Nyepi, Tentang Kearifan Lokal dan Konservasi Energi

Nyepi, Day of Silence (Sumber: Bali Travel Newspaper)

Salah satu yang membuat saya bangga menjadi orang Indonesia adalah karena Indonesia begitu kaya akan budaya. Setiap daerah, dari Sabang sampai Merauke memiliki budaya yang berbeda-beda. Bahkan tak sekadar identitas semata melainkan terselip nilai-nilai yang sejalan dengan perkembangan zaman, seakan-akan bisa meramal dan tahu akan apa yang dihadapi oleh manusia di kemudian hari. Di titik ini saya berpikir, "Kok bisa, ya?"

Jauh sebelum ada upaya konservasi energi oleh negara-negara di dunia kepada rakyatnya berupa kegiatan  himbauan untuk mematikan lampu jika tidak terpakai, tidak membiarkan alat elektronik jika tidak terpakai dan sebagainya, rakyat Bali terutama yang beragama Hindu telah melakukannya sejak lama. Nyepi adalah kearifan lokal yang bercerita tentang konservasi energi. Di samping menjalankan tradisi dan perintah agama, lewat nyepi mereka juga seakan berpandangan ke depan dalam mengantisipasi akan terjadinya berkurangnya energi.

Nyepi merupakan perayaan umat Hindu Bali yang telah dijadikan sebagai hari libur nasional. Nyepi diadakan pada Tahun Baru Saka. Bagi saya ini unik sekali. Kenapa? Sebab jika biasanya berbagai budaya di dunia menyambut tahun baru dengan kemeriahan, nyepi justru sebaliknya. Sesuai asal-usul kata "nyepi" yang bermakna "tetap hening", hari raya nyepi dirayakan dengan keheningan. Nyepi diadakan selama enam hari. Pada malam di hari kedua diadakan tradisi berupa arakan ogoh-ogoh. Lalu pada hari ketiga seluruh pulau Bali yang biasanya ramai menjadi sunyi. Keheningan itu berlangsung selama 24 jam penuh, dimulai dari fajar menyingising sampai fajar menyingsing kembali.

Tak sekadar hening, rakyat Bali yang merayakannya juga melakukan pengendalian diri atau catur berata yang terdiri dari empat jenis. Keempat catur berata tersebut adalah tidak menyalakan api (amatigeni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan) serta puasa dari segala hiburan (amati lelanguan). Intinya, nyepi adalah bentuk  sarana pengendalian diri dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Dikutip dari website Bali.com, untuk mendukung perayaan nyepi, semua hotel di Bali diminta menutupi jendela. Toko-toko, restoran dan pusat perbelanjaan pun tutup. Cahaya atau lilin tidak boleh dinyalakan di rumah-rumah sehingga saat malam hari, Bali akan menjadi gelap karena masyarakat tidak menyalakan lampu. Tidak ada pula mobil, motor dan orang-orang yang berlalu lalang. Bali terkenal dengan wisata pantainya. Namun saat nyepi, semua pantai ditutup. Di dalam rumah pun para penduduk harus memastikan semua peralatan yang bersuara dikecilkan. Semua tirai juga harus diturunkan saat hari berubah menuju senja. Supaya perayaan nyepi berjalan lancar, para pecalang alias polisi nyepi ditugaskan di seluruh pulau. Meski begitu tidak semua dipadamkan. Berbagai objek penting seperti rumah sakit, lapas atau rumah tahanan (rutan) serta markas TNI dan polri tidak dipadamkan. 

Saat perayaan nyepi, berbagai penyiaran seperti televisi dan radio yang memiliki pemancar di Bali akan libur siaran terlebih dahulu selama satu hari penuh. Hal ini sesuai dengan aturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Provinsi Bali. Tak hanya KPI, tata aturan ini juga disepakati oleh pemerintah daerah, lembaga penyiaran dan pihak terkait. 2007 menjadi tahun pertama aturan ini diterapkan di Bali. 

Terus apa kaitannya dengan hemat energi? Tentu saja ada. Tidak beraktivitasnya seperti biasa masyarakat Bali selama sehari penuh secara tidak langsung menghemat pemakaian energi karena energi yang seharusnya terpakai seperti biasa akan disimpan.

Pada  2013 pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang pengelolaan energi nasional. Kebijakan itu tertuang dalam bentuk Keputusan Menteri No.4051 K/07/MEM/2013 tentang Catur Dharma Energi. Isi dari Kepmen adalah sebagai berikut: (1) meningkatkan produksi minyak dan gas bumi; (2) mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM); (3) mengembangkan energi baru terbarukan; dan (4) hemat energi. Nah, coba deh perhatikan poin keempat. Poin keempat dari kepmen sangat selaras sekali dengan nyepi lho!

IGN Wiratmaja Puja, staf ahli menteri ESDM dan guru besar Institut Teknologi Bandung lewat tulisannya yang dimuat di detik.com menjelaskan bahwa lewat nyepi terjadi penghematan energi yang sangat banyak saat nyepi. Hal itu dikarenakan pada nyepi terjadi penurunan konsumsi listrik dan bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Bukankah pada nyepi orang "menyepi" di dalam rumah? Penggunaan listrik sehari sebelum Nyepi sih sedikit meningkat tapi pada hari Nyepi konsumsi listrik tersebut justru menurun drastis. Alhasil rata-rata penurunan penggunaan listrik adalah 50% atau sebesar 340 MW. Tahukah kamu? Hebatnya, ini setara dengan menghemat devisa untuk BBM sebesar 1,5 juta liter atau setara dengan Rp 15 miliar lho! Wow! 

Menurut sumber dari majalah ESDM MAG tahun 2012, PLN juga dapat berhemat biaya subsidi listrik sekitar Rp 4 miliar selama Nyepi. Devisa pun hemat sebanyak Rp 52 milyar karena terjadinya penghematan BBM selama 24 jam. 
Nyepi, salah satu kegiatan massal untuk menghemat energi (Sumber: Hipwee)

Tak hanya pengurangan konsumsi listrik, nyepi juga berdampak pada  pengurangan polusi dari emisi gas karbondioksida (CO2) ke udara. Pembakaran BBM per liter akanmenghasilkan gas CO2 sebesar 2,7 kg, sedangkan pembakaran LPG per 1 kilogram akan menghasilkan 3 kg gas CO2. Nah, selama hari Nyepi, terjadi penurunan 23,9 ribu ton emisi gas karbondioksida. Mantap!

Nyepi menjadi bukti bahwa kearifan lokal bisa bersinergi dengan hemat energi. Itu baru dari Bali saja. Indonesia memiliki kearifan lokal yang sangat kaya dan beragam. Saya membayangkan kalau daerah-daerah lain menerapkan kearifan lokalnya masing-masing dan diselaraskan dengan penghematan energi atau meniru konsep nyepi dalam konservasi energi, pasti dampaknya akan sangat luar biasa. 

***Buat kamu yang ingin tahu lebih banyak lagi tentang konservasi energi bisa cek di website www.esdm.go.id ya. #15HariCeritaEnergi

Referensi:

1. "Nyepi"
https://www.bali.com/id/nyepi.html

2. "Hari Nyepi dan Gerakan Hemat Energi"
https://m.detik.com/news/kolom/254078
1/hari-nyepi-dan-gerakan-hemat-energi

3. "Nyepi, Listrik di Bali Hemat Empat Miliar"

http://prokum.esdm.go.id/ESDMMAG/ESDM%20Edisi%202.pdf 


4. Rayakan 2015, Bali Hemat Energi Listrik Cukup Tinggi

http://www.greeners.co/berita/rayakan-nyepi-2015-bali-hemat-energi-listrik-cukup-tinggi/

Komentar

  1. Nyepi tidak hanya sebagai har li Raya ya. Nyepi juga menjadi salah satu alternative terbaik dalam menghemat energi. Kalau bahasa kerennya nyepi itu ya earth hour ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kearifan lokal Indonesia memang gak ada duanya ya :D

      Hapus
  2. Sukak banget sama tulisan Valka belakangan ini, salah saya sih baru nengok, hehehe.. Tapi emang baru liat share nya.

    Dan, masalah nyepi ini emang menarik bgt, baca tulisan ini makin pengen ke Bali pas nyepi, tapi gak berani, takut salah dan menggangu malahan. Hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah dikomen sama blogger hitz. Thanks mas Aris udah komen. Samaaa, pengen ngerasain gimana "nyepi" pas di sana deh hoho.

      Hapus

Posting Komentar