Sampah, Si Bau yang Bermanfaat

Mendengar kata sampah, pasti yang terbenak di benak kita adalah bau, jijik dan kotor. Bukan begitu?

Pendapat itu benar semua. Namun sadarkah kita bahwa di balik itu semua, si bau yang satu ini menyimpan potensi luar biasa untuk menjadi salah satu sumber energi terbarukan?
Sampah (dok. gettyimages)
Potensi ini mulai dilirik oleh pemerintah. Presiden Jokowi telah menerbitkan Peraturan Presiden nomor 18 tahun 2018 yang berisi tentang percepatan pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah menggunakan teknologi proses thermal incinerator atau pembakaran. Pemerintah berharap si bau ini dapat menjadi sumber energi terbarukan untuk menghasilkan listrik.

Si bau bisa jadi sumber energi, bagaimana prosesnya?

Dikutip dari BBC, Direktur Pusat Teknologi Lingkungan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, BPPT, Rudi Nugroho menjelaskannya. Prinsip kerja pembangkit listrik berbasiskan sampah mirip dengan pembangkit listrik tenaga uap. Yang membedakan hanyalah bahan bakarnya. Jika pada pembangkit listrik tenaga uap dibutuhkan batu bara, maka pada pembangkit listrik tenaga sampah yang dibutuhkan tentu saja adalah sampah.

Prosesnya seperti ini. Mula-mula sampah dimasukkan ke dalam mesin press. Saat mesinnya ditekan, sampah akan mampat dan menghasilkan air. Air ini akan turun dan kemudian ditampung di dalam truk.

Setibanya sampah di lokasi pembuangan akhir, dilakukan pemisahan antara pecahan logam dan kaca. Kenapa? Itu karena kedua elemen tersebut menghambat pembakaran. Barulah setelah itu sampah diangkut oleh alat seperti robot. Kemudian dimasukkan ke ruang bakar dengan suhu 800 hingga 1000 derajat celcius. By the way, tidak semua sampah berhasil dibakar. Hanya sekitar 10% saja sisa yang dihasilkan dari incinerator atau pembakaran.
Incinerator sampah (dok. lembang.co)
Pada pembakaran itu akan menghasilkan panas. Panas hasil pembakaran akan disalurkan untuk memanaskan boiler untuk memproduksi uap. Nah, uap inilah yang kemudian akan digunakan untuk menggerakkan turbin yang pada akhirnya dapat menghasilkan listrik. Saat jadi, barulah listrik didistribusikan dan dijual ke PLN dan kita pun dapat merasakan manfaatnya. Yeay!

Buku panduan "Sampah Menjadi Energi" yang diterbitkan oleh Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) (www.esdm.go.id) juga telah menjelaskan bagaimana proses pengubahan sampah menjadi energi. Ada tiga mekanisme kerja, yakni fisika, thermal dan biologi.

Secara fisika, proses tersebut bernama Refuse Derived Fuel atau disingkat RDF. Prosesnya adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
2. Penghancuran dan penyobekan sampah-sampah tersebut.
3. Pembentukan sampah yang sudah dihancurkan menjadi pelet atau arang.
4. Pelet bisa didistribusikan untuk pemakaian.

Ada pula proses konversi thermal dengan proses sebagai berikut:
1. Pengumpulan sampah dari TPA
2. Sampah dikumpulkan dalam alat pembakar sampah atau incinerator.
3. Sampah yang dibakar memanaskan boiler air menghasilkan uap panas.

Terakhir, konversi biologis landfil gas recovery. Rangkaian prosesnya sebagai berikut:
1. Pengumpulan sampah dari TPA.
2. Gas diperoleh dengan cara penyedotan dan pembakaran.
3. Gas diproses melalui pipa-pipa.
4. Uap yang dihasilkan menggerakkan turbin dan generator listrik.
5. Listrik dapat didistribusikan untuk pemakaian.
6. Emisi yang dihasilkan akan difiltrasi.

Ilustrasi sampah (dok. abc.net.au)
Si bau memang berpotensi dalam menghasilkan listrik. Tapi eits, jangan senang dulu. Ada ketentuannya. Sampah yang dibutuhkan sebagai bahan bakar penghasil listrik dalam proses pembakaran sebaiknya sampah kering karena nilai kalorinya tinggi.

Kenyataannya, di Indonesia kebanyakan sampah adalah sampah basah. Nilai kalorinya yang rendah membuat membutuhkan batu bara untuk membakar sampah. Ini tidak dianjurkan karena akan menelan biaya yang lebih banyak. Oleh karena itu untuk Indonesia yang kebanyakan dipenuhi oleh sampah basah, pengeringan itu penting dilakukan untuk menurunkan kadar air. Pemerintah juga perlu memaksimalkan penggunaan truk-truk sampah yang bisa melakukan pemampatan untuk mengurangi kadar air sebelum akhirnya dibawa ke tempat pembuangan akhir. 

Beda negara, beda cerita. Di United Kingdom, ada sekitar 25 incinerator untuk mengubah sampah menjadi energi. Di Swedia justru lebih menarik. Swedia juga menerapkan incinerator dalam pengubahan sampah menjadi energi. Namun saking hebatnya Swedia dalam pengelolaan sampah, Swedia kekurangan sampah sehingga mereka mau tak mau mengimpor 800 ton sampah dari negara-negara tetanggganya di Eropa tiap tahun. Faktanya, kurang dari 1% sampah rumah tangga Swedia yang dikirim ke TPA sejak 2011.
Swedia (dok. sweden.se)
Selain dengan metode pembakaran, metode lain yang dapat digunakan untuk menyulap sampah menjadi energi adalah dengan menggunakan penangkapan gas metan. Sayangnya, menurut peneliti dan pakar sampah Sri Bebassari, energi yang dihasilkan dari sampah lewat gas metan jumlahnya lebih sedikit dibandingkan lewat pembakaran, yakni hanya sebesar 0,5 hingga 1 megawatt per 1000 ton sampah. Bandingkan dengan jumlah energi yang dihasilkan lewat pembakaran, yakni 12 megawatt per 1000 ton sampah. Jauh banget kan perbandingannya?

Tidak seperti energi terbarukan lainnya, listrik yang dihasilkan dari sampah sebenarnya bukanlah tujuan utama, melainkan bonus. Tujuan utama adalah untuk meminimalisir atau bahkan menghilangkan jumlah sampah yang ada di bumi. 

Di Jakarta sendiri terdapat 6.270 ton sampah setiap harinya dengan 79% di antaranya diangkut ke TPST Bantar Gebang, Bekasi. Itu setara dengan berat 30 paus biru dewasa. Jika sampah-sampah ini dapat dimaksimalkan dengan baik, betapa banyaknya nilai kebermanfaatan yang dapat dirasakan oleh masyarakat. 
Dengan banyaknya sampah yang ada menjadikan Jakarta sebagai kota potensial dalam perencananaan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau PLTSa. Namun Jakarta bukan satu-satunya. Ada pula 6 kota lain yang direncanakan yakni Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, Solo dan Makassar.

Pada akhirnya kita memang tidak boleh menilai sesuatu dari sisi luarnya saja. Sampah mengajarkan kita untuk memandang sesuatu dari sudut pandang berbeda. Sampah boleh saja bau dan bahkan aromanya tak enak. Kotor dan menjijikkan pula. Namun di balik itu semua, si bau justru dapat memberikan manfaat bagi orang banyak.*** #15HariCeritaEnergi




1. "Bisakah Kita Mengubah Sampah Jadi Energi Listrik?" (Liputan BBC oleh Isyana Artharini) http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160613_majalah_sampah_sumberenergi

2. "Begini Cara Ubah Sampah Jadi Listrik" 
https://m.detik.com/finance/energi/d-3202524/begini-cara-ubah-sampah-jadi-listrik

3. Buku Panduan "Sampah Menjadi Energi" oleh Kementerian Energi Sumber Daya Mineral

4. "Maju dalam Pengelolaan Limbah Swedia Kini Kekurangan Sampah"
http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/10/maju-dalam-pengelolaan-limbah-swedia-kini-kekurangan-sampah

Komentar

  1. Sampah bisa jadi energi? ini mah keren banget ya..soalnya salah satu permasalahan di Indonesia ini adalah pengelolaan sampah yang belum ada solusinya. Kalau sampah sampah kita yang segitu banyaknya jadi energi listrik..alangkah bagusnya ya..semoga bisa diterapkan di seluruh wilayah di Indonesia ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bisa banget kak. Semoga Indonesia bisa benar2 memanfaatkan sampah dalam menghasilkan energi yaa :)

      Hapus
  2. Wah aktual sekali informasinya. Sampah yang ini sangat bermanfaat ya. Asal jangan seperti sampah masyarakat aja ya. Hehehe. kidding :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Iya ternyata di balik sampah yang bau ia membawa manfaat ya

      Hapus
  3. Semoga benar-benar jadi kenyataan. Sampah jadi Energi. Negara ini udah penuh dengan sampah dan belum ada cara terbaik dalam mengolahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak sampah di negara kita sudah banyak. Amin. Semoga nanti ada pengolahannya dengan baik ya

      Hapus
  4. tinggal sampah masyarakat yang tidak berbau yg belum bisa diapa-apakan saja,haha

    BalasHapus

Posting Komentar