"Lima Hutan, Satu Cerita", Kisah tentang Hutan Sosial Ala Tosca Santoso

Apa sih yang terlintas di benak kita kalau ngobrolin tentang hutan di Indonesia? Pasti yang muncul di pikiran adalah tentang tempat luas yang dipenuhi dengan banyak pohon dan tumbuhan. Kita pun mesti berhati-hati saat masuk ke dalamnya karena di dalamnya terdapat beragam satwa liar seperti ular, singa dan harimau yang siap membahayakan keselamatan nyawa kita. Maklum, efek nonton film. Jadi kalau bayangin tentang hutan pasti ada satwa liarnya juga haha.
Indonesia, salah satu surga hutan di dunia (dok. BBC)
Namun bagaimana dengan sisi hutan yang lain? Pernahkah terlintas di benak kita bagaimana kehidupan masyarakat di sekitarnya? Enggak kepikiran kan?

Itulah yang diceritakan oleh Tosca Santoso, seorang jurnalis senior dalam buku terbarunya yang berjudul "Lima Hutan, Satu Cerita". Ya bener sih hutan adalah tempat yang banyak pohonnya dan terdapat berbagai satwa di dalamnya. Tapi hutan enggak hanya sebatas itu loh gaes. Faktanya, hutan juga memegang peranan sosial karena menjadi tempat bagi masyarakat luas untuk menggantungkan hidupnya. Istilah ini dinamakan dengan nama 'perhutanan sosial' atau 'hutan sosial'. Wow!

Untuk membahas lebih lanjut tentang 'perhutanan sosial' seperti yang tertulis di buku Tosca Santoso, belum lama ini Forest Digest, sebuah majalah kehutanan yang dibuat oleh alumni ITB berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia menyelenggarakan acara "Bedah Buku: Lima Hutan, Satu Cerita". Buku "Lima Hutan, Satu Cerita" sendiri telah diluncurkan pada beberapa waktu lalu tepatnya pada 15 Januari 2019 di Kedai Tempo, Jakarta.
Poster Bedah Buku "Lima Hutan, Satu Cerita" (dok. Forest Digest)
Selain Tosca Santoso sebagai penulis bukunya itu sendiri, turut hadir pula Guru Besar Fakultas Kehutanan ITB Didik Suharjito, anggota Pokja Perhutanan Sosial Diah Suradiredja dan Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bambang Supriyanto. Adapun kegiatan dimoderatori sendiri oleh  pemimpin redaksi Forest Digest Bagja Hidayat sebagai moderator. 

Meski temanya kelihatan berat dan mungkin masih awam bagi sebagian besar masyarakat yakni tentang perhutanan sosial, enggak perlu khawatir kok. Acaranya seperti ngobrol santai sehingga materinya amat mudah untuk dipahami, bahkan untuk orang yang masih belum familiar dengan hutan sosial seperti saya.

Tentang Apa sih "Lima Hutan, Satu Cerita"?

Para peserta yang hadir dalam bedah buku tidak sekadar mendengarkan pemaparan dari para narasumber saja tentang isi buku, namun juga bisa membawa pulang buku tersebut. Sebagai pecinta buku saya senang banget karena selain dapat menjadi koleksi 'perpustakaan mini' saya di rumah, buku ini juga akan menambah wawasan saya tentang perhutanan sosial. Tapi btw, sebenarnya bercerita tentang apa sih buku "Lima Hutan, Satu Cerita" itu sendiri?
  
"Buku "Lima Hutan, Satu Cerita" bercerita tentang para petani, nelayan dan orang-orang yang tinggal di hutan desa yang mendapatkan kesempatan secara legal untuk mengakses hutan tersebut." Tutur Tosca Santoso.

Tosca Santoso kemudian menjelaskan bahwa ia telah bergaul dengan masyarakat di area hutan sejak 2008. Sejak itulah ia mulai mengalami ketertarikan dengan hutan dan akhirnya memutuskan untuk menuangkan ceritanya ke dalam sebuah buku.
Dirjen Bambang Suprapto menyampaikan sambutan dalam "Bedah Buku: "Lima Hutan, Satu Cerita"" (dokpri)
Ada angka 'lima' dalam judul buku karya Tosca Santoso. Sesuai judulnya, buku yang terbit pada awal 2019 tersebut berkisah tentang perjalanannya ia menguak kisah dan cerita dari 5 hutan sosial berbeda yang sempat ia kunjungi di berbagai daerah di Indonesia.

Kelima hutan itu hadir dalam 5 judul cerita berbeda. Mereka adalah:
1. Merawat Mangrove di Padang Tikar (Padang Tikar-Kubu Raya, Kalimantan Barat)
2. Hutan Adat, Mata Air Ribuan Hektar Sawah (Kemantan, Jambi)
3. Ketika Hutan Rakyat Lampaui Luas Hutan Negara (Gunung Kidul-Kulon Progo, DIY),
4. Dungus, Bernaung Jari Setengah Hati (Dungus-Madiun, Jawa Timur)
5. Sarongge: Hutan, Kopi dan Mimpi Petani (Sarongge-Cianjur, Jawa Barat).

Bukan tanpa alasan kenapa Tosca mengangkat isu hutan sosial dalam buku terbarunya. Salah satu penyebabnya adalah karena Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang tentang perjalanan hutan sosial. Hal itu seperti disampaikan oleh Siti Nurbaya dalam pengantarnya. Sejauh ini hutan sosial di Indonesia telah mengalami empat periode.

Periode I berlangsung hingga tahun 1980. Kala itu pihak yang dapat mengakses sumber daya hutan ialah usaha Penanaman Modal Asing (PMA) seperti Weiyer Houser dan Georgia Pacific America, IFA Prancis, Inggris dan Marubeni-Jepang.

Setelah periode I berakhir, berlanjutlah periode II yang berjalan dari tahun 1981 hingga 1999. Pada periode ini pihak yang dapat mengakses sumber daya hutan adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pihak swasta melalui fasilitasi pemerintah melalui perijinan, konsep kesetaraan dan dengan pola investasi swasta atau BUMN.

Berikutnya adalah periode III (2007-2015). Nah, pada periode ini terjadi perbaikan struktur di hutan sosial Indonesia. Hal itu dikarenakan periode III membolehkan rakyat untuk turut mengelola sumber daya hutan. Namun hal itu dilakukan dengan pola pemberdayaan masyarakat, kerja sama dan didukung bantuan pembibitan pararel dengan kegiatan badan usaha swasta/BUMN.

Terakhir alias yang berlangsung hingga sekarang adalah periode IV (2016-sekarang). Pada periode ini, masyarakat di sekitar hutan tak perlu khawatir lagi karena mereka telah mendapatkan akses legal untuk pemanfaatan sumber daya hutan, dengan perijinan, mendapatkan usaha dengan fasilitasi serta peningkatan kapasitas manajemen usaha melalui pelatihan. Sistemnya lebih baik lagi karena konsep yang diusung adalah konsep keadilan (equity) sehingga tidak hanya pemberdayaan masyarakat saja melainkan juga mengajak usaha rakyat untuk masuk ke dalam sektor formal perekonomian Indonesia.

Tosca Santoso saat menyampaikan paparannya dalam bedah buku "Lima Hutan, Satu Cerita" karya Tosca Santoso (dok. Imawan Anshari)

Jujur saya hanya orang biasa. Soal hutan-hutanan mah saya enggak begitu paham. Namun begitu mengetahui keempat periode tersebut membuat saya berpikir bahwa "Wah, ternyata enggak mudah juga ya perjalanan hutan sosial di Indonesia. Berlika-liku coy!" Meski masa depan hutan sosial masih panjang, saya menyambut positif hadirnya hutan sosial di Indonesia. 

Kenapa? Soalnya dari waktu ke waktu fungsi hutan sosial di Indonesia mengalami peningkatan bagi kemaslahatan masyarakat. Dari yang awalnya hanya untuk pemilik modal asing saja lambat laun kemudian dapat dinikmati oleh masyarakat itu sendiri. Wah, keren banget sih ini!

Hal itu pun diamini oleh Tosca Santoso. Ia mengatakan bahwa perhutanan sosial adalah salah satu program Pak Jokowi dalam mengubah struktur masyarakat lebih baik. Ia merasa bahwa dulu petani tidak mendapatkan kepastian dalam memanen. Namun kini ia telah merasakan perubahannya.

Melalui hutan sosial, kesejahteraan hidup warga sekitar hutan jadi membaik. Warga setempat bisa mendapatkan hak kelola (bukan hak milik) hutan sosial selama 35 tahun dan dapat diperpanjang dalam mengakses dan memanfaatkan sumber daya hutan. Penerima sertifikat perhutanan sosial juga bukan orang sembarangan, melainkan warga setempat yang benar-benar membutuhkan. Mereka adalah kelompok tani, organisasi desa, koperasi dan masyarakat adat (bukan individu). Hal itu melindungi masyarakat karena mencegah dari terjadinya praktek jual beli tanah.

Ayo Jaga Hutan Sosial!

Mengutip pernyataan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya dalam pengantarnya di buku seperti diwakilkan oleh Bambang Suprapto, sampai saat ini tercatat ada sebanyak 25.863 desa yang berada di dalam atau di sekitar kawasan hutan. Sementara itu 71% di antara masyarakatnya menggantungkan hidup dari sumber daya hutan.

Namun sayangnya, 10,2 juta orang miskin di sekitar kawasan hutan tidak memiliki akses legal terhadap sumber daya hutan. Maka dari itulah, pemerintah mengalokasikan kawasan hutan untuk hutan sosial. Dari alokasi 12,7 Ha untuk perhutanan sosial,  baru 2,23 juta ha saja yang sudah terwujud.
Iya sih masih banyak yang belum terwujud. Kita masih punya PR besar untuk mewujudkannya satu per satu. Kendati demikian saya turut bersyukur. Alhamdulillah, kini telah terbentuk 5.172 kelompok hutan sosial yang memuat lebih dari 500 ribu KK di seluruh Indonesia. Yeay!
Hutan, salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat di Indonesia (dok. WWF)
Pemerintah telah berupaya keras demi mewujudkan perhutanan sosial di Indonesia. Kini giliran kita yang turut ambil peran.

Kita mungkin tidak bisa terlibat dalam kebijakan atau birokrasi dalam bidang perhutanan sosial. Namun minimal kita bisa berkontribusi dengan cara mendukung program-program pemerintah dalam merealisasikan perhutanan sosial dan menjaga keberlangsungan hutan sosial itu sendiri dengan tidak merusaknya. Menyebarkan informasi yang benar tentang hutan sosial melalui tulisan atau media sosial juga cara lainnya yang bisa kita lakukan.

Ayo jaga hutan sosial! Apapun caranya, niscaya akan ada banyak manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat luas, termasuk oleh anak dan cucu kita kelak. 

Komentar

  1. Wah..sebagai anak yang juga newbie di bidang hutan-hutanan ku baru tahu loh kalau ada hutan sosial yang secara legal bisa dikelola oleh masyarakat. Aku kira selama ini hanya boleh negara saja. Turut senang rasanya masyarakat pun jadi teredukasi untuk menjaga kelestarian hutan yang dikelola. Semoga makin banyak dan berkembang luas hutan sosial ini ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. AKu pun juga baru tahu tentang hutan sosial ini. Amin ka. Mudah-mudahan jumlah hutan sosial di Indonesia semakin bertambah banyak ya.

      Hapus

Posting Komentar