No Matter Whatever People Say


NO MATTER WHATEVER PEOPLE SAY

       Yang namanya hidup tak terlepas dari pro-kontra. Mau kita benar, mau kita salah, pasti ada yang setuju ada juga yang enggak setuju. Meski begitu pro-kontra bukan menjadi hambatan bagi kita untuk terus menjalankah hidup.
Rata-rata orang memandang suatu masalah dari sudut pandang mereka sendiri. Seorang mahasiswa jurusan teknik akan beranggapan bahwa jurusan teknik itu terbaik jika dibandingkan dengan jurusan lain. Begitu pula dengan jurusan kedokteran, mereka beranggapan bahwa masuk ke jurusan kedokteran adalah jurusan yang prestisius. Nyatanya, setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda dan tidak akan bisa disamakan. Namun sayangnya, tak jarang perbedaan ini dijadikan sebagai ‘ajang’ untuk menjatuhkan satu sama lain.
Kalau kata orang bahwa “Hidup adalah pilihan”, adalah benar. Bahkan ketika kita masih kecil pun kita sudah dihadapkan dengan pilihan yang membuat kita menjadi lebih maju dan berkembang. Bayangkan, apa jadinya jika seorang bayi yang belum bisa berjalan tidak memilih belajar ‘merangkak’ agar ia bisa berjalan? Tentu, jika ia tak menentukan ‘pilihan’, seorang bayi tak akan bisa berjalan. 
Kemudian pilihan pun beranjak tingkatannya sesuai dengan fase kehidupan yang kita alami. Ketika kita lulus SD, kita juga dihadapkan dengan pilihan. Kita mau masuk apa? Apakah SMP atau sekolah berbasis agama seperti MTs? SMP/MTsnya lalu dimana?
Setelah lulus SMP, lagi-lagi kita juga dihadapkan dengan pilihan : Masuk SMA, SMK atau sekolah berbasis agama seperti MA? SMA/SMKnya apa? Jika sudah terpilih, apa jurusan yang hendak kita pilih? Jika SMK, apakah jurusan yang kita ambil itu berupa akuntansi, aplikasi penjualan atau justru sekretaris? Jika SMA, apakah jurusan yang kita ambil itu berupa IPA, IPS atau justru Bahasa?
Bahkan pilihan pun juga masih ada sekalipun kita sudah lulus SMA. Setelah lulus SMA, apakah kita bekerja terlebih dahulu, kuliah, atau justru menikah? Kalau kuliah, mau kuliah dimana dan jurusan apa? Kalau bekerja, mau bekerja di bidang apa? Kalau menikah, mau menikah dengan siapa? Dan begitu pula seterusnya.
Nothing impossible to choose. But don't think possible to not choose.
Sayangnya, meskipun hidup adalah pilihan dan kita berhak memilih, ada saja orang yang beranggapan miring tentang pilihan-pilihan kita. Seolah-olah anggapan mereka adalah benar dan apa yang kita pilih adalah salah.
Ketika saya memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu ketimbang kuliah, banyak ucapan disana-sini.
“Ngapain kerja? Sayang-sayang Val. Mending lo kuliah!”
Di sisi lain ketika saya menyampaikan keinginan saya untuk kuliah di tahun depan (2012), ucapan negatif juga turut terdengar.
“Mending langsung kerja aja. Kuliah ngabis-ngabisin duit doang!
Hidup ribet banget ya?
Kita memang perlu menyaring-nyaring segala pendapat yang ada selama itu adalah yang terbaik bagi kita. Tapi bukan berarti kita harus selamanya mengikuti pendapat orang lain. Kita tidak harus sama dengan mereka. Selama kita yakin itu yang terbaik bagi kita, meski ada beribu komentar negatif, untuk apa dipedulikan? No matter whatever people say. Sebab I am I. You are you. We are we. Unfortunetaly, we are different! Kita adalah kita. Dia adalah dia. Dan mereka adalah mereka. Selalu mengikuti what people say alias apa kata orang sama saja dengan mengexplor kebudayaan Indonesia, enggak akan ada habisnya! Dijamin!
Saya enggak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ada tukang siomay berkata kepada tukang cilok, “Ngapain jadi tukang cilok?  Mending jadi tukang siomay kayak gue!”
Beberapa hari kemudian “jeng… jeng..” dengan sekejap si tukang cilok yang dulunya jualan cilok kini berganti profesi!
Yee!! Aku jadi tukang siomay! 

Belum lama menjalani profesi baru, tiba-tiba saja si tukang siomay bosan. Ternyata apa yang dikatakan si tukang siomay tidak terbukti. Katanya menjadi tukang siomay bisa mengubah nasib, tapi kenapa hasilnya sama saja?, pikir si tukang siomay. Sampai pada akhirnya si tukang siomay bertemu dengan power ranger, pilihan itu pun datang lagi.
Power ranger berkata, “Hari gene masih jadi tukang siomay? Masih jaman? Mending kayak gue jadi power ranger! Selain terkenal, lo juga bakal dapet duit banyak. Lihat gue, gue terkenal dimana-mana gara-gara gue menjadi power ranger!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan, “Power ranger!! Tolong aku!”
“Suara apa itu? Aha, tampaknya ada yang meminta tolong. Sorry ye coy, gue tinggal dulu. Ada orang yang membutuhkan gue saat ini. Dadah! Udah, gak usah pusing, ikuti audisi jadi power ranger aja!” Kata si power ranger sembari menyerahkan brosur audisi. Dengan sekejap si power ranger hilang dari pandangannya.
Setelah berpikir-pikir terlebih dahulu, si tukang siomay pun merasa tertarik untuk menjadi power ranger. Akhirnya setelah melalui proses audisi yang begitu panjang, dang ding dong… si tukang siomay pun berganti profesi. Kini ia menjadi power ranger!
Kamukah the next power ranger? Ayo datang dan ikuti audisinya di kota-kota anda! 

Mulanya ia tidak mengalami kendala sama sekali selama menjadi power ranger. Tugasnya untuk membantu sesama manusia, hewan, tumbuhan dan bahkan lumut-lumutan pun dapat ia lakukan dengan baik. Namun setelah beberapa lama ia menjalani profesi itu, tiba-tiba saja ia merasa bahwa ia merasa tidak cocok untuk menjalankan profesinya tersebut. Ia galau sampai pada akhirnya ia bertemu dengan tukang cilok yang kaya raya. 
Namun tukang cilok itu menyentak dirinya dengan perkataan, “Ngapain lo mengambil pilihan yang gak sesuai dengan hati nurani lo? Kita memang tidak selamanya harus ada di zona nyaman. Tapi kalo itu bukan kata hati lo, ngapain lo turutin? Gue udah 16 tahun lima bulan dua hari sejam jadi tukang cilok fine-fine aja. Banyak yang ngasih saran ke gue  untuk jadi ini, jadi itu. Tapi karena itu bukan kata hati gue, ngapain gue ikutin? Gue pun sekarang bisa kaya hanya gara-gara cilok! Udah, mending lo kembali deh jadi tukang cilok!”
Mendengar cerita si tukang cilok, si power ranger pun kembali berpikir. Iya juga ya, pikirnya. Singkat cerita, akhirnya si power ranger pun insyaf. Melalui bantuan si tukang cilok yang ditemui di jalan, si power ranger pun  kembali ke jalan yang benar. Kini ia berprofesi seperti semula sebagaitukang cilok. Seperti yang terlihat di bawah ini :

Cilok!! I'm coming!! >O<
Telinga memang berfungsi untuk mendengar. Tapi bukan berarti juga selamanya kita harus membuka telinga kita. Ada saatnya kita untuk membuka telinga lebar-lebar, ada saatnya bagi kita untuk membuka telinga setengah bahkan ada saatnya bagi kita untuk menutup telinga rapat-rapat, tergantung dari situasinya seperti apa. Kita memang perlu memperhatikan dan memfilter apa-apa saja yang orang bicarakan tentang diri kita. Sebab adakalanya mereka mempunyai pendapat yang lebih cemerlang ketimbang kita. 
Tapi… kita juga perlu punya “PRINSIP” dalam menjalani hidup dengan tidak terlalu mempedulikan apa kata orang. Seperti yang saya katakan sebelumnya, mengikuti pendapat orang, tidak akan ada habisnya!
Saya kurang sependapat jika ada orang yang berprinsip, “biarlah hidup seperti air”. Saya berpikir karena hidup tidak selamanya harus seperti air mengalir. Hidup lebih indah dengan dinamika dan kita tidak selamanya harus seperti daun yang tertiup oleh angin.  Bagus kalau airnya mengalir tenang dan mengarah ke sungai. Tapi kalau airnya mengalir ke got atau tiba-tiba airnya membuat rusak lingkungan sekitar, apa masih mau kita menjalani hidup seperti air mengalir? Dan kini kamu sudah tahu jawabannya*

Komentar

  1. Setuju banget ane dengan artikel yang satu ini. Dalam hidup kita memang harus punya prinsip dan jangan terlalu terpengaruh oleh omongan orang lain, justru buatlah omongan orang-orang itu sebagai motivasi dan buktikan apa yang selama ini mereka ragukan dari kita adalah salah :D

    BalasHapus
  2. Widih.. mangstap dah komenannya gan (Y)
    Yupz, that's right!

    Yap! Soalnya kalo kita menjalankan kehidupan berdasarkan pilihan orang lain alias 'ikut-ikutan', pas kita gagal kita akan nyalahin 'orang lain'. Gue begini karena gue dengerin omongan mereka! Akhirnya kita jadi kurang bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.

    Sebaliknya... kalo kita menjalankan kehidupan berdasarkan pilihan sendiri, pas kita gagal, kita akan lebih bertanggung jawab atas apa yang kita pilih dan gak akan nyalahin 'orang lain'. :DDD

    *edisi bijak*

    BalasHapus

Posting Komentar