Saat Feses Tak Sekadar Kotoran

Sore itu saya berjalan kaki menuju sungai. Selain ingin melihat aktivitas warga, saya juga ingin menyegarkan diri dengan mandi. Jaraknya tidak jauh dari tempat saya tinggal.  Namun untuk mencapai ke sana saya harus melewati alam yang dipenuhi dengan pepohonan. 

Di tengah-tengah perjalanan saya melihat sebuah pemandangan tak biasa. Seorang anak laki-laki tengah berjongkok dengan celana yang  setengah dibuka. Ia berjongkok dekat dengan semak-semak. Seketika saya tahu apa yang sedang ia lakukan: Ia pasti sedang dolbon!

"Kak Valka!" Anak itu menyapa saya.

"Hai XXX (saya menyebut namanya)!" saya menyapanya. Saya lupa apa yang saya bicarakan saat itu namun percakapan berlangsung sebentar. Tak lama setelah itu saya kembali melanjutkan perjalanan ke sungai. Anak itu kemudian menyusul setelahnya.

Sejak pertama kali saya datang ke tempat ini saya mengenal istilah baru, yakni dolbon. Dolbon berasal dari Bahasa Sunda, modol di kebon. Artinya, buang air besar di kebun atau tempat terbuka. Saya sudah tahu lebih dahulu istilah itu namun belum pernah melihat prakteknya secara langsung. Nah, setelah agak berlama-lama berada di sana saya akhirnya menyaksikannya sendiri. Oalaahh, ternyata kayak gitu toh dolbon! 

Kotoran manusia (dok. twitter @Gergous_unko)
Dolbon adalah kebiasaan buruk yang masih banyak dilakukan oleh warga Kampung Cinibung, Desa Kutakarang yang terletak di pelosok Pandeglang, Banten. Keikutsertaan saya dalam Banten Mengajar selama 2 minggu membuka mata saya tentang fenomena sosial yang masih terjadi. 

Rendahnya kesadaran masyarakat akan kesehatan menjadi faktor utama. Minim rumah di sana yang memiliki jamban. Ada WC umum tapi tak dimaksimalkan dengan baik. Bukan berarti mereka tidak mampu atau tak bisa membangun jamban. Masalahnya, soal minat. Sedikit sekali dari mereka yang punya minat untuk memiliki jamban atau berkebiasaan untuk BAB pada tempatnya. Rasanya ketimbang membangun jamban lebih baik uangnya digunakan untuk membeli alat pemancar TV.
Ilustrasi toilet (dok. Independent)
Sebenarnya perihal feses yang tidak dibuang pada tempatnya adalah suatu masalah. Sebab hal itu memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan. Bakteri yang tercemar dapat menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya adalah diare. Namun di sisi lain saya mencoba memandangnya dari perspektif lain. Bagaimana kalau kita menganggap dan menjadikannya sebagai peluang? 

Biasanya kalau kita memasak kita akan menggunakan gas sebagai bahan bakarnya. Bagi sebagian orang justru kayu bakar. Tapi kalau pakai feses sebagai sarana memasak? Enggak pernah terbayang di benak saya memasak menggunakan feses, tapi kenyataannya ada! Inilah yang terjadi di Kenya, sebuah negara di Afrika. Kenya telah menganggap feses sebagai peluang untuk pengembangan energi terbarukan. Saya pikir wah kepikiran saja ya idenya. Ini mah kreatifnya kelewatan!

Feses yang dapat digunakan sebagai bahan bakar dalam memasak bukan feses biasa, melainkan feses yang telah diubah menjadi briket. Briket adalah blok bahan yang dapat dibakar yang digunakan sebagai bahan bakar untum memulai dan mempertahankan api. Biasanya sih briket yang digunakan adalah briket batu, briket bara, briket arang dan briket gambut. Namun berkat inovasi perusahaan Jasa Air dan Sanitasi Nakuru, Kenya, briket pun kini juga ada lho yang terbuat dari kotoran manusia. Briket ini berhasil diproduksi berkat dukungan oleh SNV Netherlands Development Organization dan Uni Eropa.
Briket feses yang berbentuk seperti bola (dok. Kompas TV)
Bagaimana cara pembuatannya? Mula-mula feses dikeringkan. Kemudian feses dikarbonisasi dengan serbuk gergaji dengan suhu 300 derajat celcius atau setara dengan 572 fahrenreit. Setelah selesai feses dibentuk seperti bola-bola. Jeng-jeng... Lalu jadi deh briket dari feses! Kita pun bisa langsung menggunakannya sebagai bahan bakar. Satu kilo briket tinja di Kenya dijual seharga 50 sen, lebih murah daripada arang.

Enggak perlu khawatir akan efek negatif dari feses. Lewat rangkaian proses produksi, bakteri patogen serta bau tak sedap yang terdapat pada feses telah dapat dihilangkan. Jadi, briket yang terbuat dari kotoran manusia aman kok!

Bukan hal mudah mengajak masyarakat Kenya untuk turut mengembangkan dan memakai salah satu energi terbarukan ini. Membayangkannya saja sudah jijik, apalagi menggunakannya? Namun seiring berjalannya waktu akhirnya warga luluh juga. Mereka pun kini mulai akrab dengan bahan bakar yang tak biasa ini.
Banyaknya warga Kenya yang "dolbon" menjadi latar belakang dari kenapa inovasi tersebut diciptakan. Faktanya, dari empat warga Nakuru, Kenya, hanya satu saja yang terhubung ke sistem saluran pembuangan kota. Sisanya sering dibuang di saluran air hujan dan sungai, atau dikubur di daerah berpenghasilan rendah.
Ilustrasi dolbon (dok. stbm-indonesia.org)
Alhasil proyek ini pun dijalankan sembari memegang prinsip "Sambil menyelam minum air". Di samping untuk melindungi lingkungan dan memperbaiki sanitasi, khususnya di daerah miskin, briket feses juga sebenarnya merupakan bagian dari upaya dunia mengembangkan energi terbarukan. Secara tidak langsung hal itu juga berupa penghematan energi fosil yang kian lama kian menyusut. 

Memasak dengan menjadikan tinja sebagai sarana sebenarnya tak hanya terjadi di Kenya, tetapi juga di Indonesia. Bedanya, jika warga Kenya mengubah feses menjadi briket terlebih dahulu sebagai bahan bakar, warga Kediri justru langsung mengubahnya menjadi gas.

Masyarakat Kelurahan Balowerti, Kecamatan Kota, Kediri telah memanfaatkan kotoran manusia sebagai sarana dalam memasak sejak 2004. Inovasi itu terwujud berkat program Pemerintah Kediri. 

Di sana, mereka memasak menggunakan gas "tinja" yang berasal dari 11 toilet khusus di area sanitasi yang setiap hari diisi dengan kotoran manusia pengguna sanitasi. Gas yang terhubung melalui pipa itu mampu mengalir hingga radius 50 meter ke rumah sekitar sanimas atau sanitasi masyarakat. Untuk menggunakan gas tinja, warga membayar sebesar Rp 5000 per kepala keluarga. Hal serupa juga terjadi di pinggiran Kali Besole, Gunung Kidul, Yogyakarta. Warga Gunung Kidul telah memanfaatkan tinja sebagai bahan bakar. Keren ya?

Ilustrasi memasak menggunakan biogas (dok. biru.or.id)
Tinja tak hanya dapat dijadikan sebagai bahan bakar, melainkan juga dapat menjadi listrik. Potensi energi  yang terdapat pada tinja manusia ini pun telah dimaksimalkan oleh Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (www.esdm.go.id). Pada 2015 Kementerian ESDM menggandeng 15 pesantren di seluruh Indonesia dalam menggunakan energi biogas dari tinja manusia untuk pembangkit tenaga listrik. Untuk memproduksi energi tersebut dibutuhkan minimal 500 orang dengan syarat saluran pembuangan tinja tidak boleh dicampur dengan saluran lain. Itu karena jika tercampur dengan yang lain, semisal sabun maka bakteri-bakteri yang menghasilkan gas bisa mati.
 
Jauh sebelum itu, sebenarnya telah ada pesantren yang melakukan pemanfaatan tinja sebagai sumber energi terbarukan. Salah satunya adalah Pesantren Darul Quran yang terletak di Yogyakarta.

Pesantren pun kini memanfaatkan tinja sebagai energi loh! (dok. ceramahmotivasi.com)
Di Darul Quran terdapat teknologi pengolahan limbah kotoran manusia yang diadopsi dari Jerman melalui Bremen Overseas Research and Development Association. Dengan teknologi ini, pondok pesantren henat dalam pembelian bahan bakar hingga 2,5 juta per bulan. Waw!

Di balik rupanya yang kotor dan menjijikan, feses ternyata memiliki potensi energi yang luar biasa. Saya pikir wah boljug (boleh juga) nih kalau  diterapkan di Kampung Cinibung, Desa Kutakarang, Pandeglang! Bukan hanya meminimalisir kebiasaan dolbon namun pemanfaatan feses atau tinja juga dapat memotivasi warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan meningkatkan taraf ekonomi warga. Di Kampung Cinibung, harga untuk gas elpiji dengan berat 3 Kg adalah Rp 35.000 per tabung. Bayangkan kalau mereka bisa memasak dengan bahan bakar dari tinja. Wah, sudah pasti pengeluaran yang mereka keluarkan akan lebih hemat.
Semakin lama orang semakin kreatif ya. Dengan sedikitnya (menurut laporan PBB) 200 juta ton kotoran manusia yang dibuang begitu saja tanpa diproses supaya aman memang sudah selayaknya kita mengambil peluang dari feses. Kini feses tak lagi sekadar kotoran manusia melainkan sumber energi terbarukan yang bernilai ramah lingkungan dan ekonomis. ***#15HariCeritaEnergi





Referensi:

1. "Perusahaan Kenya Ciptakan Bahan Bakar dari Kotoran Manusia"
https://www.voaindonesia.com/a/bahan-bakar-dari-kotoran-manusia/3989212.html

2. Sapa Indonesia Pagi Kompas TV: "Ternyata Bahan Bakar Briket ini Terbuat dari Kotoran Manusia"
http://tv.kompas.com/read/2017/08/10/0c551502345409109a1455/ternyata.bahan.bakar.briket.ini.terbuat.dari.kotoran.manusia

3. "Pesantren Manfaatkan Tinja untuk Pembangkit Listrik Biogas"
https://m.tempo.co/read/news/2015/06/14/090674835/pesantren-manfaatkan-tinja-untuk-pembangkit-listrik-biogas

4. "Tak Ada Elpiji, Tinja pun Jadi"
https://m.tempo.co/read/news/2014/09/16/061607275/tak-ada-elpiji-tinja-pun-jadi

5. "Biogas Kotoran Manusia Terus Dikembangkan"
http://sains.kompas.com/read/2009/11/01/20535377/biogas.kotoran.manusia.terus.dikembangkan

Komentar

  1. itu kan bisa mengeluarkan gas metana banyak hehe
    btw dulu aku juga suka melakukan di kebon
    pake batu bata -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi sekarang udah enggak lagi kan? wkwk

      Hapus
  2. Wiihhhh...Keren yak..tinja bisa dipakai jadi alternatif energi ya...wah..Val..yuk ke cinibung lagi. Kita bikin sumber energi dari eong nya orang Cinibung. Daripada hanya dibuang di Kali sama di kebon Kan sayang banget yaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tul bangets. Daripada dibuang gitu aja mending eong (tinja)nya dimanfaatkan :D

      Hapus

Posting Komentar