"Night Bus" Menuju Takengon

Desa Jaluk, Kecamatan Ketol, Takengon, Aceh Tengah tempat kami melihat kegiatan Kurbanesia "Tentukan Lokasi Berkahmu" Dompet Dhuafa berada jauh dari Kota Banda Aceh. Untuk mencapai ke sana kami dari Banda Aceh kami harus naik travel di terminal terlebih dahulu dengan durasi perjalanan memakan waktu sebanyak 7-8 jam. Sayangnya, travel tidak beroperasi setiap saat. Biasanya mereka beroperasi setiap malam. Ada sih yang beroperasi pada pagi hari, namun sangat minim.

Setelah menyantap sate matang di salah satu trotoar di Banda Aceh, kami diantarkan oleh Dokter Ilham dari LKC Dompet Dhuafa Banda Aceh menuju tempat kumpul mobil travel. Saya lupa saat itu jam berapa, tapi sepertinya sekitar jam setengah sembilan. Hanya beberapa menit dari tempat makan sate matang, kami pun akhirnya tiba di lokasi. Mobil travel pun tiba. Segera kami memasukkan barang bawaan kami ke dalamnya. Walau kami sudah siap untuk berangkat, kami harus menunggu selama beberapa saat terlebih dahulu karena masih ada penumpang yang belum datang.

Sebelum berangkat, ternyata kami baru tahu bahwa mobil yang kami tumpangi tidak sampai hingga Desa Jaluk, Takengon, melainkan hanya sampai terminal di kota Takengon. Seorang sopir mobil travel lain memberitahukan kepada kami bahwa untuk mencapai ke Jaluk, kami harus naik mobil lagi dari terminal dengan durasi selama 2 jam. Itu karena lokasi yang tertera di tiket hanya sampai di terminal Tangkenon. Lantaran itu satu-satunya cara,  maka (mau tak mau) kami pun mengikuti apa yang disampaikan si sopir dengan catatan harus menambah biaya ongkos lagi sesuai dengan yang disampaikan olehnya.

Tak lama kemudian penumpang demi penumpang berdatangan. Barulah kami masuk ke dalam mobil karena sebentar lagi kami akan berangkat. Inilah waktunya kami berpisah dengan Dokter Ilham. Meski baru bertemu dengannya beberapa jam (tidak sampai sehari), saya kagum dengan beliau. Bagi saya Dokter Ilham adalah pribadi yang baik hati, cerdas dan memiliki hati yang tulus. Dalam hati saya membatin, "Semoga Allah mempertemukan kita lagi nanti (dan tentunya dengan Pak Andi dan teman-teman LKC Aceh lainnya)". 
Suasana terminal di malam hari (dokpri)
Di dalam mobil travel bermerk Mitsubishi L300, saya, Mas Salman dan Mas Fuji duduk di kursi mobil dengan posisi hampir paling belakang. Saya berada di pojok dekat jendela, Mas Salman di tengah dan Mas Fuji di dekat pintu mobil. Setiap saf mobil hanya dapat muat oleh 3 orang dewasa. 1 saf di depan kami ada sekumpulan wanita yang juga hendak melanjutkan perjalanan sedangkan di belakang ada sekumpulan pria dengan barang-barang bawaan para penumpang di dalamnya.

Oh ya, mobil travel tidak jalan sendirian. Mereka berjalan secara bersamaan atau konvoi untuk mengantisipasi hal-hal tak diinginkan. Maklum, perjalanannya dilakukan pada malam hari. Seusai satu per satu mobil berjalan, segeralah mobil yang kami tumpangi ikut berjalan.

Melakukan perjalanan di malam hari dengan durasi perjalanan yang cukup panjang hingga sepertiga hari mengingatkan saya pada sebuah film Indonesia thriller berjudul "Night Bus". Saya pikir, kok yao ini kayak film "Night Bus" ya, film yang latarnya hanya di bus dari malam sampai pagi? Iya sih saya enggak naik bus, tapi naik mobil tapi kondisinya sama kayak di film. Malam-malam, naik mobil, nyampenya pagi, kayak "Night Bus" banget! Apalagi latar perjalanan saya kali ini adalah di Aceh (bagi yang sudah menonton pasti mengerti). Meski di film menampilkan suasana mencekam, tentu saya yakin dan percaya bahwa itu tidak terjadi pada perjalanan saya kali ini.
Poster film "Night Bus" (dok. Night Bus film)
Sepanjang melakukan perjalanan, hanya hitam saja yang dapat terlihat. Kanan kiri sih ada saja rumah dan pepohonan. Namun karena gelap jadi hanya gelap saja sepanjang mata memandang. Di sepanjang jalan menuju Takengon minim fasilitas penerangan. Lampu penerangan di pinggir jalan sangat jarang.

Selagi memperhatikan ke luar mobil, pikiran saya melanglang buana ke Desa Jaluk, Takengon. Berbagai pertanyaan bermukim di benak saya. Seperti apa tempat yang akan saya tinggali nanti? Apa saja keunikan yang ada di sana? Dan lain sebagainya. Saya penasaran sekaligus juga semangat untuk mengeksplor Takengon lebih lanjut.

Mulanya saya terjaga, melihat-lihat Takengon dari sudut pandang malam hari. Namun semakin lama kok yo ini mata enggak bisa diajak kompromi. Nguaantuk abis! Duh, padahal pengen menikmati perjalanan malam. Setelah sempat menahan kantuk beberapa kali, saya angkat tangan. I'm give up!  Saya menyerah! Terpaksa mau tak mau saya enggak ke Takengon, tetapi ke Pulau Kapuk dulu. Tidur! Zzzz

Suasana jalan yang kadang menanjak, menurun, berbelok dan melaju dengan kecepatan cukup tinggi membuat saya tidak benar-benar nyenyak. Saya beberapa kali terbangun dan mengakibatkan saya merasakan pegal-pegal di leher akibat posisi tidur yang tidak bisa seimbang. Walau begitu saya sebisa mungkin memejamkan mata.

Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba saya terbangun. Setelah melek saya pun baru sadar bahwa ternyata mobil tidak berjalan, melainkan berhenti di suatu tempat. Saya melihat ke sekeliling. Ada beberapa tempat dengan makanan dan lampu yang menyala. "Wah, ini pusat oleh-oleh!", pikir saya. Tadinya sih pengen beli oleh-oleh di tempat itu. Namun saya mengurungkannya karena saya pikir lebih baik beli oleh-oleh nanti saja. Lagipula saya juga baru berangkat.

Tak lama kemudian para penumpang yang telah keluar mobil masuk satu per satu. Saat itu Mas Salman sempat menawarkan keripik biji mangga yang ia beli kepada saya. Keripik biji mangga? Keripik macam apa itu? Karena penasaran, saya mencicipinya. Begitu mencobanya, wah, ternyata enak juga! Biji mangga biasanya keras namun saat diolah menjadi keripik, ternyata bisa juga jadi empuk. Rasanya manis dan gurih. Cocok bagi para pecinta kuliner antimenstrim! Beberapa saat kemudian abang sopir kembali mengemudikan mobilnya. Perjalanan "Night Bus" pun berlanjut. Saya? Yaaa balik ke Pulau Kapuk!

Delapan jam melakukan perjalanan ternyata tak terasa. Begitu terbangun, tahu-tahu kami sudah sampai di terminal dalam keadaan Subuh. Syukurlah, sebentar lagi sampai! Berhubung masih ngantuk, tak ada yang saya lakukan saat itu kecuali menatap aktivitas pagi warga Takengon di terminal dan mengecek ponsel genggam. Beberapa penumpang tampak masih tertidur pulas, beberapa lainnya telah terjaga dan memilih untuk keluar mobil. Setelah memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit, semua penumpang keluar dari mobil. Bagi sebagian penumpang yang tujuannya adalah Kota Takengon berarti sudah sampai. Namun bagi sebagian penumpang yang tujuannya adalah desa-desa di sekitar Takengon, seperti kami, maka harus melakukan perjalanan lagi.

Kami kini berpindah mobil dengan tujuan Desa Jaluk. Tak hanya kami, ada pula beberapa penumpang di dalamnya dengan mayoritas berupa penumpang wanita. Mereka hendak pulang ke rumah masing-masing karena hendak merayakan hari Raya Idul Adha bersama keluarga. Saat di mobil, sesekali saya melemparkan pandangan ke luar, memotret dan merekamnya, sesekali saya berusaha memejamkan mata lagi. Setelah memakan durasi perjalanan selama 2 jam, alhamdulillah akhirnya kami tiba juga di tempat tujuan. Seorang pria menyambut kami dengan hangat saat kami bertiga turun dari mobil. Saat itu saya pun baru mengetahui bahwa ia bernama Mulyadi, sosok inspiratif di Desa Jaluk, Takengon. Dalam Kurbanesia Social Trip, bersamanyalah kami akan belajar banyak hal beberapa hari ke depan.

Komentar

  1. Wah...Beneran night bus yaa..qiqiqi...seru banget perjalanannya Val..ditunggu lanjutan aktivitasnya selama di takengon yaaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ka seketika jadi ngebayangin night bus wkek

      Hapus
  2. Niki mangga biasa Di buang. Sekarang di bikin kripik. Enak ding Dan rasa beda gak sama buah. Harga berapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kurang tau mpok. Kemaren nyicipin doang.

      Hapus

Posting Komentar