Itikaf Pertama di Masjid Raya Pondok Indah

Beberapa tahun belakangan gue kepengen itikaf di bulan puasa. Kepikiran sih di Istiqlal. Gue kepengen melakukannya karena gue pengen mendapatkan pengalaman reliji yang belum pernah gue dapetin sebelumnya. Tapi wacana cuman wacana. Kenyataannya gue enggak pernah merealisasikannya. Haha.

Setelah dari tahun ke tahun cuman wacana, alhamdulillah akhirnya tahun ini gue berhasil mewujudkan keinginan tersebut. Di malam ke-29 Ramadan yang bertepatan dengan tanggal 13 Juni 2018, gue pun itikaf bersama Kak Oo alias Soms Nugroho. Sebenarnya ada juga sih beberapa temen cewek seperti Silvi dan Mbak Green Yunita, tapi temen cowoknya cuman Soms Nugroho aja. Masjid Raya Pondok Indah yang terletak tak jauh dari Mall Pondok Indah menjadi tempat pertama gue itikaf sejauh ini (karena belum pernah itikaf).
Yeay! Alhamdulillah akhirnya kesampean juga buat itikaf di bulan Ramadan! (dok. simas.kemenag.go.id)
Masjid Raya Pondok Indah adalah masjid berasitektur lokal yang diresmikan pada Jumat, 4 Desember 1992 oleh Wakil Presiden RI, H. Sudharmono. Saat itu peresmian dilanjutkan dengan kegiatan sholat Jumat.
Bagi sebagian teman, khususnya yang mungkin nonmuslim mungkin belum tahu apa itu itikaf. Baiklah, gue coba berbagi ilmu di sini ya. Hoho.

Jadi, itikaf itu berasal dari kata dalam Bahasa Arab yakni akafa yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Itikaf dikenal juga dengan istilah I'tikaf, Iktikaf, Iqtikaf, I'tiqaf dan Itiqaf. Orang yang melakukannya adalah mutakif. Tujuan dari dilaksanakannya ibadah ini adalah semata-mata demi mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

Itikaf terbagi menjadi dua jenis, yakni itikaf sunnah dan wajib. Itikaf sunnah adalah itikaf yang dilakukan dalam 10 hari terakhir bulan Ramadan. Sementara itu itikaf wajib adalah itikaf yang dilakukan karena kita bernazar atau berjanji.

Walau identik dengan ibadah di bulan puasa, enggak berarti kita enggak bisa melakukan itikaf di bulan biasa ya. Itikaf juga bisa dilakukan di waktu yang lain asalkan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1) Muslim, 2) Niat, 3) Baligh/berakal, 4) Suci dari hadats/haid/nifas dan 5) Dilakukan di dalam masjid.

Sebelum melakukan itikaf, kita harus mengucapkan niat terlebih dahulu. Jangan lupa untuk berwudhu pula. Niatnya adalah sebagai berikut: 
  نَوَيْتُ اَنْ اِعْتِكَفَ فِى هَذَا المَسْجِدِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى.
(Nawaitu An I'tikafa fii hadzaal masjidi sunnatallillahi ta'ala)

Arti: Saya niat Itikaf di masjid ini sunat karena Allah Ta'ala.

Selama i'tikaf kita menetap di dalam masjid dan bisa melakukan beberapa kegiatan, seperti membaca Al-Quran, sholat sunnah, berdzikir dan shalawatan. Melakukan kegiatan nonibadah seperti minum, tidur atau hanya duduk saja sebenarnya juga boleh, tapi alangkah baiknya kita juga mengisinya dengan kegiatan ibadah agar kebaikan yang kita dapatkan semakin bertambah.
Ilustrasi itikaf (dok. dream.co.id)
Tidak ada durasi mutlak tentang pelaksanaan itikaf. Misalnya harus 3 jam, 5 jam atau bahkan 12 jam. Waktu dimulai dan selesainya i'tikaf bersifat fleksibel, yang penting jangan lupa niat dan tujuannya. Mau dimulai dari setelah sholat tarawih boleh, mau dimulai dari jam 12 boleh atau bahkan mau dimulai dari jam 2 pun juga boleh. Mau selesai jam 3 pas sahur boleh, pas subuh boleh atau bahkan pas pagi tiba pun juga boleh.
Balik lagi ke pengalaman itikaf yang gue lakuin, awalnya sih gue pengen jalan sekitar jam 9 atau jam 10an menuju Masjid Raya Pondok Indah. Tapi berhubung enggak sempet dan waktu itu disuruh nemenin emak ke pasar buat beli bahan-bahan untuk jualan gorengan, akhirnya gue baru sempet jalan menjelang jam 12 dengan membawa tas berisikan power bank, charger, payung, botol air minum, baju koko, beberapa snack dan bahkan laptop lho! Katanya Soms Nugroho mau make lepi, jadi gue bawa aja lepinya. Tapi pas di sana malah gak dipake. Ugh!

Untuk mencapai ke sana, sebenarnya sih gue bisa dengan mengendarai motor. Namun karena gue mager, akhirnya gue memutuskan untuk naik buswah aja. Gue jalan dari halte RS Medika Permata Hijau dan turun di halte Tanah Kusir Kodim. Setelah itu gue pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki selama beberapa meter untuk mencapai masjid. Jauh? Enggak dong. Jaraknya deket kok!

Setibanya di sana gue takjub karena ternyata peminat itikaf di Masjid Raya Pondok Indah terbilang banyak. Saking banyaknya, sampai-sampai belasan mobil terparkir di pinggir jalan di luar masjid. Gue kagum karena walaupun diberikan kelebihan rezeki (punya mobil), ternyata mereka tetap menyempatkan diri untuk beribadah. Sayangnya enggak sempet foto jadi gak ada dokumentasinya deh. Di sisi lain gue maklum sih peminatnya banyak. Soalnya saat itu adalah hari terakhir bulan Ramadan. Jadi wajar kalau setiap muslim enggak ingin menyia-nyiakannya begitu saja.
Awalnya sih gue bingung ini gimana caranya supaya bisa masuk ke dalam masjid? Soalnya pas gue sampe kok gerbangnya tertutup dan terkunci. Pantesan, ternyata untuk bisa masuk gue harus  lewat gerbang satunya lagi. Di sana gue pun bertemu dengan Ka Oo dan Silvi yang sedang duduk di atas (kebetulan masjidnya bertingkat dan berdiri di ketinggian berbeda). Segeralah gue menghampiri mereka. Silvi langsung masuk ke dalam aula masjid di lantai bawah bagian cewek sedangkan gue dan Ka Oo bergegas wudhu.

Selepas wudhu, kita berdua masuk ke dalam aula. Oya, Masjid Raya Pondok Indah ini punya dua lantai. Lantai pertama (yang ada di bawah) adalah aula sedangkan lantai kedua (ada di atas) adalah ruang utama untuk ibadah. Seketika gue takjub karena masjid dipenuhi banyak jamaah dari berbagai latar belakang, baik cowok, cewek, orang dewasa dan bahkan anak kecil sekalipun. Kegiatan mereka pun bermacam-macam. Ada yang sedang membaca Quran, ada yang sedang sholat, ada yang sedang mengobrol bahkan ada juga yang sedang tertidur. Adem deh rasanya melihat suasana kayak gini.
Suasana itikaf di Masjid Raya Pondok Indah (dokpri)
Sebelumnya gue mikir kalau di ruang aula itu digelar sajadah dari bagian paling depan hingga belakang. Ternyata dugaan gue salah karena sajadah hanya ada pada bagian depan saja (satu baris). Selebihnya tidak ada. Sebagian jamaah justru membawa sajadah masing-masing.

Nah, karena duduk di lantai itu dingin dan gue enggak bawa sajadah, maka kita pun memutuskan untuk ke barisan paling depan yang ada sajadahnya. Tak lama setelah itu kita melakukan itikaf sebagaimana yang orang lain lakukan. Sebenarnya sih pengen tidur juga, namun karena belum memungkinkan, maka kegiatan itu tidak jadi dilakukan. Di sela-sela itulah hujan sempat turun membasahi Pondok Indah.
Suasana itikaf di Masjid Raya Pondok Indah. Rame banget ya guys! (dokpri)
Sekitar pukul 02.30, kita melakukan sholat sunnah berjamaah. Kegiatan hanya berlangsung sekitar sejam karena pada pukul 03.30 WIB waktunya bagi para jamaah untuk melaksanakan sahur. Enggak perlu khawatir bagi yang ingin cari makanan. Soalnya di halaman masjid tersedia berbagai stand penjual makanan. Ada nasi padang, nasi rames, kebab, siomay, sate padang bahkan hingga es buah. Wah, pokoknya rame dweh!
Masing-masing jamaah ke halaman masjid untuk menyantap sahur (dokpri)
Bagi yang haus enggak perlu khawatir juga karena di masjid tersedia dispenser berisikan air isi ulang yang dapat dimanfaatkan bagi siapa saja yang membutuhkan. Tinggal bawa botol air minum kemudian isi, kita pun bisa memuaskan nafsu dahaga kita.

Kendati para jamaah bisa membeli makanan sahur di sana, tidak sedikit juga loh yang membeli makanan dari luar. Entah mesan lewat gojek atau apa mereka telah menyiapkannya sebelumnya, kurang tahu sih. Tapi yang jelas saya melihat beberapa di antara mereka makan sahur dengan mengonsumsi makanan cepat saji seperti Burger King dan Yoshinoya.
Penuhnya halaman masjid dengan jamaah masjid yang hendak santap sahur (dokpri)
Saat berada di sana saya memilih makan nasi rames. Setiap pesanan nasi beserta lauk pauknya akan disajikan di atas sterofoam beralaskan kertas dengan tambahan daun singkong, sambel dan lumuran kuah sayur. Pilihan lauknya sih ada banyak tapi saya memilih untuk makan nasi dengan lauk berupa telor pedas dan rendang.
Memesan menu sahur di Masjid Raya Pondok Indah (dokpri)
Dengan harga sebesar minimal Rp20.000 tergantung lauk yang kita pesan, kita pun dapat menikmati sahur dengan menu ini. Gue sendiri mengeluarkan uang sebesar Rp25.000 untuk nasi yang gue pesan. Harganya standar. Dibilang murah sih enggak, tapi dibilang mahal sih juga enggak.

Soal rasa? Hmm... enak-enak saja. Gue sangat menikmatinya. Kekurangannya cuman satu: nasinya kurang banyak! Gue pun berpikir, "Wah, kalau tau gitu mending bawa nasi aja deh dari rumah!" Hoho xD
Menunggu pesanan nasi tiba di Masjid Raya Pondok Indah (dokpri)
Habis sahur, terbitlah imsak. Di saat itulah kita pun berwudhu kembali. Kemudian melakukan Sholat Subuh secara berjamaah. Selepas sholat, sebenarnya gue pengen pulang. Tapi karena masih ngantuk karena belum tidur dari pagi dan kayaknya busway belum beroperasi akhirnya kita pun memutuskan untuk tetap berada di sana. Dengan posisi tangan memeluk tas (buat jaga-jaga), gue pun perlahan-lahan tertidur pulas. Begitu pun dengan Soms Nugroho. Tanpa sadar, waktu telah menunjukkan jam 8 pagi dan tiba saatnya bagi kita untuk segera pulang.

Setelah 'ngumpulin nyawa' dan cuci muka, kita pun pergi ke halte Pondok Indah untuk kemudian pulang ke rumah masing-masing. Gue naik busway ke arah Harmoni sementara si Soms pulang naik busway ke arah Tosari. 

Selepas itikaf gue sadar bahwa itikaf yang gue lakuin masih jauh dari kata sempurna. Soalnya kalau dibilang 100% ibadah, enggak juga sih karena gue sempat ngobrol dan bahkan buka sosmed di hape. Intinya gue merasa kalau gue masih punya banyak kekurangan dari segi ibadah.

Kendati demikian, gue enggak merasa bahwa pengalaman itikaf di Masjid Raya Pondok Indah adalah pengalaman yang sia-sia. Justru sebaliknya, pengalaman itikaf pertama, baik di Masjid Raya Pondok Indah ataupun di masjid pada umumnya adalah pengalaman berharga dan berkesan bagi gue untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik. 

Gue berharap semoga gue terus dipertemukan dengan bulan Ramadan sehingga gue terus bisa mencoba 'itikaf' di berbagai masjid berbeda. Tahun ini Masjid Raya Pondok Indah, tahun depan mungkin di Istiqlal, masjid di luar kota atau di masjid di luar negeri misalnya? Apapun itu, semoga gue (dan kita) diberikan panjang umur oleh-Nya sehingga terus dapat melakukan dan menyebarkan kebaikan. Amin.
Mungkin suatu hari nanti bisa itikaf di Masjid Nabawi? Mudah-mudahan ya :) (dok. wikipedia)




NB: Btw, gue agak nyesel karena ngambil fotonya sedikit pas di sana dan banyak yang hasilnya kurang bagus. Tapi ya udah lah, yang penting pengalamannya. Ke depannya gue bakalan ngambil foto lebih banyak lagi deh kalau mau nulis blog. Semoga tulisan ini bermanfaat ya!

Komentar

  1. Wah...jadi lebih paham mengenai itikaf sekarang..makasi ya penjelasannya...semoga ramadhan berikutnya bisa itikaf di berbagai Masjid baik dalam maupun put negri yaaa... Amin... :)

    BalasHapus
  2. Itikaf jaman sekarang pada bawa hp ya. Seolah mindahin tempat aja hehehe... Tapi senang banyak juga yg mengisi dengan mengaji dan kajian.
    Semoga segala amal ibadah kita diterima. Tidak ada yg sia2. Amin...

    BalasHapus

Posting Komentar