Mengakar bersama Meet The Makers ke-12

Teman-teman milenial, tahu kan apa itu instagram, path, whatsapp bahkan line?

Pasti tahu dong ya. Namanya juga generasi milenial. Segala hal yang berhubungan dengan gawai dan dunia sosmed pasti sudah di luar kepala!

Tapi kalau ditanya apa itu savu, tenun ulap doyo, batik rifaiyah hingga tenun molo?

Hmm… yang tahu sih pasti ada. Tapi saya yakin jumlah generasi milenial yang tidak tahu pasti jauh lebih banyak!

Indonesia adalah negara yang kaya. Tak hanya sumber daya alamnya saja yang melimpah namun juga kebudayaannya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari tradisi, adat istiadat, kuliner hingga kriya atau kerajinan.
dok. bukubiruku.com
Nah, bagaimana keberlanjutan dari budaya kita di masa depan ditentukan di tangan-tangan generasi milenial sekarang. Itu dikarenakan generasi saat ini yang akan memimpin negara ini ke depannya. Sayangnya, banyak generasi milenial yang masih belum kenal akan budayanya sendiri padahal potensi yang dimiliki oleh Indonesia luar biasa.

Oleh karena itu untuk semakin memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia, terutama pada generasi milenial yang semakin hits sekarang, Red Lotus sebagai komunitas aktif dalam pelestarian kriya nusantara menyelenggarakan pameran kerajinan Meet The Makers “Craft as Art”. Ini adalah kali ke-12 Meet The Makers diselenggarakan sejak pertama kali diadakan pada 2007.
Poster Meet The Makers ke-12 (dok. MTM)

Mengusung tema “Mengakar”, pameran ini diadakan di Nusa Gastronomy, Kemang Raya No. 81, Jakarta Selatan pada 5 hingga 7 Oktober 2017 dengan diikuti oleh 14 artisan yang tersebar dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka adalah Pekunden Pottery (Jakarta), Gerai Nusantara – AMAN (Jakarta), Kanawida (Tangerang), Batik Rifaiyah (Batang, Jawa Tengah), Brahma Tirta Sari (Yogyakarta), Marenggo Natural Dyes (Yogyakarta), Wiru (Yogyakarta), LAWE (Yogyakarta), Omah Batik Sekar Turi (Sleman), Borneo  Chic (Kalimantan), Cinta Bumi (Bali & Sulawesi), Tafean Pah (Nusa Tenggara Timur), Tenun Molo – Bife (NTT) dan Savu (NTT). Waw!

Mungkin ada yang penasaran, kenapa sih tema MTM kali ini adalah “Mengakar”? Enggak sekadar tema, namun sebenarnya memiliki makna filosofis lho! Bregas Harrimardoyo selaku pihak penyelenggara menjelaskan bahwa maksud dari mengakar adalah bahwa seni kriya Indonesia mengakar pada nenek moyang dahulu. Ia pun memberikan perumpamaan antara tema MTM dengan pohon yang memiliki akar. "Walaupun pohon itu rubuh, tapi akarnya akan tetap ada. Kalau ada yang menggali akar, maka sejarah pohon dapat digali lagi." Dengan kata lain, zaman boleh semakin berkembang dan makin canggih. Budaya pun boleh semakin beragam dan dapat dimodifikasi sedemikian rupa. Namun bagaimanapun, identitas budaya Indonesia tetap pada satu akar yang sama layaknya semboyan kita, "Berbeda-beda tetapi satu."
Sambutan oleh Bregas Harrimardoyo, salah satu penggagas MTM (dokpri)
Sebagai generasi yang peduli akan budaya Indonesia *ceilah* tak ketinggalan saya turut memeriahkan acara ini. Saya datang ke sana pada hari pertama pembukaannya yakni pada 5 Oktober 2017.  Ini bukan kali pertama saya berpartisipasi dalam MTM, melainkan sudah kedua kalinya. Tahun lalu, tepatnya pada pameran Meet The Makers ke-11 saat diselenggarakan di Alun-alun Indonesia, Grand Indonesia saya juga berpartisipasi. 
Pembukaan Meet The Makers ke-12 dimeriahkan oleh penampilan kesenian dari Kalimantan (dokpri)
Meski hanya berselang setahun, namun ada perbedaan antara MTM tahun lalu dengan tahun ini. Misalnya saja pada MTM ke-11 kerajinan kulit kayu dari Lembah Bada, Sulawesi Tengah masih dalam tahap awal. Namun pada MTM ke-12, kerajinan kulit kayu dari Lembah Bada, Sulawesi Tengah telah dikembangkan menjadi berbagai produk kerajinan yang cantik dan menarik. Intinya, MTM selalu menawarkan suatu hal dan pengalaman yang baru kepada para pengunjung di setiap pagelarannya.

Pada pameran MTM, kerajinan yang ditampilkan tidak hanya berupa kain atau pakaian semata namun juga dalam bentuk lainnya. Semuanya dijamin bikin naksir dan mupeng untuk dibawa pulang. Cantik dan lucu-lucu. Ada dompet, tas, gantungan kunci bahkan hingga ikat rambut! Saya pun antusias untuk menjelajah dari satu stand ke stand lain.
Gantungan kunci produk LAWE, salah satu produk yang ditampilkan di MTM (dokpri)
Marenggo, salah satu artisan di MTM 12 (dokpri)

Di samping pameran, ciri khas dari acara Meet The Makers adalah adanya berbagai kegiatan diskusi menarik terkait budaya dan kerajinan Indonesia. Jadi para pengunjung enggak hanya bisa lihat-lihat kerajinan saja tapi juga bisa nambah ilmu dari para artisan atau narasumber yang datang. Dijamin setelah pulang, setiap pengunjung pasti jadi lebih pinter!

Meski berharap kegiatan diadakan di GI atau tempat yang lebih strategis seperti tahun lalu, secara keseluruhan saya suka dengan kegiatan ini. MTM memberikan saya banyak inspirasi dan ide-ide segar dalam berkarya. Sesuai tema, saya berharap Meet The Makers kali ini dapat jadi momentum bagi  kita, terutama saya dan sobat milenial lainnya untuk terus ingat pada akar yang sama.

Komentar

  1. wah, aku baru tahu nih ada event seperti ini. Mungkin untuk selanjutnya saya harap event ini lebih banyak diviralkan lagi ya supaya lebih luas dan seluruh daerah dapat berpartisipasi. Event ini juga harus diperkenalkan ke anak-anak supaya mereka mulai mencintai produk budaya dalam negeri sedari kecil. Terima kasih atas sharingnya ya..kalau ada lagi kasih tahu aku yaaa Noval.

    BalasHapus

Posting Komentar