Matahari, Sebuah Harapan dalam Energi Terbarukan

Beruntunglah kita menjadi penduduk negara tropis. Hal itu karena untuk mendapatkan guyuran sinar matahari di negeri ini sangatlah mudah. Bandingkan dengan negara-negara yang beriklim subtropis, sedang atau bahkan kutub seperti Jepang, Inggris, Rusia hingga Kanada. Tentu mereka juga mendapat siraman sinar matahari di negaranya. Namun intensitasnya tidak sebanyak kita sebagai penduduk negara tropis. 

Keuntungan sebagai penduduk negara tropis tidak semata membuat kita menjadi lebih sehat karena lebih mudah mengaktifkan vitamin D berkat terpapar sinar matahari, tetapi juga membuka potensi lebih besar dalam mengembangkan energi terbarukan. Dengan bantuan sinar matahari, manusia mampu membuat energi listrik dan asyiknya, berbeda dengan energi fosil yang kian lama kian menyusut jumlahnya, sinar matahari tidak pernah habis.

Matahari (dok 8tracks.com)
Namun penggunaan sinar matahari sebagai salah satu sumber energi terbarukan tidak bisa dilakukan begitu saja. Untuk dapat memanfaatkannya, kita perlu media yang bernama panel surya. Dengan panel surya, cahaya matahari akan diserap untuk kemudian diubah menjadi listrik. Panel surya juga sering disebut dengan istilah "sel photovoltaic"

Berbagai negara di dunia berlomba-lomba dalam mengembangkan dan memanfaatkan sinar matahari. Semakin hari ada saja inovasi yang ditawarkan.

Di Austria, ada sebuah panel surya berteknologi mutakhir bernama Smartflower. Sesuai namanya, panel surya ini berbentuk seperti bunga dan bersifat portable. Menariknya, Smartflower terinspirasi dari bunga. Ia dapat bergerak mengikuti cahaya matahari sebagaimana bunga matahari pada umumnya.

cantik ya bentuknya? :D (dok. curbed.com)
Sistem kelopak pada teknologi tersebut dapat melacak jalur matahari sepanjang hari. Jadi saat matahari terbit pada pagi, Smartflower otomatis terbentang. Setelah itu Smartflower mulai memproduksi energi yanng pengaturannya terdapat pada kelopaknya pada sudut 90 derajat.

Bagaimana saat malam hari? Saat malam hari Smartflower ternyata kembali tidur. Hihi, lucu ya. Kelopaknya akan terlipat. Begitu pun jika ada angin kencang yang membuatnya tidak aman dalam bekerja. Canggihnya, terdapat teknologi GPS pada panel surya ini. Terdapat pula pendingin dan pembersih sistem dengan kuas belakang masing-masing panel setiap kali unit terlipat dan terbentang. Smartflower dapat dipasang di setiap ruangh terbuka dan kita dapat menarik dayanya hanya dengan mencolokkan kabel. Dibanding panel surya konvensional, Smartflower diklaim mampu memproduksi energi 40 persen lebih banyak. 

Selain Smartflower, ada pula Smartflower Plus, model yang lebih besar. Sesuai namanya "plus", kelebihan Smartflower Plus adalah adanya sistem penyimpanan baterai terintergrasi yang memungkinkan kita menyimpan energi ketika kita membutuhkannya. Pada pertengahan April 2017, panel surya ini telah dikirim ke Amerika Serikat dan 1000 unit telah dipasang di seluruh Eropa. Wah, keren ya!

Beda Austria, beda pula dengan Tiongkok. Tahukah kamu? Ternyata negeri panda ini telah mengembangkan panel surya dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya tepatnya di wilayah Datong, Tiongkok. Luasnya? Jangan kaget ya, hampir 250 hektar! Wiiiih!

Oh ya, bukan sekadar pembangkit tenaga listrik, pembangkit tenaga listrik yang diciptakan Tiongkok ini unyu loh! Soalnya bentuknya dibangun menyerupai panda raksasa!
Emesh-emesh gimana gitu (dok. The Independent)
Tiongkok tidak hanya membuat satu pembangkit saja tetapi juga dua. Tahap pertama terdapat pembangkit 50 MW dan telah rampung pada 30 Juni 2017.  Nah, proyek panda yang kedua baru akan selesai dan mulai disalurkan pada akhir 2017 dengan total luas hamparan panel sebanyak 248 hektar atau hampir 250 hektar. 

Menurut China Merchants New Energy Group (CMNEG), salah satu operator energi terbarukan ini, "panda raksasa" ini mampu menghasilkan 3,2 miliar kilowat per jam energi surya dalam waktu 25 tahun. "Panda raksasa" ini juga mampu menggantikan jutaan ton batu bara dan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 2,74 ton! Weleh, weleh, luar biasa ya!

Gencarnya Tiongkok dalam mengembangkan panel surya menjadikan Tiongkok menjadi negara dengan produsen energi surya terbesar di dunia. Pada 2016, Tiongkok tercatat telah mampu memproduksi energi solar dengan kapasitas sebesar 34,54 gigawatt dengan provinsi paling besar merasakan kebermanfaatan adalah Shandong, Henan dan Xinjiang.

Kalau tadi di luar negeri, bagaimana dengan Indonesia? 

Kita patut bersyukur nih guys! Presiden Jokowi telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang pemasangan panel surya untuk daerah terpencil loh!

Isi dari perpres itu adalah pemerintah akan mengaliri listrik berteknologi panel surya untuk 2.500 desa terpencil di Indonesia! Bayangin geng, 2.500 desa! Banyak banget kan :D

(dok. Kompas.com)
Kata Pak Jonan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) (website KESDM: www.esdm.go.id), pemasangan panel surya ini merupakan tindak lanjut pemerintah atas pencabutan subsidi listrik untuk pelanggan golongan 900 volt ampere (VA). Dengan kata lain, anggaran subsidinya dialhikan untuk pemasangan panel surya di daerah terpencil yang belum terjangkau oleh listrik.

Faktanya, sejauh ini masih ada 10.000 desa atau setara dengan 15 juta masyarakat di Tanah Air yang belum menikmati listrik. Oleh karena itulah program panel surya untuk 2.500 desa dicanangkan. Nah, setiap dua rumah tangga nanti akan mendapatkan satu panel surya yang dapat dimanfaatkan bersama-sama. Targetnya, program ini dapat benar-benar dapat selesai terealisasi 2019 atau 2020.

Tak hanya desa, pemerintah melalui Kementerian ESDM juga memiliki program berupa pemasangan panel-panel surya di pulau-pulau 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Target akan terpasang 100.000 panel surya pada 2017 dan 255.250 panel surya di pulau-pulau 3T pada 2018. Untuk mensukseskan program itu, pemerintah juga akan mengoptimalkan potensi sumber energi setempat.

Wah, ternyata sinar matahari yang selama ini kita temui setiap hari membawa banyak manfaat dalam kehidupan ya. Setiap negara berlomba-lomba dalam memaksimalkan keberadaannya. Tak sekadar menyinari, matahari juga adalah sebuah harapan dalam energi terbarukan. #15HariCeritaEnergi

Referensi:

http://properti.kompas.com/read/2017/04/12/134547321/panel.surya.berbentuk.bunga.bekerja.mengikuti.gerak.matahari

http://internasional.kompas.com/read/2017/07/08/16292431/china.bangun.250.ha.tenaga.surya.serupa.panda.raksasa

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/04/11/125713726/2.500.desa.akan.menikmati.listrik.berteknologi.panel.surya

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/08/06/170000626/jonan-target-pasang-255.250-panel-surya-di-pulau-pulau-terluar

Komentar

  1. Wah... matahari merupakan sumber energi yang luar biasa ya, dengan adanya konversi energi listrik dari cahaya matahari Kita tak khawatir lagi ya kekurangan listrik. Terutama bagi daerah terpencil yang masih sulit di jangkau ya..top bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga program panel surya di Indonesia berjalan lancar ya kaa

      Hapus
  2. Semoga masyarakat Indonesia yg ada di daerah terpencil bisa menikmati listrik juga yaa..

    Panel yang ada di China dan Austria itu qo keren banged yahh.. Semoga Indonesia juga bisa buat yang lebih keren lagi..

    TFS Mas Valka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, keren banget. Jadi ngiri deh. Semoga nanti Indonesia bisa sekeren Cina ya. Tapi apa ya nanti bentuknya? Komodo mungkin? Wkwk

      Hapus
  3. Terima kasih Noval atas infonya. Bermanfaat sekali

    BalasHapus
  4. Yup bener banget. Kita beruntung bisa menikmati matahari sepanjang tahun yang potensi energinya bahkan bisa bisa dioptimalkan melalui pengadaan listrik berteknologi panel surya ke desa-desa terpencil di Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, semoga dapat dioptimalkan dengan baik ya mbak :)

      Hapus

Posting Komentar