Tupai dan Kelinci

(dok. http://www.warrenphotographic.co.uk/)
Beberapa hari yang lalu saya ngajarin murid privat saya yang sudah kelas 3 SMP dengan cara membahas soal-soal prediksi UN yg ada di buku soal UN. Dari 50 soal, ada satu nomor yang menarik perhatian saya. Soal itu bentuknya cerita fabel. Lupa sih judulnya apa tapi ceritanya jleb banget. Saya suka banget. Alurnya sih sederhana cuman pesannya bermakna. Biar gampang saya ceritain pake bahasa sendiri aja ya :3

Ceritanya tentang dua ekor binatang: tupai dan kelinci. Mereka merupakan sepasang sahabat. Mereka tuh deket banget. Kemana-mana selalu bersama. Saking dekatnya, mereka pun berjanji satu sama lain untuk tidak akan meninggalkan satu sama lain jika terjadi bahaya.

Persahabatan mereka begitu indah. Sampai akhirnya suatu hari seekor singa melihat mereka berdua di tengah hutan. "Sial! Ada singa!", pikir mereka. Mereka seketika takut karena singa suka memakan binatang lainnya. Akhirnya mereka mencari cara agar terhindar dari terkaman si singa.

Si tupai melihat pohon di sekitarnya. Ia pun kabur dengan cara memanjat  ke atasnya. Si kelinci juga hendak melarikan diri. Tapi bingung. Ia telah mencoba untuk memanjat pohon seperti tupai tapi gagal karena kelinci tak bisa memanjat pohon. Si singa makin dekat. Tak ada cara lain, akhirnya si kelinci pura-pura mati.

Suasana kian mencekam. Tak lama kemudian si singa mendekati si kelinci. Si kelinci deg-degan, begitu pun si tupai. Apakah si kelinci akan dimakan? Si kelinci harap-harap cemas. Si singa tampak hendak menerkam si kelinci. Ia membuka mulutnya lalu mendekatkannya  ke telinga kelinci. Hanya sebentar lalu pergi begitu saja. Ternyata singa tidak tertarik untuk makan binatang mati.

Suasana yg smula tegang kini mencair. Merasa aman, si tupai turun dari atas pohon. Lalu menghampiri si kelinci yang baru saja bangun dari aktingnya. Si tupai bertanya kepada si kelinci, "Apakah telingamu baik2 saja? Apa yg ia lakukan terhadap telingamu?" Si kelinci menjawab, "Si singa berbisik di telingaku. Katanya, kamu memilih teman yang salah."

Komentar