Bersama Dompet Dhuafa, Berdayalah Peternak Indonesia!

Terpilih sebagai salah satu dari tiga blogger yang berpartisipasi dalam Kurbanesia Social Trip bersama Dompet Dhuafa membuat saya bersyukur. Sebab tak hanya dapat menjelajah Aceh, Kurbanesia Social Trip juga memberikan saya kesempatan untuk dapat melihat lebih dekat bagaimana dan seperti apa pemberdayaan hewan ternak yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa. Tentu saja ini adalah kesempatan langka yang diberikan Allah kepada saya. Kalau kata Syahrini, "Alhamdulillah, yah..."

Usai melihat perkebunan kopi Gayo, siang itu pada 31 Agustus 2017, Bang Mul mengantarkan kami bertiga (saya, Mas Salman dan Mas Fuji) menuju tempat peternakan yang ada di Desa Jaluk. Tempat tersebut sebenarnya tak jauh dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Namun karena kami hendak keliling lagi di Jaluk, kami pun mencapai ke sana dengan menggunakan sepeda motor. Bang Mul memboncengi Mas Fuji sedangkan saya bersama Mas Salman.

Setibanya di sana kami mendapati puluhan kambing dan domba yang sedang asyik mengunyah dedaunan. Para mbek tersebut tidak bebas, melainkan ada di dalam kandang yang terbelah menjadi dua sisi, kiri dan kanan, dan menyisakan setapak jalan di tengah-tengah. Melihat hewan berkaki empat tersebut makan dengan lahap membuat saya enggak habis pikir, "Waduh, apa enaknya sih makan daun-daunan mentah kayak gitu? Lahap pula. Mending makan nasi uduk!" Tapi ya namanya juga kambing dan domba. Kalau kambing dan domba makan nasi bisa gawat dong. Bagi kita dedaunan enggak enak, tapi bagi mereka pasti terasa nikmat seperti nasi padang. Haha.
Nyam nyam nyam (dokpri)
Abaikan si mbek yang sadar kamera (dokpri)
Seorang warga mengantarkan dedaunan untuk pakan ternak (dokpri)
Sejenak melihat para hewan vegetarian tersebut, Bang Mul menghampiri sebuah rumah yang ada di sebelahnya. Tak lama kemudian keluarlah seorang bapak-bapak. Setelah bercakap-cakap akhirnya kami pun tahu bahwa dia adalah Muhammaddin, ketua kelompok ternak di Desa Jaluk. Hits banget lah pokoknya!

Pak Din (dibantu oleh Bang Mul) bercerita bahwa hingga kini ada 4 peternak yang bergabung dengan kelompok ternak yang dipimpinnya. Tadinya sih kelompok ternak di sana belum terarah dengan baik. Namun sejak Dompet Dhuafa datang dan melakukan pemberdayaan di sana, pelan tapi pasti terjadi perubahan ke arah yang lebih baik bagi para peternak Jaluk. Mereka kini jadi mengerti bagaimana merawat, mengelola dan bahkan menjual hewan ternak seperti kambing dan domba dengan baik.
Pak Din, ketua kelompok peternak di Desa Jaluk, Takengon, Aceh Tengah (dokpri)

Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Gempa bumi yang terjadi di Takengon pada 2013 menjadi cikal bakal dari diadakannya program pemberdayaan peternak di saja. Kala itu Dompet Dhuafa datang ke Takengon dalam rangka misi kemanusiaan menolong korban bencana saja. Namun seiring berjalannya waktu Dompet Dhuafa melihat sisi lain dari Takengon yang perlu dimaksimalkan.

Di satu sisi Takengon, khususnya di Desa Jaluk punya potensi, di sisi lain Dompet Dhuafa prihatin karena ternyata selama bertahun-tahun Takengon minim dan bahkan tidak ada pemotongan hewan kurban setiap Hari Raya Idul Adha. Sedih ya. Ekonomi adalah faktor utamanya. Sebagai salah satu lembaga sosial terbesar di Indonesia, jelas ini adalah PR besar bagi Dompet Dhuafa!
Gempa Aceh Tengah 2013 (dok. aceh.kemenag.go.id)
Tak tinggal diam, Dompet Dhuafa pun tergugah untuk bermitra dengan warga di sana. Akhirnya dibuatlah sejumlah program. Nah, salah satunya adalah pemberdayaan peternak. Ketimbang memberikan ikan, Dompet Dhuafa lebih memilih memberikan alat pancing dan mengajarkan para peternak tentang bagaimana cara memancing. Oleh karena itu DD melakukan pemberdayaan dengan cara sosialisasi, membimbing, mengedukasi bahkan hingga memfasilitasi kebutuhan para peternak di sana. 

Memberdayakan peternak di suatu desa pasti enggak semudah membalikkan bakwan udang. Tentu ada berbagai tantangan dan batu kerikil yang harus dihadapi. Namun berkat "spirit berbagi" Dompet Dhuafa, pelan tapi pasti apa yang diinginkan tercapai. Setelah sekian lama warga Takengon (khususnya Jaluk) tidak pernah mencicipi daging kurban, akhirnya pemotongan hewan kurban pada Idul Adha perdana lewat program Kurbanesia pun terwujud pada 2016.

Hewan-hewan kurban tersebut dibeli dengan menggunakan uang para pekurban yang "diamanahkan" melalui Dompet Dhuafa. Dengan kata lain, hewan ternaknya dari warga desa dan untuk warga pula. Saat itu 31 ekor hewan kurban berhasil disembelih dan dagingnya berhasil didistribusikan ke semua warga desa. Ya Allah, sebagai orang yang selalu kebagian mencicipi daging kurban tiap tahun saya senang banget mendengarnya :')

Kalau pada tahun 2016 jumlah hewan kurban mencapai 31 ekor, pada tahun 2017 alhamdulillah jumlah hewan kurbannya meningkat. Tahu enggak jumlahnya berapa? 53 ekor! Alhamdulillah yes. Terima kasih banyak kepada para pekurban karena hewan-hewan kurban ini dapat disalurkan berkat partisipasi mereka via Kurbanesia Tentukan Lokasi Berkahmu.

Dibanding tahun sebelumnya, dalam Kurbanesia Tentukan Lokasi Berkahmu, para pekurban dapat memilih lokasi penyaluran hewan kurban yang mereka inginkan di 33 provinsi di seluruh Indonesia. Itu artinya, 53 ekor hewan kurban yang disalurkan menandakan ada 53 pekurban yang memilih Takengon sebagai lokasi berkah. Waaaaah! Sesuai namanya "lokasi berkah", saya berdoa semoga para pekurban terus berkah yes rezekinya.
Kurbanesia Tentukan Lokasi Berkahmu (dok. Dompet Dhuafa)
Oh ya, penyaluran hewan kurban kali ini tidak terbatas pada Desa Jaluk saja. Daging hewan kurban juga akan didistribusikan ke 13 desa lainnya (total 14 desa termasuk Jaluk) pada Hari Raya Idul Adha 1438 H di sekitar Kecamatan Ketol dan Silih Nara. Alhamdulillah, melalui Kurbanesia, kebutuhan warga akan daging kurban dapat semakin terpenuhi dan terjadinya peningkatan pendapatan bagi para peternak. 

Kini para peternak Takengon memasuki babak baru. Dompet Dhuafa tidak akan lepas tangan dalam membimbing para peternak. Namun pada akhirnya akan ada hari dimana para peternak Takengon, terutama Jaluk dapat mandiri dan berdiri sendiri. Bersama Dompet Dhuafa, berdayalah para peternak Indonesia! 

Komentar

  1. lembaga ini memang sdh teruji dan terpercaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Makanya dapat penghargaan Ramon Magsaysay 2016

      Hapus
  2. Dompet Dhuafa semakin amanah dan terpercaya, ya. Jadi NGO ya, kalo ngga salah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya lembaga nonprofit /lembaga zakat mbak.

      Hapus
  3. Alhdulilah thn ini banyak sampai lima puluh lebih. Tuh kambing tahu aja ada kamera mau motet .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ye mpok. Iye itu kambing narsis bener dah ah tau aja kalo difoto

      Hapus
  4. Makin keren Dompet Dhuafa, memang gak usah di ragukan lagi..
    Btw, salam kenal ya, Mas..
    Gak sengaja klik di profil IGnya, trus buka dah blognya.he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa sudah terpercaya mah DD. Makanya dapet penghargaan Magsaysay Award. Wah terima kasih mas sudah berkunjung :)

      Hapus
  5. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus

Posting Komentar