelas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr. Celestinus Eigya Munthe.

4. Stigma dan Diskriminasi dari Masyarakat

Meski zaman sudah makin modern dan pengetahuan bisa diakses dimana-mana, tak bisa dipungkiri bahwa masalah kesehatan jiwa di Indonesia masih terkendala stigma dan diskriminasi. Jika ada seseorang yang mengalami masalah kejiwaan, masih banyak orang yang memandang negatif. 

Hal ini perlu segera diatasi. Jika tidak, seseorang yang bermasalah pada kejiwaannya jadi segan untuk mencari solusi karena takut dianggap negatif sehingga dikhawatirkan akan menjadi bom waktu suatu hari nanti.

“Kita sadari bahwa sampai hari ini kita mengupayakan suatu edukasi kepada masyarakat dan tenaga profesional lainnya agar dapat menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan jiwa, serta pemenuhan hak asasi manusia kepada orang dengan gangguan jiwa,” tutur Celestinus.

Ayo Bantu yang Bisa Kita Lakukan!

Meski masalah kesehatan jiwa adalah masalah global yang terkesan hanya bisa ditangani oleh pemerintah dan orang profesional, bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai masyarakat, kita juga bisa turut andil lho. Mungkin memang tidak dalam ruang lingkup yang besar, namun setidaknya kita bisa membantu meringankan masalah yang dialami oleh orang di sekitar kita. Minimal 1 orang saja.

Dr. Indria Laksmi Gamayanti dari Ikatan Psikologi Klinis Indonesia menjelaskan bahwa cara termudah mengatasi masalah ini sebagai masyarakat adalah dengan memberikan dukungan psikologis awal. Dukungan psikologis awal ini terdiri dari 6 kegiatan yang saling bersinergi satu sama lain yakni melihat, mendengar, menenangkan, menghubungkan, melindungi dan membangun harapan.

Kesehatan jiwa
Dr. Indria Laksmi saat memaparkan penjelasan di Temu Blogger tentang Kesehatan Jiwa (dokpri)

Lihat - Lihatlah orang-orang di sekitar kita. Adakah di antara mereka yang mengalami masalah kejiwaan dan membutuhkan bantuan? Jika ada, dekati dan rangkullah mereka.

Dengar - Dengarkan keluh kesah mereka. Kita mungkin belum tentu bisa menyelesaikan masalah orang tersebut. Namun setidaknya, dengan menjadi pendengar yang baik, kita dapat meringankan beban yang dihadapi dan memberi tahu bahwa orang itu tidak sendiri.

Tenangkan - Tenangkan orang yang sedang mengalami masalah kejiwaan. Berilah pengertian bahwa kita hadir dan berusaha untuk mendampingi ia dalam menghadapi masalah.

Hubungkan - Hubungkan orang yang sedang mengalami masalah kejiwaan dengan tenaga profesional atau kegiatan yang dapat mengurangi tekanan mental.

Lindungi - Lindungi orang yang sedang mengalami masalah kejiwaan dari hal-hal yang dapat mengancam nyawa.

Bangun Harapan - Bangun harapan pada orang yang sedang mengalami masalah kejiwaan bahwa ia bisa lebih baik lagi suatu hari nanti.

Menghadapi masa pandemi yang serba sulit seperti sekarang memang tidak mudah. Masalah kejiwaan jadi taruhannya karena gejala stres, kecemasan hingga depresi baik karena masalah kesehatan ataupun ekonomi menjadi risiko psikologis yang tak dapat dihindari. 

Tak apa, itu manusiawi karena masalah dalam hidup pasti akan selalu ada. Yang terpenting bagaimana kita bijak dalam menghadapinya.

Akhir kata, saya berharap semoga semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya kesehatan jiwa dalam hidup. Semoga peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini jadi momentum bagi kita untuk terus meningkatkan masalah kesehatan jiwa karena pada dasarnya semua kesehatan jiwa

Comments